Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Jika niat adalah fondasi dan disiplin adalah kerangka, maka sabar adalah nafas yang menjaga keberlangsungan proses pendidikan. Di bulan Ramadhan ini, kita belajar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar hingga maghrib. Latihan menahan diri ini merupakan analogi sempurna bagi perjuangan seorang penuntut ilmu yang harus bersabar dalam menghadapi lelahnya membaca, sulitnya memahami teori, hingga panjangnya durasi pendidikan yang harus ditempuh.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT memberikan gambaran luar biasa tentang kesabaran dalam belajar melalui kisah Nabi Musa AS saat berguru kepada Nabi Khidir AS. Nabi Khidir memberikan syarat utama sebelum memulai pelajaran: "Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu" (QS. Al-Kahfi: 70). Kisah ini mengajarkan bahwa ilmu tidak datang secara instan. Ada proses, ada waktu, dan ada otoritas guru yang harus dihormati dengan kesabaran.

Dunia pendidikan modern sering kali terjebak dalam arus serba instan. Keinginan untuk cepat lulus, cepat sukses, atau cepat paham tanpa melewati proses yang mendalam sehingga dapat mengurangi kualitas ilmu itu sendiri. Padahal, Imam Syafi'i pernah berpesan bahwa salah satu syarat mendapatkan ilmu adalah thulu zamani atau waktu yang lama. Kesabaran dalam mendalami sebuah bidang hingga tuntas adalah kunci lahirnya keahlian yang mumpuni.

Rasulullah SAW bersabda, "Sabar itu adalah cahaya" (HR. Muslim). Bagi seorang pelajar, cahaya kesabaran ini sangat dibutuhkan saat menghadapi kegagalan ujian atau kesulitan finansial dalam menempuh studi. Tanpa kesabaran, seseorang akan mudah berputus asa dan meninggalkan jalan ilmu sebelum mencapai puncaknya. Ramadhan melatih kita bahwa rasa lapar akan berakhir dengan manisnya berbuka. Demikian pula lelahnya belajar akan berakhir dengan manisnya pemahaman dan kebermanfaatan.

Sabar dalam menuntut ilmu juga berarti sabar dalam menjaga etika. Sabar menghadapi teguran guru, sabar dalam mengulang hafalan, dan sabar dalam menyaring informasi agar tidak terjebak dalam kesimpulan yang keliru. Di tengah gempuran informasi digital yang serba cepat, kemampuan untuk bersabar dalam melakukan tabayyun (verifikasi) adalah bentuk literasi yang sangat luhur.

Marilah kita jadikan momentum puasa ini untuk memperkuat daya tahan mental kita. Setiap kali rasa kantuk menyerang saat belajar atau rasa bosan menghampiri saat melakukan riset, ingatlah bahwa setiap detik kesabaran tersebut adalah ibadah yang mulia. Ilmu yang berkah bukan hanya ilmu yang tersimpan di dalam otak, tetapi ilmu yang diperoleh melalui proses perjuangan dan kesabaran yang tulus.

Sebagaimana kita sabar menanti azan maghrib, mari kita sabar meniti jalan ilmu hingga Allah SWT mengangkat derajat kita menjadi orang-orang yang berilmu dan bertakwa. Ingatlah pesan Allah SWT dalam Al-Qur’an: ”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Q.S. Az-Zumar: 10).

SHARE :

0 facebook:

 
Top