Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan
Kekayaan tidak selalu membawa keberuntungan. Pada kondisi tertentu, ia kehilangan nilai. ketika kesusahan datang, harta tak selalu menjadi penyelamat. Meski sering dibanggakan, ada waktu ketika ia sekadar benda tak berarti.
Harta semestinya diarahkan pada kebaikan agar memberi manfaat bagi pemiliknya. Kekayaan melimpah tanpa pemanfaatan di jalan Allah berubah menjadi fitnah. Sebaliknya, harta sedikit, dimanfaatkan dengan benar, mampu mengantar pada keberuntungan abadi.
Limpahan harta kerap menjerumuskan manusia ke dalam kesombongan, keangkuhan, dan sikap takabur. Dalam kisah disampaikan Abi Hasbi Al Bayuni pada Pengajian Muslimah Ahad Pagi di Dayah Thalibul Huda Bayu, harta bisa saja membawa pemiliknya menuju kemudaratan.
Dikisahkan, seorang saudagar kaya berjalan di padang pasir tandus. Di tengah perjalanan, persediaan air habis. Dahaga mencekik, sementara tak ada setetes pun tersisa.
Tiba-tiba ia melihat seorang pengembara masih memiliki air. Dengan penuh keangkuhan, saudagar berkata, “Bawakan air itu kemari. Aku haus. Akan kutukar dengan permata.”
Pengembara mendekat. Ia menuangkan air ke dalam gelas. Saudagar bersiap mengambilnya. Namun di luar dugaan, air itu justru ditumpahkan ke tanah di sampingnya.
Saudagar terkejut. Ia meminta lagi. Pengembara terus menuangkan air, lalu menumpahkannya berulang kali hingga tersisa sedikit.
Rasa cemas menguasai saudagar. Kesombongan runtuh. Dengan suara memelas, ia memohon, “Berikan sedikit air kepadaku. Aku sangat membutuhkan.”
Pengembara melihat perubahan sikap itu. Dari angkuh menjadi rendah hati. Ia pun menyerahkan sisa air sambil berkata, “Ambil dan minumlah.”
Saudagar segera meminumnya. Setelah itu, ia meminta maaf dan menyadari kesalahan. Pada saat tertentu, kemewahan dan harta tak bernilai. Seteguk air jauh lebih berharga dibanding permata.
Saudagar menawarkan seluruh permata. Pengembara menolak. Ia berpesan, “Harta tidak selalu mengangkat derajatmu. Kadang justru merendahkanmu serendah-rendahnya. Kesombongan hanya akan menghinakan dirimu.”
Pengembara lalu melanjutkan perjalanan. Saudagar tetap bersimpuh, memandang kepergian dengan kesadaran baru.
Kisah ini menjadi ibrah. Harta tidak selalu mendatangkan manfaat. Air satu kolam tidak dibutuhkan saat berwudhu, cukup satu timba.
Karena itu, infakkan harta di jalan Allah. Dengan itu, hati terjaga dari kesombongan, jiwa terbimbing menuju kemuliaan.*

0 facebook:
Post a Comment