Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)
Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia
Ramadan sering kali disebut sebagai Syahrul Qur'an atau bulan Al-Qur'an. Namun, dari sisi pendidikan, hubungan antara Ramadhan dan Al-Qur'an memiliki dimensi yang lebih dalam, yaitu dimensi literasi. Wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW di Gua Hira bukanlah perintah untuk salat, zakat, atau puasa, melainkan sebuah perintah intelektual yang sangat mendasar: Iqra’ atau Bacalah.Perintah dalam Surah Al-Alaq ayat 1 ini, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan," merupakan proklamasi besar bagi umat manusia tentang pentingnya literasi. Dalam konteks pendidikan modern, literasi bukan sekadar kemampuan mengeja huruf, melainkan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengambil hikmah dari teks maupun realitas alam semesta. Al-Qur'an meletakkan kegiatan membaca sebagai pintu gerbang menuju ketakwaan. Tanpa membaca dan memahami, keimanan seseorang berisiko menjadi sekadar ikut-ikutan tanpa fondasi yang kokoh.
Sejarah mencatat bahwa perintah Iqra’ telah mengubah masyarakat Arab yang pada saat itu dikenal sebagai masyarakat yang tidak mumpuni dalam baca-tulis menjadi mercusuar peradaban ilmu pengetahuan dunia. Semangat ini seharusnya menjadi cambuk bagi kita di Ramadhan 2026 ini. Literasi ummat Islam tidak boleh berhenti pada tingkat kemampuan melafalkan ayat secara lisan, tetapi harus meningkat pada kemampuan literasi fungsional, yaitu memahami pesan Allah SWT untuk kemudian diaplikasikan dalam solusi-solusi nyata bagi problematika kemanusiaan.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga" (HR. Muslim). Hadits ini memberikan motivasi spiritual bagi setiap pelajar dan pendidik bahwa setiap detik yang dihabiskan untuk membaca buku, melakukan penelitian, atau menulis karya ilmiah adalah bagian dari perjalanan panjang menuju ridha Allah SWT.
Dalam praktiknya di bulan Ramadhan ini, kualitas literasi dapat kita tingkatkan melalui beberapa langkah nyata. Pertama, jadikan kegiatan tadarrus Al-Qur'an bukan sekadar mengejar target khatam, melainkan juga target pemahaman dengan membaca terjemahan dan tafsirnya secara mendalam. Kedua, manfaatkan waktu luang di bulan puasa untuk membaca literatur-literatur yang memperluas cakrawala berpikir, baik itu ilmu agama maupun sains yang bermanfaat bagi umat.
Membangun budaya literasi adalah bentuk syukur atas akal yang telah Allah anugerahkan. Jika kita mengaku sebagai pengikut Nabi SAW yang menerima wahyu Iqra’, maka sudah sepatutnya kita menjadi garda terdepan dalam memerangi kebodohan dan rendahnya minat baca. Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam, di mana membaca adalah ibadah, menulis adalah dakwah, dan ilmu adalah cahaya yang menerangi kegelapan.
Dengan memperkuat literasi, kita tidak hanya memperkaya diri dengan informasi, tetapi juga memperkuat imunitas hati dari berbagai fitnah dan hoaks yang marak di era digital ini. Al-Qur'an telah memberikan kuncinya. Kini tugas kita adalah memutar kunci tersebut untuk membuka pintu peradaban yang lebih baik.

0 facebook:
Post a Comment