Oleh: Syahrati, S.HI., M.Si

Penyuluh Agama Islam Kabupaten Bireuen

Ramadhan bukan sekadar bulan yang dipenuhi dengan deretan aktivitas ibadah fisik. Lebih dari itu, ia madrasah ruhaniyah yang mengajarkan kita tentang ketepatan dalam beramal. Semangat ibadah yang tinggi tentu sebuah kemuliaan, namun semangat tanpa arah sering kali membuat seseorang terjebak dalam kesibukan amalan sunnah yang banyak, sementara hal-hal yang lebih mendasar justru terabaikan. 

Dalam khazanah keilmuan Islam, kondisi ini dijembatani oleh konsep Fiqh al-Awlawiyyat atau fikih prioritas; sebuah kecakapan spiritual untuk menempatkan setiap amalan sesuai kadar urgensinya dalam timbangan syariat.

Mendahulukan yang Wajib 

Prinsip paling fundamental dalam fikih prioritas mendahulukan amalan wajib sebelum memperbanyak yang sunnah. Merujuk pada hadis qudsi riwayat Sahih al-Bukhari, Allah Swt berfirman bahwa tidak ada sesuatu yang lebih dicintai-Nya daripada apa yang Dia wajibkan. Hadis ini mengajarkan, ukuran keutamaan ibadah tidak ditentukan oleh riuhnya aktivitas, melainkan oleh kedudukannya dalam hierarki syariat. 

Oleh karena itu, indikator keberhasilan Ramadhan pertama-tama diukur dari seberapa kokoh pelaksanaan kewajiban kita: shalat lima waktu yang terjaga, puasa yang sah secara fikih, dan tanggung jawab terhadap keluarga dan amanah pekerjaan yang tidak terbengkalai.

Sungguh tidak proporsional jika seseorang mengejar target khatam Al-Qur'an berkali-kali atau memperpanjang rakaat tarawih, sementara shalat fardhunya masih dikerjakan dengan lalai atau lisannya belum mampu terjaga dari dosa. 

Dalam Jami’ al-‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali menegaskan, prioritas amal harus tunduk pada dalil wahyu, bukan sekadar perasaan pribadi atau tradisi masyarakat. Fikih prioritas juga menuntut kita menempatkan upaya "meninggalkan yang haram" di posisi yang lebih tinggi daripada sekadar "menambah amalan sunnah". 

Rasulullah saw mengingatkan dalam riwayat Bukhari, siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan tindakannya yang meninggalkan makan dan minum.

Menata Dimensi Batin 

Fikih prioritas tidak hanya berbicara tentang hukum lahiriah, melainkan juga menyentuh dimensi batin. Setelah kewajiban ditegakkan, perhatian berikutnya harus dialokasikan untuk perbaikan hati. 

Rasulullah saw mengingatkan, baik atau rusaknya jasad ditentukan oleh segumpal daging, yakni hati (HR. Bukhari & Muslim). Kualitas amal lahiriah sangat bergantung pada kondisi batin. 

Amal yang tampak besar di mata manusia bisa jadi tidak bernilai di sisi Allah apabila tercampur riya’, ujub (bangga diri), atau haus akan pujian. Imam Al-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menekankan pentingnya menjaga niat dan membersihkan hati dari penyakit tersembunyi.

Ramadhan menghadirkan momentum membenahi hati melalui muraqabah, kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi. Salah satu musuh utama hati adalah ghaflah atau kelalaian yang membuat seseorang kehilangan sensitivitas ruhani. 

Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan, maksiat sering terjadi saat dorongan hawa nafsu bertemu dengan lemahnya kesadaran spiritual. 

Oleh karena itu, hati membutuhkan asupan ruhani melalui tilawah Al-Qur’an, zikir, dan doa agar tetap "berdenyut". Pendidikan batin ini yang membuat seseorang memiliki kekuatan untuk menjaga lisan, menundukkan pandangan, dan meredam amarah meski di tengah ujian rasa lapar dan dahaga.

Optimalisasi Ibadah Khas Ramadhan

Sebagai pelengkap dari tatanan prioritas tersebut, kita mesti mengoptimalkan amalan-amalan khas yang menjadi identitas bulan mulia ini. Interaksi dengan Al-Qur’an menempati posisi sentral karena Ramadhan bulan diturunkannya mukjizat tersebut. 

Selain itu, momen-momen berharga seperti zikir pagi dan petang, istighfar di waktu sahur, dan doa menjelang berbuka harus dimanfaatkan sebagai penguat hubungan hamba dengan Sang Khalik. 

Qiyam Ramadhan pun memiliki keutamaan besar; dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dijanjikan ampunan dosa bagi mereka yang menegakkannya dengan penuh iman.

Dengan memahami fikih prioritas, seorang muslim tidak lagi terjebak dalam kuantitas aktivitas tanpa makna. Kewajiban ditegakkan dengan kokoh, hati dibersihkan dengan sungguh-sungguh, maksiat ditinggalkan dengan tegas, dan amalan sunnah dioptimalkan dengan penuh kesadaran. 

Inilah jalan agar Ramadhan menjadi momentum transformasi spiritual yang terarah, bukan sekadar musim kesibukan yang berlalu tanpa bekas.

Editor: Sayed M. Husen

SHARE :

0 facebook:

 
Top