Oleh: Tgk. Zarnuji
Pimpinan Balai Pengajian Darul Al-Hasani, Ulee Lheue
Aceh bukan hanya tanah rencong. Ia adalah tanah darah, tanah ilmu, dan tanah kehormatan. Di balik setiap bukit dan lembahnya, terukir kisah perjuangan yang tak terhitung—salah satunya datang dari Teuku Oemar Johan Pahlawan, pejuang yang tak hanya mengangkat senjata, tapi juga akal dan harga diri.Hari ini, kita berada di persimpangan. Ketika bahasa Aceh mulai ditinggalkan, dan sejarah para pahlawan tak lagi diajarkan, kita seakan perlahan-lahan menghapus jati diri kita sendiri.
“Bangsa yang kehilangan bahasa dan lupa sejarahnya, ibarat pohon yang tercerabut dari akarnya—mudah roboh, mudah dikendalikan,”
Inilah saatnya kita bangun dari kelengahan. Mari kita hidupkan kembali sejarah di hati generasi muda. Mari jadikan bahasa Aceh bukan sekadar alat bicara, tapi lambang cinta dan warisan. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh hanya dengan ingatan digital, tapi tanpa jejak sejarah yang membesarkan tanah ini.
Kepada seluruh guru baik di sekolah maupun di dayah bangkitlah!
Ajarkan sejarah bukan hanya sebagai pelajaran, tapi sebagai nilai kehidupan. Tanamkan cinta budaya bukan hanya lewat buku, tapi lewat teladan dan cerita.
Jangan biarkan nama-nama besar hanya tinggal di batu nisan. Biarkan mereka hidup kembali dalam semangat dan langkah generasi hari ini.

0 facebook:
Post a Comment