Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Gema takbir yang berkumandang menandai berakhirnya masa pendidikan di Madrasah Ramadhan. Bagi para penuntut ilmu dan pendidik, Idul Fitri adalah hari kelulusan yang penuh sukacita. Kata "Fitri" merujuk pada asal kejadian manusia yang suci, bersih, dan lurus. Dalam konteks pendidikan, kembali ke fitrah berarti kembali pada kejujuran intelektual, gairah belajar yang murni, dan kebersihan hati dalam memandang setiap ciptaan Allah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185: "...Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." Syukur dalam ayat ini diwujudkan dengan merayakan keberhasilan kita menundukkan ego selama sebulan. 

Seorang pembelajar yang telah kembali ke fitrahnya adalah mereka yang ilmu pengetahuannya semakin luas, namun hatinya semakin rendah dan penuh rasa syukur. Kesombongan intelektual adalah noda yang seharusnya luruh bersamaan dengan tetesan air wudhu’ di malam-malam terakhir Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa berpuasa dengan iman dan mengharap ridha Allah (pahala), dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan pengampunan dosa sehingga pelakunya bersih kembali seperti bayi yang baru lahir.

Kesucian ini adalah modal utama untuk membangun peradaban. Ilmu yang dibangun di atas hati yang kotor hanya akan melahirkan kerusakan, namun ilmu yang tumbuh dari jiwa yang fitri akan melahirkan kedamaian dan kemajuan. Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk memaafkan sesama, menghapus persaingan yang tidak sehat, dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

Filosofi Idul Fitri bagi seorang penuntut ilmu juga berarti keberlanjutan. Kelulusan sejati bukanlah saat kita berhenti belajar, melainkan saat kita mampu mengamalkan kurikulum Ramadan, yaitu kesabaran, kedisiplinan, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari. Jika Ramadhan melatih kita untuk jujur pada diri sendiri, maka Idul Fitri adalah proklamasi untuk tetap jujur dalam setiap riset, ujian, dan karya yang kita hasilkan ke depan.

Momentum saling memaafkan pada hari raya ini juga merupakan bagian dari etika menuntut ilmu. Seorang murid memohon maaf kepada gurunya atas segala kelalaian, dan seorang guru memberikan ridha serta doa bagi keberkahan ilmu muridnya. Keridhaan antara pendidik dan terdidik adalah kunci utama agar cahaya ilmu menetap lama dalam dada dan memberikan manfaat yang luas.

Mari kita rayakan Idul Fitri ini dengan tekad baru. Jangan biarkan semangat Iqra mendingin seiring bergantinya bulan. Jadikan diri kita sebagai pribadi yang senantiasa lapar akan ilmu dan haus akan kebenaran. Dengan jiwa yang kembali suci, mari kita melangkah menuju masa depan, membawa obor pengetahuan untuk menerangi dunia yang sering kali gelap oleh kebodohan dan prasangka.

Selamat Idul Fitri 1447 Hijriyah / 2026 Miladiyah. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang kembali pada fitrah dan meraih kemenangan sejati sebagai pembelajar sepanjang hayat. Semoga kita senantiasa berpegang teguh dengan pesan Allah dalam Al-Quran supaya tetap pada fitrah-Nya yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu (QS. Ar-Rum: 30).

SHARE :

0 facebook:

 
Top