Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Wakaf di Aceh, Tradisi, Inovasi dan Keberkahan


Angka pengangguran di Aceh masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Setiap tahun, ribuan mahasiswa menyelesaikan pendidikan di berbagai perguruan tinggi dan membawa pulang ijazah sarjana. Wisuda menjadi momentum yang membahagiakan. Pemakaian toga, nama yang disebut saat pengukuhan, hingga predikat cum laude menjadi kebanggaan bagi mahasiswa dan orang tua.

Namun, setelah masa bahagia itu berlalu, persoalan baru muncul. Ijazah yang diperoleh dengan susah payah tidak selalu berbanding lurus dengan kesempatan mendapatkan pekerjaan. Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi akhirnya menjadi pengangguran karena lapangan kerja yang tersedia sangat terbatas.

Ijazah pun hanya menjadi dokumen yang tersimpan rapi. Ilmu yang diperoleh selama bertahun-tahun tidak selalu dapat dikembangkan karena tidak tersedianya ruang untuk mengaplikasikannya. Gelar sarjana akhirnya hanya menjadi identitas akademik, bukan jaminan masa depan.

Fenomena ini  sekarang menjadi salah satu persoalan di Aceh; jumlah lulusan terus bertambah, tetapi lapangan kerja tidak tumbuh sebanding.

Pimpinan Redaksi Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya, menyampaikan dalam Perbincangan Sabtu Pagi di Radio Baiturrahman, 29 Agustus 2026. Menurutnya, Aceh menghadapi persoalan serius karena banyak lulusan pendidikan yang tidak terserap oleh dunia kerja formal.

Lapangan Kerja Tidak Seimbang

Kita dapat melihat ribuan mahasiswa yang setiap tahun menyelesaikan pendidikan, baik pada jenjang menengah maupun perguruan tinggi. Namun, setelah menyelesaikan pendidikan, terutama bagi lulusan perguruan tinggi, lapangan kerja formal yang tersedia masih sangat terbatas.

Akibatnya, banyak lulusan yang tidak terserap di dunia kerja formal kemudian beralih ke sektor informal. Mereka bertani, beternak, berkebun, berdagang, membuka usaha kecil, atau melakukan berbagai pekerjaan lain untuk mempertahankan kehidupan.

Pilihan tersebut tentu bukan sesuatu yang buruk. Justru kemampuan menciptakan pekerjaan sendiri merupakan bentuk kemandirian. Persoalannya adalah ketika seseorang telah menempuh pendidikan bertahun-tahun tetapi tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensi yang diperolehnya.

Di sisi lain, berbagai anggaran pembangunan yang dialokasikan ke Aceh belum sepenuhnya diarahkan untuk menciptakan investasi dan lapangan kerja baru. Anggaran pembangunan lebih banyak terserap untuk pembangunan infrastruktur.

Infrastruktur memang penting, tetapi pembangunan fisik semestinya berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Jika tidak, pembangunan infrastruktur belum tentu mampu menjawab persoalan kemiskinan dan pengangguran yang dihadapi masyarakat.

Pengangguran Intelektual

Berdasarkan rilis pada pertengahan Agustus 2026, angka pengangguran di Aceh mencapai sekitar 157 ribu orang. Angka tersebut tentu tidak kecil dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.

Persoalan ini bukan hanya tentang tidak tersedianya pekerjaan. Lebih jauh, kita perlu bertanya, apakah sistem pendidikan kita sudah benar-benar menyiapkan lulusan yang dibutuhkan dunia kerja?

Pendidikan semestinya tidak sekadar menghasilkan orang yang memiliki ijazah, tetapi juga melahirkan pembelajar yang mampu terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya.

Perguruan tinggi di Aceh perlu melakukan evaluasi terhadap relevansi pendidikan dengan perkembangan dunia kerja. Dunia industri saat ini membutuhkan teknisi, tenaga profesional, ahli digital, tenaga kreatif, serta berbagai keahlian spesifik lainnya.

