Oleh : Tgk. Mukhlisuddin, SHI, MA
Ketua PD IPARI Kabupaten Pidie
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan rahmat. Di dalamnya, langit seakan lebih dekat dengan bumi, doa-doa lebih mudah menembus batas, dan setiap amal kebaikan dilipatgandakan nilainya oleh Allah SWT. Pada bulan inilah umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah: memperbanyak tilawah, memperpanjang sujud, menahan lisan, serta memperindah akhlak. Namun ada satu amalan yang memiliki daya dorong luar biasa, yang bukan hanya menguatkan hubungan dengan Allah, tetapi juga menghadirkan senyum di wajah sesama: sedekah.Sering kali manusia berpikir bahwa untuk menjadi kaya, ia harus mengumpulkan sebanyak mungkin harta. Logika dunia mengatakan, semakin banyak menahan, semakin banyak memiliki. Namun logika langit justru sebaliknya: semakin banyak memberi, semakin banyak menerima. Di sinilah rahasia yang jarang disadari banyak orang, ternyata bersedekah pangkal kaya.
Terlebih bersedekah di bulan Ramadhan pahalanya seperti membuka pintu surga. Kalimat ini bukan sekadar motivasi retoris, tetapi keyakinan yang bertumpu pada janji Allah dan sabda Rasul-Nya. Di bulan suci ini, setiap rupiah yang kita keluarkan, setiap makanan yang kita bagikan, setiap bantuan yang kita salurkan, bernilai jauh lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya. Ramadhan adalah momentum emas; siapa yang menyia-nyiakannya, sungguh ia merugi.
Mengapa Bersedekah Membuat Kaya?
Pertama, karena Ramadhan adalah bulan pelipatgandaan pahala. Amal sunnah dinilai seperti wajib, dan amal wajib dilipatgandakan tanpa batas sesuai kehendak Allah. Maka sedekah yang kita tunaikan bukan sekadar kebaikan biasa, melainkan investasi akhirat yang keuntungannya tak terhingga.
Kedua, bersedekah adalah wujud syukur. Kita mungkin masih bisa berbuka dengan hidangan hangat dan sahur dengan makanan yang cukup. Sementara di luar sana, ada yang menahan lapar bukan hanya karena puasa, tetapi karena keterbatasan. Saat kita berbagi, kita sedang mengakui bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan. Orang yang sadar bahwa hartanya titipan tidak akan takut kehilangannya, karena ia tahu Pemilik sejatinya Maha Kaya.
Ketiga, sedekah mendekatkan kita kepada Allah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah berfirman, “Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku berinfak kepadamu.” Ini adalah janji langsung dari Rabb semesta alam. Siapa yang memberi karena-Nya, akan diberi oleh-Nya dengan cara yang kadang tak terduga.
Allah SWT juga menegaskan dalam Al-Qur’an “ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’ [34]: 39).
Janji ini bukan retorika. Ia adalah kepastian. Tidak ada sedekah yang membuat miskin. Justru sebaliknya, sedekah adalah sebab datangnya keberkahan dan pembuka pintu rezeki.
Kaya Bukan Sekadar Banyak Harta
Pasti semua orang ingin menjadi kaya (kaya hati, kaya ilmu, dan kaya harta). Namun kekayaan sejati bukan hanya tentang angka di rekening, melainkan tentang ketenangan jiwa.
Sedekah membersihkan harta dari sifat kikir. Harta yang tidak pernah dibagi ibarat air yang tergenang, lama-lama keruh dan berbau. Tetapi harta yang mengalir melalui sedekah akan selalu jernih dan membawa kehidupan. Orang yang gemar memberi tidak pernah merasa kekurangan, karena ia merasakan cukup dalam setiap keadaan.
Sedekah juga menghadirkan kebahagiaan batin. Ada rasa haru yang tak bisa dibeli dengan uang ketika melihat seorang anak yatim tersenyum karena bantuan kita, atau ketika seorang dhuafa dapat berbuka dengan layak berkat uluran tangan kita. Di situlah kita menemukan makna hidup yang sesungguhnya bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.
Selain itu, sedekah adalah penghapus dosa. Ia memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Betapa banyak kekhilafan yang kita lakukan dalam hidup ini. Sedekah menjadi salah satu jalan taubat yang lembut namun kuat.
Sedekah juga diyakini sebagai pelindung dari bala dan musibah. Bisa jadi ada bahaya yang Allah jauhkan dari hidup kita karena sedekah yang pernah kita tunaikan. Kita tidak melihatnya, tetapi kita merasakan keselamatan dan kemudahan yang datang silih berganti.
Cara Memulai: Jangan Tunggu Kaya
Banyak orang berkata, “Nanti kalau sudah mapan, saya akan bersedekah lebih banyak.” Padahal justru dengan bersedekah, kemapanan itu datang. Jangan menunggu kaya untuk memberi. Mulailah memberi untuk menjadi kaya.
Kita bisa memulai dari hal sederhana. Berbagi takjil kepada tetangga. Mengirimkan paket sembako kepada keluarga kurang mampu. Menyisihkan sebagian penghasilan untuk anak yatim dan dhuafa. Bahkan senyuman tulus dan bantuan tenaga pun termasuk sedekah.
Yang terpenting bukan besar kecilnya nominal, tetapi konsistensi dan keikhlasan. Sedikit tetapi rutin lebih dicintai Allah daripada banyak tetapi sesekali.
Kisah yang Menginspirasi
Ada seorang pedagang kecil yang setiap Ramadhan selalu menyisihkan sebagian keuntungannya untuk fakir miskin. Ia tidak pernah menghitung-hitung dengan cemas. Baginya, yang ia keluarkan bukan berkurang, melainkan disimpan di “rekening langit.” Aneh tapi nyata, usahanya justru semakin berkembang. Pelanggannya bertambah, keberkahannya terasa.
Ada pula seorang ibu sederhana yang setiap sore memasak lebih untuk dibagikan kepada tetangga yang membutuhkan. Ia tidak kaya harta, tetapi kaya hati. Dari dapur kecilnya, lahir kebahagiaan besar yang mungkin tak ternilai oleh angka.
Kisah-kisah ini menegaskan bahwa kekayaan sejati bukan pada apa yang kita simpan, tetapi pada apa yang kita bagikan.
Mari Menjadi Orang Kaya dengan Memberi
Ramadhan adalah tamu agung yang tidak lama bersama kita. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya berharga. Jangan biarkan ia berlalu tanpa jejak sedekah dalam hidup kita.
Ingatlah, harta yang kita makan akan habis, yang kita pakai akan usang, tetapi yang kita sedekahkan akan kekal. Ia akan menjadi cahaya di alam kubur, naungan di padang mahsyar, dan saksi kebaikan di hadapan Allah SWT.
Ternyata bersedekah pangkal kaya. Kaya hati karena terbiasa memberi. Kaya jiwa karena dipenuhi rasa cukup. Kaya harta karena diberkahi dan diganti oleh Allah dengan cara yang tak disangka.
Mari jadikan Ramadhan ini sebagai titik balik. Bukan hanya menjadi ahli ibadah dalam sujud, tetapi juga ahli kebaikan dalam berbagi. Ketuklah pintu surga itu dengan sedekah terbaik kita.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ringan tangan, lapang hati, dan benar-benar merasakan bahwa dalam memberi, sesungguhnya kita sedang menerima.

0 facebook:
Post a Comment