Oleh: Abu Aly
Mari sejenak kita menoleh pada sosok agung Nabi Isa ‘alaihissalam, yang dikenal sebagai Ruhullah. Kelahiran beliau tanpa perantara seorang ayah merupakan bukti nyata betapa tak terbatasnya kekuasaan Allah Swt. Mukjizat yang dianugerahkan kepadanya pun luar biasa menyembuhkan orang buta, mengobati penyakit berat, bahkan menghidupkan yang mati dengan izin Allah.Namun di balik keagungan mukjizat tersebut, terdapat sisi yang jauh lebih menyentuh dan mendalam: kelembutan hati dan bakti kasihnya kepada sang ibu, Siti Maryam.
Al-Qur’an mengabadikan pengakuan mulia beliau: “Dan Dia menjadikan aku berbakti kepada ibuku, dan tidak menjadikan aku orang yang sombong lagi celaka.”
Ayat ini bukan sekadar kisah, melainkan cermin akhlak seorang nabi yang menempatkan ibunya dalam kedudukan yang sangat mulia. Nabi Isa ‘alaihissalam tidak hanya hadir sebagai pembawa risalah, tetapi juga sebagai anak yang penuh hormat, kasih, dan pengabdian.
Dalam keseharian, beliau dikenal sangat lembut dan penuh empati. Kasih sayangnya tidak hanya tertuju kepada ibunya, tetapi juga meluas kepada umat manusia, khususnya mereka yang lemah dan terpinggirkan.
Dalam tradisi yang berkembang, beliau digambarkan melayani dengan penuh kerendahan hati, bahkan mengajarkan langsung arti pelayanan kepada para pengikutnya. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada keajaiban atau kedudukan, melainkan pada ketulusan hati dalam memberi manfaat kepada sesama.
Dari kisah Nabi Isa ‘alaihissalam, kita belajar bahwa: Keimanan sejati melahirkan akhlak yang lembut dan penuh kasih; Kemuliaan seseorang terletak pada bakti kepada orang tua, khususnya ibu; Kerendahan hati adalah ciri utama para nabi dan orang-orang saleh; Menjadi bermanfaat bagi sesama adalah jalan menuju rida Allah Swt.
Jika seorang nabi yang memiliki mukjizat luar biasa tetap merendahkan diri dan berbakti kepada ibunya, maka tidak ada alasan bagi kita untuk bersikap sombong atau lalai.
Mari kita wujudkan satu langkah sederhana hari ini: temui ibu kita, cium tangannya, atau hubungi beliau jika berjauhan. Sampaikan kasih sayang kita, mohonkan doa darinya, dan bahagiakan hatinya walau dengan hal yang sederhana. Karena di sanalah salah satu pintu rida Allah SWT terbuka lebar.
Semoga Allah Swt menanamkan dalam hati kita kelembutan, kerendahan hati, kasih sayang yang tulus, serta mengumpulkan kita bersama para nabi dan orang-orang saleh.

0 facebook:
Post a Comment