Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)
Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia
Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang paling dicari oleh setiap Muslim. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, sebuah malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Bagi seorang pembelajar, malam ini memiliki makna yang sangat mendalam karena Lailatul Qadar adalah peringatan turunnya Al-Qur'an, sebuah kitab yang menjadi sumber segala ilmu. Mencari Lailatul Qadar bukan hanya tentang memperbanyak shalat, tetapi juga tentang memperbarui tekad untuk hidup di bawah naungan ilmu.Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 1-3: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." Jika satu malam saja yang diisi dengan turunnya ilmu (Al-Qur'an) bisa menjadi lebih mulia dari seribu bulan, maka bayangkan betapa tingginya derajat yang diberikan Allah kepada manusia yang menghabiskan umurnya untuk menggali dan menyebarkan ilmu.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari). Menghidupkan malam tersebut bisa dilakukan dengan berbagai cara. Selain beriktikaf dan berdoa, para ulama terdahulu seperti Imam Syafi'i sering kali menghabiskan malam-malam Ramadhan dengan melakukan mudzakarah atau mengulang-ulang pelajaran ilmu agama. Bagi mereka, belajar adalah salah satu bentuk zikir yang paling utama. Senada dengan itu, Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwasanya ilmu sebagai dasar dari segala hikmah: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi... Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah" ( QS. Ad-Dukhan: 3-4).
Lailatul Qadar adalah simbol dari pencerahan intelektual dan spiritual. Sebagaimana malam itu mengubah sejarah manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya kebenaran, ilmu yang kita pelajari seharusnya mampu mengubah diri kita dari pribadi yang sempit pikiran menjadi pribadi yang bijaksana. Di malam yang sunyi ini, seorang penuntut ilmu diajak untuk merenung: Sejauh mana ilmu yang diperoleh selama ini telah mendekatkan dirinya kepada Allah dan memberikan manfaat bagi sesama?
Keistimewaan malam ini juga terletak pada turunnya para malaikat ke bumi. Malaikat adalah makhluk yang sangat mencintai ilmu dan para penuntutnya. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka bagi penuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan (HR. Ahmad). Maka, Lailatul Qadar adalah momen pertemuan antara doa-doa yang tulus dan ikhtiar intelektual yang sungguh-sungguh.
Mari kita isi malam-malam terakhir Ramadhan 2026 ini dengan kualitas ibadah yang tinggi. Jangan biarkan mata kita terjaga hanya untuk hiburan yang sia-sia, tetapi jagalah mata kita untuk menelaah ayat-ayat Allah dan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Semoga di antara sujud dan bacaan buku kita, Allah menurunkan ketenangan batin dan kecemerlangan akal, sehingga kita keluar dari Ramadhan sebagai pribadi yang benar-benar tercerahkan.
.webp)
0 facebook:
Post a Comment