LAMURIONLINE.COM | BANDA ACEH - Umat Islam harus cerdas dalam mencari, mengelola, dan memanfaatkan informasi secara produktif sesuai dengan aturan hukum, etika Islam, dan kepentingan keimanan. Ini adalah upaya menyerap semangat ayat pertama Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw pada peristiwa Nuzul Quran.

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Saifuddin A. Rasyid,  menyampaikan hal itu dalam ceramah peringatan Nuzul Quran yang di Masjid Al-Hasanah, Gampong Geuceu Komplek, Kota Banda Aceh, Sabtu malam, (7/3/20260.

Dalam ceramahnya, Saifuddin menjelaskan, inti dari wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah saw melalui Malaikat Jibril pada malam Nuzul Quran adalah perintah membaca atau iqra’, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-‘Alaq.

“Inti dari ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw pada peristiwa Nuzul Quran adalah perintah membaca, iqra’. Perintah ini memiliki makna yang sangat luas, bukan sekadar membaca teks, tetapi juga membaca realitas kehidupan,” ujarnya.

Dosen bidang Literasi Informasi pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry itu menjelaskan, perintah membaca memiliki dasar filosofis yang kuat, terutama terkait dengan kecerdasan dalam mengelola informasi yang tersedia di sekitar manusia.

Menurutnya, seseorang harus mampu mendefinisikan, merancang kebutuhan informasi sebelum menelusuri, dan mencari informasi yang diperlukan, kemudian memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

Ia juga mengingatkan, kemajuan teknologi informasi saat ini membuat akses terhadap informasi menjadi sangat mudah. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut dapat menjerumuskan seseorang apabila tidak disertai dengan kecerdasan dalam mengelolanya.

“Saking banyaknya informasi yang tersedia, jangan sampai kita tersesat di dalam rimba informasi tersebut,” katanya.

Saifuddin menjelaskan, pada era digital saat ini, situasi bahkan telah berbalik. Jika sebelumnya manusia aktif mencari informasi, kini informasi justru datang mencari manusia. Hal ini terjadi karena perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang mampu mengidentifikasi kebutuhan pengguna berdasarkan jejak pencarian dan konten yang sering diakses.

“Karena itu, jangan heran jika internet atau media sosial sering menawarkan konten yang sebenarnya kita butuhkan. Sistem digital merekam kebiasaan kita saat berselancar di internet,” jelasnya.

Ia menambahkan, setiap aktivitas pengguna di dunia digital pada dasarnya terekam dalam server sistem teknologi informasi. Kebiasaan pencarian seseorang akan membentuk daftar kebutuhan informasi yang kemudian ditampilkan kembali oleh sistem sesuai dengan perilaku pengguna.

Dalam ceramah tersebut, Saifuddin juga mengaitkan fenomena ini dengan konsep pencatatan amal dalam ajaran Islam. Ia menjelaskan, sebagaimana sistem digital merekam aktivitas manusia, dalam ajaran Islam juga dikenal adanya malaikat Raqib dan Atid yang mencatat seluruh perbuatan manusia.

“Segala perkataan dan perbuatan kita terekam dalam catatan amal di sisi Allah Swt. Catatan itu kelak akan diperlihatkan kembali kepada kita pada hari akhir,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan jamaah agar menjaga diri agar tidak terjerumus dalam arus informasi yang tidak bermanfaat atau bahkan menyesatkan.

Menurutnya, abad modern merupakan abad informasi. Oleh sebab itu, umat Islam perlu memiliki kecerdasan literasi informasi dan mengajarkannya kepada generasi muda. 

“Ajarkan anak-anak kita agar melek informasi. Jadilah pengelola informasi yang baik, jangan menjadi korban informasi,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Saifuddin juga mengingatkan bahaya hoaks, ghibah, namimah, dan fitnah yang sering muncul dalam arus komunikasi di media sosial. 

Ia menegaskan, seseorang dapat dengan mudah terjebak dalam kesalahan tersebut apabila tidak berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Saifuddin menekankan pentingnya melakukan tabayyun terhadap setiap informasi yang diterima.

“Setiap informasi yang singgah kepada kita harus diperiksa dan dikonfirmasi terlebih dahulu sebelum digunakan atau diteruskan kepada orang lain,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kelalaian dalam memverifikasi informasi dapat menyebabkan seseorang tanpa sadar ikut menyebarkan hoaks atau fitnah yang berpotensi menimbulkan keributan di masyarakat dan merusak hubungan sosial.

“Walaupun hanya meneruskan informasi, kita tetap bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya,” tegasnya.

Lebih lanjut ia mengingatkan, kesalahan dalam mengelola informasi juga dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa seseorang.


Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan mafhum hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami tentang beberapa perbuatan yang dapat merusak pahala puasa, seperti memandang dengan nafsu, berdusta atau menyebarkan berita bohong, berghibah, melakukan namimah atau adu domba, memfitnah, serta bersumpah palsu.

Di bagian akhir ceramahnya, Saifuddin mengajak umat Islam agar menjadikan peringatan Nuzul Quran bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebagai momentum untuk mengambil spirit wahyu pertama, yaitu semangat membaca, belajar, dan mengembangkan kecerdasan dalam berbagai bidang kehidupan.

“Peringatan Nuzul Quran hendaknya menjadi momentum untuk terus membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan juga ayat-ayat kauniyah di alam semesta, kapan pun dan di mana pun, terlebih lagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini,” pungkasnya. (Sayed M. Husen)

SHARE :

0 facebook:

 
Top