Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Dalam hirarki pendidikan, keluarga adalah madrasah pertama (al-madrasatul ula), dan orang tua adalah pendidik utamanya. Sering kali, kesibukan duniawi membuat waktu berkumpul antara orang tua dan anak menjadi sangat terbatas. Namun, bulan Ramadhan memberikan anugerah waktu yang luar biasa melalui momen sahur. Meja sahur bukan sekadar tempat untuk mengisi energi fisik sebelum berpuasa, melainkan ruang kelas yang penuh kehangatan untuk mentransfer nilai, adab, dan kasih sayang.

Pendidikan di dalam keluarga memiliki dasar yang sangat kuat dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6: "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...". Ayat ini memberikan mandat kepada setiap kepala keluarga bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya terletak di bangku sekolah atau bahu guru, melainkan dimulai dari rumah. 

Menyelamatkan keluarga dari api neraka berarti membekali mereka dengan ilmu dan iman yang kokoh. Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya..." (HR. Bukhari). Tanggung jawab besar ini terletak di pundak kedua orang tua terhadap anaknya.

Momen sahur di sepertiga malam terakhir adalah waktu yang penuh berkah. Rasulullah SAW bersabda, "Bersahurlah kalian, karena pada sahur itu ada keberkahan" (HR. Bukhari dan Muslim). Keberkahan ini tidak hanya merujuk pada nutrisi makanan, tetapi juga pada ketenangan jiwa dan kejernihan pikiran yang hadir di waktu tersebut. Inilah saat yang paling tepat untuk melakukan dialog interaktif antara orang tua dan anak.

Alih-alih hanya fokus pada makanan, orang tua dapat memanfaatkan suasana sahur untuk berdiskusi ringan tentang makna puasa, memberikan nasihat moral, atau sekadar mendengarkan keluh kesah anak terkait pendidikan mereka di sekolah. Komunikasi yang dibangun di atas meja sahur menciptakan ikatan emosional yang kuat. Anak akan merasa didengar dan dihargai, sehingga pesan-pesan pendidikan yang disampaikan akan lebih mudah diterima oleh hati mereka.

Pendidikan keluarga di meja sahur juga mengajarkan tentang keteladanan. Ketika anak melihat orang tuanya tetap semangat bangun lebih awal, membaca do’a sebelum makan, dan menjaga lisan dari kata-kata kasar meski dalam keadaan mengantuk, anak sedang belajar tentang disiplin dan pengendalian diri secara langsung. Keteladanan (uswah) jauh lebih efektif daripada seribu kata-kata nasihat.

Marilah kita jadikan sahur di Ramadhan 2026 ini bukan sebagai rutinitas yang melelahkan, melainkan sebagai momentum edukasi yang berkualitas. Jadikan setiap suapan makanan sahur sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi antar anggota keluarga dan menanamkan benih-benih karakter rabbani. Dengan menghidupkan fungsi pendidikan di rumah, kita sedang mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akar spiritual yang dalam.

Keluarga yang kuat dalam iman dan ilmu adalah fondasi bagi masyarakat yang beradab. Ingatlah tentang Luqman bagaimana ia mendidik anaknya dengan penuh hikmah dan kasih sayang (Q.S. Luqman: 13). Dan semua itu bisa dimulai dari obrolan penuh makna di meja sahur.

SHARE :

0 facebook:

 
Top