Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku “Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan”
Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) merupakan ajang perlombaan yang berlandaskan nilai-nilai syariat Islam. Kegiatan ini telah menjadi tradisi yang dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat gampong, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, hingga internasional. Lebih dari sekadar kompetisi, MTQ adalah media strategis dalam membina dan mengembangkan potensi generasi umat, dari usia dini hingga dewasa.
Salah satu hikmah dari pelaksanaan MTQ meningkatnya kemampuan membaca Al-Qur’an secara baik dan benar. Namun demikian, esensi MTQ tidak berhenti pada aspek tilawah semata. Lebih dari itu, MTQ mendorong umat Islam memahami makna dan menafsirkan kandungan Al-Qur’an secara mendalam, sehingga nilai-nilainya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, MTQ bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga sarana ibadah dan pembentukan karakter Qur’ani.
Setelah melalui penantian panjang, Aceh kembali dipercaya sebagai tuan rumah MTQ tingkat nasional yang akan digelar pada tahun 2028. Penetapan ini merupakan kehormatan sekaligus kebanggaan bagi seluruh masyarakat Aceh.
Dalam Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman (11/4/2026), Plt. Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Ustaz Marzuki Hasyim, menyampaikan bahwa berbagai persiapan telah mulai dirancang sejak dini. Salah satu langkah strategis mempersiapkan para peserta mengikuti ajang MTQ Nasional sebelumnya, seperti yang direncanakan di Semarang pada tahun 2026, dan MTQ tingkat provinsi yang akan dilaksanakan di Aceh Barat Daya pada tahun 2027. Upaya ini diharapkan dapat melahirkan peserta-peserta terbaik yang mampu mengharumkan nama Aceh.
Jika pembinaan peserta dilakukan secara maksimal, peluang Aceh meraih prestasi gemilang, bahkan sebagai juara umum di ajang MTQ Nasional 2028, semakin terbuka lebar. Selain itu, kesiapan sarana dan prasarana juga menjadi perhatian penting, termasuk penentuan lokasi perlombaan dan pusat kegiatan. Banda Aceh direncanakan sebagai pusat pelaksanaan MTQ Nasional, dengan beberapa titik lokasi seperti Stadion Harapan Bangsa, Masjid Raya Baiturrahman, Lapangan Blang Padang, Asrama Haji, dan sejumlah lokasi strategis lainnya.
“Pemerintah Aceh juga akan mempersiapkan fasilitas penginapan yang representatif bagi para kafilah dan tamu dari seluruh Indonesia. Kesiapan ini tidak hanya mencerminkan profesionalitas penyelenggaraan, tetapi juga menjadi wujud penghormatan terhadap tamu yang datang,” ungkap Marzuki.
Dalam konteks pembinaan, berbagai cabang lomba seperti tilawah, syarhil Qur’an, fahmil Qur’an, kaligrafi, serta cabang lainnya perlu dipersiapkan secara serius. Proses ini mencakup penguatan hafalan, pemahaman tafsir, dan kemampuan menyampaikan pesan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa, seperti Indonesia, Arab, dan Inggris. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa kemenangan bukan tujuan utama. Lebih penting dari itu, bagaimana MTQ menjadi momentum meneguhkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat.
Narasumber lainnya, Sayed Muhammad Husen, menambahkan, di era digital saat ini, media memiliki peran penting dalam mendukung syiar MTQ. Namun ia menekankan bahwa interaksi langsung dalam pelaksanaan MTQ tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan, terutama dalam membangun ukhuwah islamiyah dan memperkuat persatuan umat.
Aceh sebagai daerah yang dikenal dengan julukan Serambi Mekkah memiliki kekhasan tersendiri, terutama dalam hal memuliakan tamu. Momentum MTQ Nasional ini menjadi kesempatan menunjukkan kepada masyarakat luas tentang implementasi syariat Islam yang hidup dalam keseharian masyarakat Aceh. Nilai-nilai akhlak, kejujuran, dan keramahan diharapkan menjadi cerminan nyata dari identitas tersebut.
Lebih jauh, penyelenggaraan MTQ Nasional juga menjadi ajang promosi berbagai potensi Aceh, baik di bidang agama, ekonomi, budaya, pendidikan, maupun pariwisata. Dalam hal ini, peran media dan para konten kreator menjadi sangat strategis dalam memperkenalkan wajah Aceh kepada dunia luar.
Keberhasilan penyelenggaraan MTQ Nasional 2028 nantinya tentu tidak terlepas dari sinergi semua pihak. Pemerintah, ulama, cendekiawan, dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam menyukseskan agenda ini. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, Aceh tidak hanya akan sukses sebagai tuan rumah, tetapi juga mampu menghadirkan perhelatan MTQ yang bermartabat dan berkesan.
Penetapan Aceh sebagai tuan rumah MTQ Nasional 2028 bukan sekadar kehormatan, tetapi juga amanah nasional. Momentum ini hendaknya menjadi sarana menguatkan kecintaan umat terhadap Al-Qur’an, sekaligus meneguhkan posisi Aceh sebagai daerah yang menjunjung tinggi syariat Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan berbangsa.*

0 facebook:
Post a Comment