Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)
Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia
Dalam tradisi intelektual Islam, para ulama terdahulu senantiasa menekankan satu prinsip emas: ”pelajari adab sebelum engkau mempelajari ilmu”. Prinsip ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan sebuah prasyarat agar ilmu yang diperoleh dapat meresap ke dalam jiwa dan membuahkan keberkahan. Bulan Ramadhan, dengan segala aturannya yang lengkap, adalah momentum terbaik untuk merefleksikan kembali sejauh mana etika kita telah menyertai kecerdasan kita.Pentingnya adab ini berakar pada penghormatan terhadap sumber ilmu itu sendiri. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 66, saat Nabi Musa AS memohon izin kepada Nabi Khidir AS: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Kalimat "bolehkah aku mengikutimu" menunjukkan kerendahan hati seorang murid di hadapan gurunya, meskipun Musa adalah seorang Nabi yang mulia. Tanpa kerendahan hati dan tata krama, pintu hati akan tertutup bagi cahaya ilmu.
Pendidikan modern terkadang terjebak pada angka dan nilai, sehingga sering kali mengabaikan bagaimana seorang pelajar bersikap terhadap guru, teman sejawat, bahkan terhadap buku yang ia baca. Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam hal ini. Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kesalehan akhlak" (HR. Ahmad). Jika tujuan utama risalah kenabian adalah akhlak, maka tujuan akhir dari seluruh proses pendidikan pun seharusnya adalah melahirkan pribadi yang beradab.
Seorang penuntut ilmu yang memiliki adab akan memahami bahwa ilmu adalah amanah. Ia tidak akan menggunakan kecerdasannya untuk merendahkan orang lain, melakukan plagiarisme, atau memutarbalikkan fakta demi kepentingan pribadi. Di bulan puasa ini, kita dilatih untuk menjaga lisan dari ghibah dan perilaku buruk lainnya. Latihan ini seharusnya terbawa ke dalam dunia akademik, di mana kejujuran dan rasa hormat menjadi mata uang yang paling berharga.
Imam Malik bin Anas pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy, "Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu." Pesan ini mengingatkan kita bahwa ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa akar yang kuat. Ia akan mudah tumbang saat diterpa angin kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang dihiasi dengan adab akan menjadikan pemiliknya sosok yang santun, bijaksana, dan dicintai oleh sesama manusia serta diridhai oleh Sang Pencipta.
Marilah kita jadikan Ramadhan 2026 ini sebagai ajang untuk memperbaiki karakter kita sebagai pembelajar. Hormatilah para pendidik, hargailah perbedaan pendapat dengan santun, dan jagalah kebersihan hati dari rasa bangga diri. Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan kita bukanlah seberapa banyak gelar yang kita deretkan di belakang nama, melainkan seberapa mulia adab yang kita tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.

0 facebook:
Post a Comment