LAMURIONLINE.COM | ACEH TENGAH
— Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Aceh kembali memberikan layanan kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan berbasis gender (KBG), serta dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di Kemukiman Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Senin (3/8).

Pelayanan dilaksanakan di tiga kampung, yakni Delung Sekinel, Kute Reje, dan Reje Payung. Ketiga kampung tersebut merupakan wilayah yang terdampak cukup parah akibat banjir dan longsor pada 2025. Hingga kini masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan pascabencana, mulai dari kerusakan infrastruktur, terbatasnya akses layanan dasar, hingga krisis air bersih akibat tercemarnya sejumlah sumber mata air.

Program ini merupakan kolaborasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dengan United Nations Population Fund (UNFPA) yang telah berlangsung selama tiga bulan di Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tamiang. Kedua wilayah tersebut menjadi daerah prioritas karena mengalami dampak paling besar akibat bencana hidrometeorologi.

Selama pelaksanaan program, relawan MDMC telah menjangkau berbagai wilayah terdampak, termasuk daerah-daerah yang sulit diakses. Kemukiman Jamat di Kecamatan Linge menjadi lokasi pelayanan dengan jarak terjauh yang dijangkau tim selama program berlangsung. Berjarak sekitar 57 kilometer dari Kota Takengon dengan waktu tempuh sekitar tiga setengah jam melalui jalur pegunungan, wilayah ini masih menghadapi tantangan pemulihan infrastruktur dan terbatasnya akses terhadap layanan dasar.

Sekretaris MDMC Aceh, Syukri Karim, M.Psi., mengatakan bahwa meskipun masa transisi darurat bencana telah berakhir, masyarakat masih membutuhkan pendampingan berkelanjutan, khususnya kelompok rentan seperti perempuan, ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, penyandang disabilitas, dan lanjut usia.

"Pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika status tanggap darurat dicabut. Masyarakat masih membutuhkan layanan kesehatan, pendampingan psikososial, serta edukasi agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan lebih baik," ujarnya.

Pelayanan medis dipimpin oleh dr. Hardianis selaku dokter dalam tim medis program ini. Kali ini dengan melibatkan dua dokter dari PD Muhammadiyah Aceh Tengah. Ada enam bidan, tiga relawan, satu koordinator Ruang Ramah Perempuan dan Anak, serta satu koordinator wilayah. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan reproduksi, penyuluhan, pemeriksaan kehamilan menggunakan ultrasonografi (USG), edukasi kesehatan, serta dukungan psikososial bagi anak-anak dan keluarga penyintas.

Kegiatan tersebut juga didampingi oleh fasilitator Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah, dr. Aslinar, Sp.A., yang turut memantau jalannya pelayanan sekaligus memberikan pengobatan pada pasien anak. 

Dalam pelaksanaan kegiatan, tim juga mendapat kunjungan monitoring dari mitra program. Hadir Rahmi Dian Agustino dan Itsnain Bagus dari UNFPA sebagai tim komunikasi yang melakukan dokumentasi dan pemantauan pelaksanaan program di lapangan. Sementara itu, Nur Asiah dari MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Yuniar Wardani dan Fatihah Nur dari Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah turut melaksanakan monitoring untuk memastikan pelaksanaan layanan kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan berbasis gender, dan dukungan psikososial berjalan sesuai standar serta menjawab kebutuhan masyarakat terdampak.

Fasilitator EMT Muhammadiyah, Dr. dr. Aslinar, Sp.A., M. Biomed menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan penyakit kulit masih menjadi keluhan yang paling banyak dialami anak-anak. Selain itu, tim juga menemukan kasus gangguan gizi, gangguan tumbuh kembang, serta infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Kasus dermatitis masih cukup dominan. Selain pemeriksaan, kami juga memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak," jelasnya.

Koordinator Program Kesehatan Reproduksi dan Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) MDMC–UNFPA di Aceh Tengah, Jarnida, mengatakan bahwa persoalan air bersih masih menjadi tantangan besar bagi masyarakat di sejumlah kampung. Sejak banjir melanda, beberapa sumber mata air mengalami pencemaran sehingga kualitas air menurun dan belum sepenuhnya layak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain pelayanan kesehatan, relawan psikososial juga mengadakan berbagai kegiatan bagi anak-anak, seperti membaca nyaring (read aloud), permainan edukatif, dan permainan tradisional sebagai bagian dari upaya pemulihan psikososial pascabencana. Kegiatan tersebut diharapkan mampu membantu anak-anak kembali merasa aman, berani berekspresi, serta memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan di tengah proses pemulihan.

Hingga saat ini proses rehabilitasi di Kecamatan Linge masih berlangsung. Perbaikan jalan, pembangunan dinding penahan tanah, serta pemulihan berbagai fasilitas umum terus dilakukan agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.

Melalui kolaborasi ini, MDMC bersama UNFPA berharap masyarakat terdampak bencana, khususnya kelompok rentan, tetap memperoleh akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, perlindungan dari kekerasan berbasis gender, serta dukungan psikososial selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top