Oleh: Hj. Supiati, S. Ag M. Sos

Sekretaris PD IPARi Kota Banda Aceh

Hari ini, usia saya genap 54 tahun. Esok, negeri yang saya cintai akan merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Dua momentum yang bersisian ini seakan menyatu dalam hati, menjadi bahan renungan yang dalam tentang arti syukur, makna kehidupan, dan tujuan keberadaan di dunia.

Usia 54 tahun bukan sekadar hitungan angka. Ia adalah jejak panjang perjalanan hidup—penuh warna suka dan duka, ujian sekaligus karunia. Setiap helaan napas sejatinya adalah nikmat Allah yang tak ternilai, meski sering kali terabaikan. Kini, semakin terasa bahwa setiap detik waktu adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, dan semakin sedikit pula waktu yang tersisa untuk menambah amal kebaikan.

Sementara itu, negeri ini—Indonesia—akan merayakan kemerdekaannya yang ke-80. Usia yang matang, penuh kisah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, serta harapan generasi penerus. Sama seperti diri saya, negeri ini pun harus dijaga agar tidak rapuh, agar tetap kuat, dan agar semakin bermanfaat bagi seluruh rakyatnya.

Di sinilah saya menemukan benang merah yang indah. Ulang tahun diri dan ulang tahun negeri sama-sama mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati bukanlah semata soal usia, melainkan kemampuan menjaga hati tetap bersih dan tindakan tetap tulus.

Maka, di hari penuh syukur ini, saya memohon kepada Allah agar sisa usia yang dianugerahkan-Nya tidak sia-sia. Semoga langkah-langkah saya senantiasa diarahkan untuk memberi manfaat, sekecil apa pun, bagi sesama. Semoga keberadaan saya dapat menjadi cahaya kecil yang menambah terang bagi orang-orang di sekitar.

Dan untuk negeri ini, doa saya tak pernah terputus: semoga Indonesia tetap teguh, adil, makmur, dijauhkan dari perpecahan, dan dipimpin oleh orang-orang yang amanah. Semoga bangsa ini selalu berada dalam lindungan dan rahmat Allah.

Saya pun merenungi, bahwa penambahan usia bukan hanya tanda panjangnya perjalanan, melainkan juga jejak langkah yang semakin dekat menuju kehidupan abadi. Tak seorang pun tahu batas usia yang tersisa, namun doa saya sederhana: semoga Allah masih memberi kesempatan untuk membersamai anak-anak hingga mereka tegak berdiri dengan kaki mereka sendiri, mampu mempertahankan diri serta keimanan di tengah derasnya terpaan dunia—demi keselamatan yang sempurna, dunia dan akhirat.

Hari ini saya belajar, bahwa ulang tahun sejati bukanlah tiupan lilin atau ucapan selamat semata, melainkan doa yang lahir dari hati terdalam: semoga Allah menjaga, menguatkan, dan menjadikan setiap detik hidup ini berarti—bagi diri, bagi negeri, dan bagi kemanusiaan.

SHARE :

0 facebook:

 
Top