Jika lulusan yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, maka akan muncul kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia pekerjaan. Pada titik ini fenomena yang sering disebut sebagai pengangguran intelektual dapat terjadi.

Persaingan Menjadi ASN

Salah satu pilihan yang masih banyak menjadi tujuan lulusan perguruan tinggi adalah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun, formasi yang tersedia setiap tahun tentu terbatas. Ribuan lulusan harus bersaing untuk mendapatkan jumlah posisi yang relatif kecil.

Persaingan tersebut tidak hanya membutuhkan kecerdasan dan keterampilan, tetapi juga kesiapan finansial, mental, pengalaman, serta kemampuan menghadapi proses seleksi.

Ketika hanya sebagian kecil yang diterima, sebagian besar lainnya harus kembali mencari alternatif pekerjaan. Tidak sedikit yang kemudian mengalami kekecewaan karena cita-cita yang dibangun sejak awal kuliah tidak segera terwujud.

Karena itu, orientasi lulusan terhadap pekerjaan perlu diperluas. Masa depan tidak semestinya hanya dibayangkan melalui jalur ASN.

Perguruan Tinggi Harus Membaca Kebutuhan Pasar

Dr. Yusri Kasim, SE, M.Si, penceramah utama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan penulis buku Aceh dan Ketabahan Sosial (Pelajaran dari Daerah Pasca Konflik), menilai masih terdapat anggapan di Aceh bahwa kuliah harus memilih jurusan-jurusan favorit.

Padahal, memilih jurusan semata-mata berdasarkan popularitas dapat menimbulkan persoalan baru. Ketika terlalu banyak mahasiswa memilih bidang yang sama, terjadi penumpukan lulusan pada sektor tertentu. Jurusan yang dianggap bergengsi akhirnya belum tentu menjadi jurusan yang paling dibutuhkan dunia kerja.

Karena itu, pilihan pendidikan seharusnya mempertimbangkan potensi diri, kebutuhan pasar, perkembangan teknologi, dan peluang ekonomi yang akan berkembang dalam beberapa tahun mendatang.

Perguruan tinggi perlu membangun hubungan yang lebih kuat dengan dunia usaha dan dunia industri. Kurikulum tidak boleh hanya berorientasi pada teori, tetapi harus memberikan ruang yang cukup bagi praktik dan pengalaman profesional.

Sebagai contoh, apabila Aceh memiliki peluang investasi di sektor migas dan industri maritim, maka perguruan tinggi mestinya mampu menyiapkan tenaga kerja dengan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri tersebut.

Keahlian seperti pengelasan bawah laut, misalnya, merupakan kompetensi khusus yang membutuhkan pendidikan, pelatihan, sertifikasi, dan fasilitas yang memadai. Jika keahlian tersebut tidak tersedia di Aceh, perusahaan akan mencari tenaga kerja dari luar daerah.

Persoalannya bukan karena orang Aceh tidak mampu, tetapi karena sistem pendidikan dan pelatihan belum menyiapkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Kampus dan Dunia Kerja Harus Terhubung

Perguruan tinggi perlu memiliki koneksi yang kuat dengan pemberi kerja. Informasi tentang kebutuhan tenaga kerja harus menjadi bagian dari perencanaan pendidikan.

Kampus idealnya dapat memetakan kebutuhan dunia kerja  beberapa tahun ke depan sehingga calon mahasiswa dapat memilih jurusan berdasarkan informasi yang lebih objektif.

Seorang mahasiswa yang masuk perguruan tinggi hari ini akan membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk menyelesaikan pendidikan. Karena itu, yang perlu dipikirkan bukan hanya pekerjaan yang tersedia hari ini, tetapi pekerjaan apa yang akan dibutuhkan empat atau lima tahun mendatang.

