Oleh: Syahrati, S.HI., M.Si

Penyuluh Agama Islam Bireuen

Dalam lembaran sejarah kenabian, terdapat satu fase yang disebut oleh para sejarawan sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Bagi Rasulullah saw, tahun itu bukan sekadar urutan waktu, melainkan beban emosional yang amat berat. Beliau kehilangan dua sosok sentral: Siti Khadijah r.a, istri tercinta yang menjadi sandaran batin, pendukung finansial utama dan Abu Thalib, sang paman yang menjadi benteng perlindungan politik di tengah kekejaman kaum Quraisy.

Kehilangan dua pelindung ini membuat tekanan kaum kafir Makkah semakin menjadi-jadi. Gangguan fisik dan mental terhadap Nabi saw meningkat berkali-kali lipat. Di tengah kesempitan itulah, Rasulullah saw mencoba mencari celah baru. Beliau melirik ke arah Thaif, sebuah wilayah pegunungan yang sejuk, berharap penduduknya memiliki hati yang lebih lapang untuk menerima risalah tauhid. Apa yang menanti di sana ternyata ujian yang lebih getir.

Tragedi Thaif: Puncak Kemanusiaan yang Terluka

Perjalanan menuju Thaif ditempuh Rasulullah saw dengan berjalan kaki sejauh puluhan kilometer bersama Zaid bin Haritsah r.a. Setibanya di sana, beliau menemui para pemimpin Bani Tsaqif. Alih-alih mendapatkan perlindungan atau sekadar sambutan yang sopan, beliau justru dihina dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.

Puncak penolakan itu terjadi saat para pemuka Thaif menghasut anak-anak, budak, dan orang-orang tak berakal mengepung dan melempari Nabi dengan batu. Dalam sejarah diceritakan, kaki mulia Rasulullah saw berdarah hingga sandal yang beliau kenakan basah oleh darah keringat dan luka. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi beliau dengan tubuhnya sendiri hingga kepalanya terluka parah.

Dalam keadaan fisik yang hancur dan hati yang tersayat, Rasulullah saw berlindung di sebuah kebun anggur. Di sanalah beliau melangitkan sebuah doa yang hingga kini dianggap sebagai doa paling puitis sekaligus menyayat hati. Beliau tidak mengutuk, beliau justru mengadu: "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sempitnya upayaku, dan hinanya aku di hadapan manusia..."

Kalimat ini menunjukkan sisi kemanusiaan Nabi yang merasa sangat lemah, namun tetap menjaga adab kepada Rabb-nya. Keteguhan akhlak ini mencapai puncaknya saat Malaikat Jibril dan Malaikat Penjaga Gunung menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif. Dengan penuh kasih sayang, Nabi menolak dan justru mendoakan agar kelak dari rahim penduduk Thaif lahir generasi yang menyembah Allah.

Isra Mikraj: Jawaban Langit atas Penolakan Bumi

Hanya berselang beberapa waktu setelah kepedihan di Thaif, Allah Swt memberikan "hadiah" yang tak pernah diberikan kepada nabi manapun sebelumnya. Peristiwa itu adalah Isra Mikraj. Banyak ulama memandang peristiwa ini sebagai bentuk entertainment ilahiah atau penghiburan langsung dari Allah untuk kekasih-Nya.

Secara filosofis, Isra Mikraj memberikan pesan yang sangat kuat: Jika bumi dan penduduknya menolakmu, maka langit dan seluruh penghuninya menyambutmu. Jika di Thaif beliau dihinakan oleh manusia, maka di Sidratul Muntaha beliau dimuliakan di atas seluruh makhluk.

Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu naik menembus tujuh lapis langit hingga ke Sidratul Muntaha (Mikraj), adalah perjalanan yang melampaui batas nalar dan ruang-waktu. Di setiap lapisan langit, beliau disambut oleh para nabi terdahulu sebagai pemimpin. Ini penegasan bahwa meskipun beliau ditolak di sebuah kota kecil bernama Thaif, hakikatnya beliau pemimpin seluruh nabi dan rasul di alam semesta.

Hadiah Salat: Mikraj-nya Orang Beriman

Salah satu momen paling krusial dalam Isra Mikraj Rasul menerima perintah salat lima waktu. Berbeda dengan zakat, puasa, atau haji yang diperintahkan melalui perantara Malaikat Jibril di bumi, salat diberikan langsung oleh Allah kepada Nabi di langit tertinggi.

Salat oleh-oleh Isra Mikraj untuk umat Islam. Jika Rasulullah saw mendapatkan ketenangan melalui perjalanan menuju langit, maka kita sebagai umatnya diberikan sarana "Mikraj" setiap hari melalui salat. Melalui salat, seorang hamba bisa berkomunikasi langsung dengan Penciptanya, mengadukan segala "Luka Thaif" dalam kehidupannya masing-masing, dan mendapatkan kekuatan baru menghadapi ujian dunia.

Ujian Iman dan Teladan Ash-Shiddiq

Setiap mukjizat selalu menjadi ujian bagi akal manusia. Ketika Nabi menceritakan perjalanan tersebut, penduduk Makkah gempar. Secara logika zaman itu, perjalanan dari Makkah ke Palestina pulang-pergi dalam semalam kemustahilan yang nyata. Banyak orang yang baru masuk Islam menjadi goyah imannya, bahkan ada yang murtad.

Namun, di tengah hiruk-pikuk keraguan itu, muncul sosok Abu Bakar r.a. Saat kaum Quraisy mencoba memprovokasi beliau dengan berita "tidak masuk akal" tersebut, Abu Bakar dengan tenang memberikan standar iman yang sangat tinggi: "Jika ia (Muhammad) yang mengatakannya, maka itu pasti benar."

Abu Bakar tidak sibuk mencari pembenaran ilmiah atau logika fisika. Beliau membenarkan karena yang menyampaikannya orang yang paling jujur. Inilah kunci iman yang sesungguhnya: percaya kepada Sang Pembawa Berita karena kejujurannya yang sudah teruji. Sejak itulah beliau digelari Ash-Shiddiq.

Refleksi di Balik Perjalanan Agung

Dari rentetan peristiwa Thaif menuju Isra Mikraj, kita belajar bahwa hidup adalah perputaran antara ujian dan kemuliaan. Tidak ada "Mikraj" tanpa ada "Thaif" terlebih dahulu. Kesedihan yang kita alami hari ini bisa jadi adalah pintu masuk menuju kemuliaan yang telah Allah siapkan di masa depan.

Bagi kita hari ini, peringatan Isra Mikraj bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momen introspeksi: sejauh mana kualitas salat kita? Apakah salat kita sudah menjadi sarana "Mikraj" yang menenangkan hati? Dan sejauh mana kualitas iman kita? Apakah kita masih sering menawar syariat Islam karena tidak sesuai dengan logika, atau kita sudah memiliki mentalitas "Ash-Shiddiq" yang taat tanpa syarat?

Luka di Thaif mengajarkan kita kesabaran, sementara perjalanan ke Sidratul Muntaha mengajarkan kita tentang harapan yang tak terbatas pada kekuasaan Allah Swt.

Editor: Sayed M. Husen

SHARE :

0 facebook:

 
Top