Oleh: Muhibuddin Hanafiah

Aceh, nasibmu sungguh malang. Dari sebuah bangsa yang besar dan dikenal oleh bangsa-bangsa hebat di dunia pada masanya  kini hanya sebuah wilayah dalam sebuah negara yang masih mencari arahnya.  Sejarah Aceh selanjutnya belum juga membaik dan kembali ke masa kejayaannya. Realitas kekinian Aceh masih belum berubah sebagaimana harapan. Ketidakberuntungan masih menyelimuti tanah rencong ini paling tidak sejak berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Selanjutnya setelah Aceh bergabung  dengan NKRI Aceh harus memodali negara itu. Setelah menjadi daerah modal untuk republik muda ini, Aceh diistimewaan sejenak. Tidak lama waktu berselang,gelar keistimewaan itupun dicabut kembali oleh republik.  Setelah diskriminasi demi diskriminasi terhadap Aceh, namun Aceh dilarang berisik. Merasa dikhianati dan seperti tidak tahu cara berterima kasih kemudian Aceh melawan.  Perlawanan Aceh bukan justru menyadarkan penguasa negara itu melainkan semakin menyakiti Aceh dengan moncong senjata, pembunuhan dan penumpasan heroisme Aceh dengan berbagai cara yang keji. Aceh semakin menderita, sengsara dan tidak berdaya. Beberapa kali Aceh mencoba bangkit dan berusaha berbenah  tetapi kemudian dihempas lagi. Sampai hari ini Aceh masih tertatih-tatih, kondisinya tertinggal jauh dari bangsa-bangsa di dunia yang dahulu pernah merasakan kemajuan yang sama.  

Penindasan terhadap Aceh datang silih berganti, dari bangsa penjajah luar,  bangsa sendiri hingga sesama bangsa Aceh sendiri. Kini nasib Aceh dalam keadaan terkapar, babak belur dan nyaris fana.  Tidak ada yang mau merawat luka dan kepedihan nasib Aceh, kecuali mereka menari-nari di atas luka Aceh yang telah bernanah dan mulai membusuk. Adakah Aceh menyesal dan meratapi nasib sungguh malang betul ini? Tentu saja Aceh sangat kapok dan sungguh mengalami penyesalan yang sangat mendalam. Namun apalah daya nasi telah menjadi bubur, asa tidak seindah untung, penyesalan tidak pernah hadir di awal tetapi selalu datang di waktu kemudian. Tetapi meratapi nasib yang malang bukan sebuah solusi yang disarankan. Generasi (bijeh-bijeh) Aceh  yang baru, muda balia dan masih bersih dari penyakit sakit-menyakiti diharapkan mengambil alih Aceh, membenahi benang kusut Aceh dan mengurus Aceh untuk Aceh sendiri.

Mari menata Aceh kembali walau diawali dengan mimpi-mimpi. Pertama, tanamkan kembali spirit Aceh pada sanubari bijeh-bijeh Aceh. Apa itu spirit Aceh? yaitu jihad atau kobaran api jiwa yang tak pernah padam di atas kebenaran, tegak berdiri di atas kaki sendiri, tidak mau diperbudak (dipeulamiet) oleh sesama manusia; heroisme anti penindasan manusia atas manusia adalah spirit Aceh yang tela lama menghilang pada penguasa aceh sekarang. Spirit Aceh yang lain adalah berani syahid; kerelaan paling tulus tanpa pamrih pada pembalasan duniawi pasca jihad. Miris pada Aceh hari ini yang tiada lagi memiliki dua spirit khas Aceh ini. Keberanian jihad dan syahid demi harga diri, agama dan bangsa seperti yang telah dilakukan oleh Teuku Umar Johan Pahlawan tidak ada lagi pada tetua Aceh hari ini. Mereka telah dihalusinasi dengan hubbud dunya sehingga takut berjihad dan tidak siap syahid.

Kedua, dalam menghadapi dunia luar, identitas Aceh wajib dibangkitkan kembali, yaitu identitas yang percaya diri tetapi terbuka. Aceh tidak perlu memilih antara identitas lokal dan modernitas. Justru kekuatannya bisa berada pada kombinasi ruh Islam dipadukan dengan budaya Aceh, intelektulitas, perdagangan dan teknologi. Aceh tercatat dengan tinta emas bahwa kejayaan tidak lahir dari keterasingan, tetapi dari kemampuan menjadi bagian penting dari jaringan dunia. Kosmopolitas Atheh yang telah bersentuhan dengan bangsa-bangsa besar dunia itu nyata dan meyejarah. Pergaulan Aceh dalam lingkup internasional dengan bangsa eropa, amerika dan afrika bukan dongeng atau legenda. Dua mimpi ini adalah pekerjaan awal yang wajib ditumbuhkan pada bijeh-bijeh belia Aceh sekarang ini. Kepada mereka kita titip Aceh untuk merdeka dari sikap dan perilaku lamiet sebagaimana yang diperagakan oleh penguasa aceh sekarang. Merdehka! 

Penulis adalah Akademisi Darussalam

SHARE :

0 facebook:

 
Top