Kurikulum juga tidak boleh terlalu kaku. Perubahan teknologi dan dunia kerja berlangsung sangat cepat. Perguruan tinggi harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut.

Aceh bahkan memiliki kekayaan pengalaman yang dapat dikembangkan menjadi bidang pembelajaran tersendiri, salah satunya pengalaman perdamaian Aceh. Banyak orang dari luar datang untuk mempelajari proses perdamaian Aceh. Namun, sejauh mana pengalaman tersebut telah dikembangkan menjadi pengetahuan akademik yang terstruktur dan berstandar?

Ini merupakan peluang yang semestinya dapat dikembangkan oleh perguruan tinggi di Aceh.

Menciptakan Lapangan Kerja 

Di tengah terbatasnya lapangan kerja formal, sebagian lulusan perguruan tinggi memilih menciptakan lapangan pekerjaan sendiri melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ada yang membuka usaha makanan, menjual jajanan, membuka warung kopi, berdagang secara daring, mengembangkan usaha pertanian, peternakan, perkebunan, maupun berbagai usaha kreatif lainnya.

Pilihan tersebut harus dilihat sebagai potensi, bukan sekadar pekerjaan alternatif. Pemerintah dan perguruan tinggi dapat memberikan dukungan berupa pelatihan, akses pembiayaan, pendampingan usaha, pemasaran, hingga pengembangan teknologi digital.

Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pencipta lapangan kerja.

Jangan Biarkan Talenta Aceh Pergi

Keterbatasan lapangan kerja menyebabkan sebagian lulusan Aceh memilih merantau ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. Mereka mencari kesempatan yang tidak mereka temukan di daerah sendiri.

Fenomena ini harus menjadi bahan evaluasi. Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang terus bertambah. Mestinya kedua potensi tersebut dapat dipertemukan dalam sebuah kebijakan pembangunan yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Aceh membutuhkan kebijakan yang tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam, tetapi juga memastikan masyarakat Aceh memiliki kemampuan untuk mengelolanya.

Sumber daya alam Aceh seharusnya menjadi ruang bagi tumbuhnya sumber daya manusia Aceh. Lulusan perguruan tinggi perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan keahliannya dan terlibat dalam pengelolaan potensi daerah.

Jangan sampai kekayaan alam berada di Aceh, tetapi tenaga ahli dan keuntungan ekonominya justru lebih banyak dinikmati pihak dari luar.

Ijazah Bukan Akhir Perjuangan

Gelar sarjana bukan akhir perjuangan belajar. Justru ijazah merupakan awal dari perjalanan panjang untuk membangun kehidupan.

Menjadi ASN bukan satu-satunya ukuran kesuksesan. Bekerja di perusahaan, menjadi profesional, menjadi petani modern, membangun usaha, menjadi pelaku UMKM, atau menciptakan lapangan kerja bagi orang lain juga merupakan jalan mulia untuk mencapai kesejahteraan.

Yang paling penting adalah jangan berhenti belajar.

Lulusan perguruan tinggi harus terus mengembangkan keterampilan, membaca perubahan zaman, berani mencoba hal baru, dan tidak hanya bergantung pada lowongan pekerjaan yang tersedia.

Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat harus duduk bersama mencari solusi. Pemerintah perlu menciptakan iklim investasi dan lapangan kerja. Perguruan tinggi harus menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan zaman. Dunia usaha harus membuka ruang bagi tenaga kerja lokal. Sementara lulusan harus berani mengembangkan kreativitas dan menciptakan peluang.

Aceh tidak kekurangan orang pintar. Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu menghubungkan pendidikan, keterampilan, investasi, dan lapangan kerja.

Semoga para sarjana Aceh tetap istiqamah dalam belajar, berkreativitas, dan membangun masa depan. Sebab, gelar sarjana bukan sekadar tulisan di belakang nama, tetapi amanah ilmu yang harus diwujudkan menjadi karya dan kemaslahatan bagi masyarakat.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top