LAMURIONLINE.COM I ACEH BESAR – Ratusan warga memadati halaman Menasah Gampong Empee Ara, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar pada Minggu malam (25/10/2026). Antusiasme masyarakat ini dalam rangka mendengarkan tausiah agama yang disampaikan oleh ulama muda Aceh, Ustadz H. Masrul Aidi, Lc., M.A.
Acara yang diinisiasi oleh masyarakat Gampong Empee Ara ini digelar dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan menjadi momentum refleksi untuk meneladani Rasulullah SAW dalam membangun kehidupan sosial dan keagamaan yang islami. Tausiah yang berlangsung khidmat tersebut turut dihadiri oleh perangkat gampong, warga, serta jamaah dari berbagai gampong tetangga.
Dalam ceramahnya, Ustadz Masrul Aidi menekankan pentingnya terus membumikan nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat ukhuwah, peduli terhadap anak yatim, kemandirian untuk tidak menjadi peminta-minta, kewajiban menutup aurat, serta urgensi mendidik generasi muda di era modern. Beliau menyampaikan bahwa penerapan syariat tidak boleh hanya menjadi formalitas hukum, melainkan harus menyentuh aspek moralitas, kepedulian sosial, dan keharmonisan bermasyarakat.
"Islam itu tidak hanya mengatur hubungan kita dengan Allah, tetapi juga bagaimana kita menjaga hubungan baik dengan tetangga dan berkontribusi positif bagi lingkungan tempat kita tinggal," ujar Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keu'eung tersebut di hadapan para jamaah.
Beliau mengingatkan warga Gampong Empee Ara untuk terus menghidupkan tradisi gotong royong dan memakmurkan tempat ibadah sebagai benteng pertahanan umat di tingkat Gampong. Tak jarang ia juga menyampaikan kritik tajam terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuh hati menegakkan syari’at islam di Serambi Mekkah. Laki-laki masih bercelana pendek dan perempuan berbusana ketat masih kerap dijumpai di ruang-ruang publik. Lantas ia melontarkan ide, mengapa tidak Operasi Patuh oleh Polisi lalu lintas dibarengi dengan operasi Patuh Syariat Islam. Dengan begitu ia yakin akan lebih efektif dan efisien, menginat kekhususan Aceh dalam menerapkan hukum syari’at.
Lalu ia turut menyorot pentingnya Qanun tentang perlindungan anak yatim, piatu dan fakir miskin. Sehingga dapat menumbuhkan kepedulian dari masyarakat dan optimalisasi kebijakan oleh pemangku kepentingan.
“Peu keuh yang lage nyoe na ditamong dalam utak pemimpin-pemimpin Aceh?” (Apakah (ide) yang seperti ini ada dalam otak (pemikiran) pemimpin-pemimpin Aceh?)," tanyanya dengan nada geram.
Kehadiran regulasi semacam itu diharapkan dapat melindungi hak-hak mereka dan terhindar dari menjadi peminta-minta yang konon dilarang oleh Rasulullah. Penyampaian Ustadz Masrul Aidi yang lugas, diselingi analogi sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat Aceh, membuat para jamaah yang hadir menyimak dengan saksama hingga akhir acara.
Acara tausiah agama ini ditutup dengan doa untuk keselamatan, keberkahan bagi seluruh warga Gampong Empee Ara, serta kaum muslimin pada umumnya.
Liputan: Adia

0 facebook:
Post a Comment