LAMURIONLINE.COM | MOJOKERTO
— Di tengah hamparan hijau Wisata Padi Park, Mojokerto, suasana Rakernas perdana Pena Dai Nusantara terasa berbeda, Jumat (17/4/2026). Bukan hanya pertemuan para dai dari berbagai penjuru Indonesia, tetapi juga momentum lahirnya karya kolektif yang menyatukan gagasan, pengalaman, dan semangat kebangsaan: buku antologi Menjaga Merah Putih Nusantara.

Di antara puluhan penulis dari seluruh Indonesia, terselip tiga nama dari ujung barat Tanah Air—Aceh. Mereka adalah Tgk. Mukhlisuddin, Dr. Tgk. Ahyar, dan Tgk. Azmi Abubakar, penyuluh agama Islam asal Kabupaten Pidie yang turut menuliskan pengalaman dan refleksi mereka dalam merawat harmoni di tengah keberagaman masyarakat.

Bagi ketiganya, menulis bukan sekadar menuangkan kata, tetapi menjadi cara lain dalam berdakwah. Jika selama ini mereka hadir di mimbar, majelis taklim, dan ruang-ruang pembinaan umat, kini gagasan mereka diabadikan dalam lembaran buku yang bisa menjangkau lebih luas.

“Ini bukan hanya tentang kami, tetapi tentang bagaimana penyuluh di seluruh Indonesia berbagi pengalaman menjaga kebersamaan,” ungkap Tgk. Mukhlisuddin dengan nada penuh syukur.

Buku ini melibatkan 39 penulis dari 13 provinsi, masing-masing membawa cerita dari daerahnya. Dari Aceh hingga Papua, kisah-kisah itu merajut satu benang merah: pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi menjaga keutuhan bangsa.

Peluncuran buku tersebut dibuka oleh Kepala Subdirektorat Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama RI, Dr. H. Jamaluddin Marky. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa penyuluh agama memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai penyampai pesan keagamaan, tetapi juga sebagai penjaga harmoni sosial.

“Penyuluh agama adalah agen perubahan. Mereka bukan hanya berdakwah, tetapi juga membangun narasi keilmuan yang memperkuat persatuan bangsa,” ujarnya.

Bagi para penyuluh dari Pidie, keterlibatan dalam menulis buku ini menjadi kebanggaan tersendiri. Dari daerah yang dikenal kuat dengan tradisi keislaman, mereka membawa pesan bahwa nilai-nilai keislaman sejatinya sejalan dengan semangat kebangsaan.

Di tengah tantangan zaman mulai dari arus informasi yang tak terbendung hingga potensi gesekan sosial peran penyuluh menjadi semakin penting. Mereka hadir di tengah masyarakat, menjadi jembatan antara ajaran Islam dan realitas kehidupan yang terus berubah.

Melalui buku Menjaga Merah Putih Nusantara, pengalaman-pengalaman tersebut kini terdokumentasi. Ia bukan hanya kumpulan tulisan, tetapi juga rekam jejak pengabdian para penyuluh dalam menjaga Indonesia tetap utuh dalam keberagaman.

“Kami berharap buku ini bisa menjadi inspirasi, bukan hanya bagi penyuluh, tetapi juga masyarakat luas,” tambah Tgk. Mukhlisuddin.

Dari Pidie ke Mojokerto, dari mimbar ke lembaran buku, langkah kecil para penyuluh ini menjadi bagian dari upaya besar merawat Indonesia. Sebab pada akhirnya, menjaga Merah Putih bukan hanya tugas negara, tetapi juga panggilan setiap anak bangsa—termasuk mereka yang berdakwah dengan pena.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top