Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Dunia pendidikan sering kali terjebak dalam pendekatan yang kaku dan administratif. Guru dituntut mengejar target kurikulum, sementara murid merasa tertekan oleh beban nilai. Di tengah suasana Ramadhan yang penuh Rahmat ini, kita diingatkan kembali bahwa pendidikan yang paling efektif adalah yang dilakukan dengan landasan kasih sayang (rahmah). Seorang pendidik sejati tidak hanya mengajar dengan lisan, tetapi juga dengan hati.

Prinsip ini tercermin dalam kepribadian Rasulullah SAW sebagai guru terbaik ummat manusia. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 128: "Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." Ayat ini menggambarkan profil pendidik ideal, yaitu seseorang yang memiliki empati tinggi, peduli pada kesulitan muridnya, dan selalu mengharapkan kebaikan bagi mereka.

Allah SWT menceritakan dalam Al-Qur’an tentang kelembutan hati Rasulullah yang membuat orang-orang nyaman berada di dekat beliau (Ali Imran: 159). Senada dengan itu, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadith: "Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan" (HR. Bukhari). Jadi Islam mengajarkan pedagogi atau teknik kasih sayang dalam mendidik. 

Kasih sayang dalam mengajar bukan berarti meniadakan disiplin. Sebaliknya, kasih sayang adalah ruh yang membuat disiplin menjadi bermakna. Saat seorang guru menegur muridnya dengan kasih sayang, murid tersebut akan merasa bahwa teguran itu adalah bentuk kepedulian, bukan kebencian. Rasulullah SAW bersabda, "Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh" (HR. Bukhari). Hadits ini merupakan kaidah emas bagi setiap pendidik untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan tidak intimidatif.

Dalam praktiknya, mengajar dengan kasih sayang berarti menghargai keunikan setiap murid. Setiap anak memiliki kemampuan belajar dan bakat yang berbeda-beda. Pendidik yang penyayang tidak akan membanding-bandingkan muridnya, melainkan membantu masing-masing dari mereka untuk menemukan potensi terbaiknya. Ramadhan melatih kita untuk bersabar, dan kesabaran inilah yang sangat dibutuhkan oleh seorang guru saat menghadapi murid yang sulit memahami pelajaran atau memiliki masalah perilaku.

Sentuhan kasih sayang seorang guru sering kali menjadi titik balik kehidupan seorang murid. Kata-kata motivasi yang tulus atau senyuman hangat di ruang kelas bisa membekas jauh lebih lama daripada rumus-rumus matematika yang rumit. Pendidikan karakter akan lebih mudah terbentuk melalui keteladanan yang penuh cinta daripada serangkaian aturan yang ketat.

Oleh karena itu, Ramadhan hendaknya menjadi momentum bagi para pendidik, baik itu guru di sekolah maupun orang tua di rumah, untuk memperbarui niat. Jadikan aktivitas mengajar sebagai bentuk sedekah jariah dan pengabdian kepada Sang Pencipta. Dengan menghidupkan seni mengajar yang penuh kasih sayang, kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas akalnya, tetapi juga lembut hatinya dan mulia budi pekertinya.

Akhirnya, ilmu yang disampaikan dengan cinta akan tumbuh menjadi amal yang tak terputus, membawa manfaat bagi dunia dan menjadi saksi kebaikan di akhirat.

SHARE :

0 facebook:

 
Top