Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku Wakaf di Aceh, Tradisi, Inovasi dan Keberkahan
Ramadhan bulan pembinaan diri dan momentum mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ia bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur, melainkan ruang pendidikan ruhani yang menghadirkan kesadaran baru dalam hidup seorang Muslim. Di bulan suci ini, setiap pribadi dipersiapkan secara mental dan spiritual untuk menerima asupan perbaikan diri, agar menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya. Puasa hadir sebagai terapi jiwa, proses penyucian diri dan perubahan karakter menuju insan yang taqwa.
Allah Swt menegaskan, tujuan utama puasa dalam Al-Qur’an, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 183, bahwa kewajiban berpuasa agar manusia menjadi orang-orang yang bertakwa. Takwa bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran mendalam akan kehadiran Allah dalam setiap gerak kehidupan. Ia terwujud dalam kesungguhan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, baik dalam dimensi ibadah maupun dalam interaksi sosial, berbangsa dan bernegara.
Dalam Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman (21/2/2026), Ketua DPW Hidayatullah Aceh, Ustaz Harun menyampaikan, puasa merupakan sarana efektif untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Melalui puasa, akhlak dibina, emosi dikendalikan, dan kepribadian ditempa menjadi lebih santun serta terpuji. Rasa lapar dan dahaga mendidik kesabaran, menumbuhkan empati, dan melatih kejujuran, karena hakikat puasa adalah ibadah yang sangat personal antara hamba dan Tuhannya. Puasa menuntun manusia memahami makna kebaikan secara lebih mendalam, sehingga mengantarkannya pada derajat takwa.
Namun realitas menunjukkan, tidak semua orang yang berpuasa mengalami perubahan signifikan dalam dirinya. Padahal puasa merupakan proses tarbiyah terbaik dalam mengasah karakter. Takwa tidak lahir secara instan. Ia membutuhkan hati yang bersih, niat yang lurus, dan pemahaman ilmu yang benar. Mengendalikan diri, melatih kejujuran, membiasakan sedekah dalam keadaan lapang maupun sempit, serta menumbuhkan akhlak mulia adalah bagian dari latihan menuju takwa. Tanpa ilmu dan kesadaran, ibadah hanya menjadi rutinitas yang kering dari makna.
Ramadhan juga dikenal sebagai Syahrul Qur’an, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an menjadi bagian penting dari proses pembentukan takwa. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilafalkan, tetapi pedoman hidup yang harus dipahami dan diamalkan. Komitmen mengkhatamkan Al-Qur’an hendaknya diiringi dengan upaya memahami maknanya agar nilai-nilainya terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini kebiasaan baik akan tertanam, membentuk karakter yang lebih kokoh dan berorientasi kepada ridha Allah Swt.
Sayed Muhammad Husen menambahkan, Ramadhan merupakan momentum peningkatan ketakwaan. Namun takwa tidak boleh berhenti pada dimensi ritual semata. Puasa tidak cukup hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi harus melahirkan jiwa yang bersih dan hati yang suci. Tidak tepat jika seseorang merasa telah “selesai” menjadi orang bertakwa setelah Ramadhan berakhir. Justru Ramadhan mesti menjadi madrasah latihan. Pembinaan takwa harus berlanjut sepanjang hayat, di setiap waktu dan dalam setiap langkah kehidupan.
Dalam dimensi muamalah, takwa tercermin pada akhlak sosial. Ia tampak dalam sikap menciptakan kedamaian, menjaga lingkungan, menolak praktik suap, tidak merugikan orang lain, serta menegakkan kejujuran dan keadilan. Takwa bukan konsep abstrak, melainkan nilai yang terimplementasi dalam tindakan nyata, yang berawal dari hati nurani yang bersih dan kesadaran senantiasa bermuhasabah, agar tetap istiqamah dalam kebaikan.
“Kesalehan sosial juga menjadi indikator ketakwaan. Menumbuhkan empati terhadap sesama, menyisihkan rezeki untuk kerabat, tetangga, dan kaum dhuafa adalah wujud nyata dari nilai takwa. Sedekah, termasuk membiasakan sedekah subuh walau dengan jumlah kecil, dapat melatih jiwa dermawan. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter yang kuat dan penuh kepedulian,” ungkap Sayed.
Pembentukan jiwa takwa harus dimulai sejak dini. Ia memerlukan proses panjang dan kesungguhan yang berkelanjutan. Jika nilai-nilai takwa tertanam dalam diri generasi muda, maka ketika mereka terjun ke dunia bisnis, politik, atau profesi apa pun, mereka akan menjadi insan berintegritas dan berakhlakul karimah. Aktivitas ekonomi tidak lagi semata-mata memperkaya diri, tetapi juga menghadirkan nilai keberkahan dan tanggung jawab moral.
Ustaz Harun dan Sayed sepakat, bangsa yang dipimpin oleh orang-orang berintegritas dan bertakwa akan menuju kemakmuran yang hakiki. Cita-cita menghadirkan negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur hanya dapat terwujud jika moral dan ketakwaan menjadi fondasi utama. Sebab moral sangat erat kaitannya dengan takwa. Ketika rasa takut kepada Allah hilang, maka manusia mudah terjerumus pada perilaku yang merusak dan merugikan.
Perbincangan Sabtu Pagi yang dipandu Saiful A. Bakar itu berakhir dengan harapan, melalui puasa Ramadhan, mari kita jadikan bulan penuh ampunan ini sebagai sarana peningkatan iman dan takwa secara totalitas. Semoga nilai-nilai ibadah yang kita jalani tidak berhenti pada ritual, tetapi benar-benar membawa perubahan karakter, memperkuat integritas, dan melahirkan pribadi-pribadi yang menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.*

0 facebook:
Post a Comment