Oleh: Eriza M. Dahlan

Guru TK Kiddy Kid Center

Di tengah riuhnya kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti, ada satu ruang yang selalu setia menunggu, yaitu sajadah. Ia terhampar sederhana, tanpa suara, namun menyimpan begitu banyak cerita yang tak pernah diucapkan. Di atasnya, seseorang belajar untuk jujur kepada diri sendiri, pada luka, dan pada harapan yang masih tersisa. Ia hanya bisa menangis di saat yang lain tertidur, bercerita, dan bahkan mengutarakan isi hatinya. Hanya ia dan sunyinya malam yang tahu apa yang diceritakan.

Namun, tidak semua orang sampai ke sana di waktu yang sama. Ada yang datang di siang hari dengan doa yang terburu-buru dan ada yang memilih jalan sunyi bangun di sepertiga malam, saat dunia terlelap dan hanya hati yang berbicara.

Sepertiga malam bukan sekadar waktu. Ia adalah panggilan. Dalam heningnya, ada kesempatan yang begitu luas bagi seorang hamba untuk taubat. Kembali dari lelah yang tak terucap, dari kecewa yang dipendam, dari dosa yang disesali. Di waktu itu, seseorang berdiri, mengangkat tangan, dan menyadari bahwa tidak ada tempat pulang yang lebih tenang selain kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sajadah dan sepertiga malam menjadi ruang pemulihan yang sering kali tak terlihat oleh siapa pun. Di sana air mata jatuh tanpa perlu disembunyikan, doa dipanjatkan tanpa perlu dirapikan kata-katanya. Tidak ada penilaian, tidak ada tuntutan dan hanya kejujuran yang utuh antara hamba dan Sang Pencipta.

Banyak hal dalam hidup yang tak mampu diselesaikan oleh dunia. Jawaban tak selalu datang dari manusia, dan ketenangan tak selalu ditemukan dalam keramaian. Justru di saat sunyi itu, hati menemukan arah. Di atas sajadah, seseorang belajar bahwa tidak semua hal harus dipahami tapi cukup diserahkan dengan penuh ikhlas.

Bangun di sepertiga malam untuk shalat lail bukanlah perkara mudah, tetapi penuh tantangan. Ia menuntut niat, melawan kantuk, dan bahkan mengalahkan lelah. Namun justru di situ letak nilai perjuangannya. Setiap langkah menuju sajadah adalah bentuk kesungguhan. Setiap sujud merupakan pengakuan:  manusia memang lemah dan setiap doa bukti harapan masih hidup dan terus berusaha.

Ibn Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan, “Qiyamul lail adalah makanan ruh. Jika ditinggalkan, ruh akan melemah.

Ada keyakinan yang tumbuh pelan namun pasti: Allah tidak pernah jauh. Setiap doa, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia. Setiap air mata yang jatuh di seperti malam, akan menemukan jalannya untuk sampai.

Mungkin tak semua doa langsung Allah Swt kabulkan. Tak semua luka segera Allah pulihkan. Namun di sepertiga malam, seorang hamba belajar percaya sepenuhnya. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Menetapkan waktu terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Sepertiga malam jalan pulang yang tak pernah tertutup. Tidak peduli seberapa jauh seseorang tersesat, selalu ada ruang kembali. Selalu ada kesempatan mengetuk, memohon, dan berharap agar lebih baik.

Dan pada akhirnya, di antara sujud yang panjang dan doa yang lirih, kita tidak hanya meminta. Kita menemukan diri yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat dengan-Nya. Karena mungkin, yang paling kita butuhkan bukan sekadar jawaban melainkan keyakinan bahwa kita tidak pernah sendiri.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top