Oleh: Bahriar Syah, S.Sos.I., M.Sos.
Penyuluh KUA Kec. Kutablang
Jembatan baru Kutablang resmi dibuka, Minggu, 20 September 2026. Bagi orang luar mungkin ini berita biasa: bangunan beton selesai, pita digunting, lalu kendaraan melintas seperti di jembatan lain. Tapi bagi kami yang tinggal dan bekerja di sekitar Kutablang, hari ini terasa lain. Ada kelegaan yang tertahan hampir sepuluh bulan.
Kita masih ingat 26 November 2025. Bencana hidrometeorologi datang, air naik, arus menghantam, dan jembatan yang menyatukan dua sisi kehidupan masyarakat itu putus. Rutinitas anak sekolah ikut putus. Begitu juga jalur pedagang ke pasar, akses petani mengangkut hasil kebun, dan jalan orang sakit menuju puskesmas.
Lalu dibangunlah jembatan bailey sebagai solusi darurat. Kita bersyukur, sebab tanpanya penderitaan masyarakat jauh lebih berat. Tapi solusi darurat selalu ada konsekuensinya. Lebarnya terbatas, kekuatannya terbatas, jadi diberlakukan sistem buka tutup. Satu arah jalan, arah lain menunggu bergantian. Di situ, jujur saja, wajah kita sebagai masyarakat ikut terlihat.
Wajah Kita di Ujung Antrean
Antrean panjang jadi pemandangan harian. Panas, debu, klakson, mesin yang dibiarkan hidup, dan waktu yang terasa merayap. Kesabaran orang diuji satu per satu, dan harus diakui, sebagian dari kita tidak lulus.
Ada yang menerobos. Ada yang lewat jalur kiri, menyalip puluhan kendaraan yang sudah menunggu sejak tadi, lalu menyelinap ke depan. Ada juga yang lebih menyakitkan: selembar dua puluh ribu berpindah tangan, dan urusan langsung beres. Jalan yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka.
Akibatnya bisa ditebak. Cekcok di tengah jalan, kata-kata kasar bersahutan, beberapa kali nyaris berkelahi, hanya karena urusan siapa duluan. Orang yang sudah menunggu empat puluh menit tentu panas hatinya melihat orang lain lewat begitu saja karena punya uang dua puluh ribu, atau karena tidak tahu malu.
Antrean dan Keadilan
Banyak orang mengira antre itu cuma soal tertib lalu lintas. Padahal ada hak di dalamnya. Yang lebih dulu datang, lebih dulu berhak lewat. Menerobos berarti mengambil giliran orang lain tanpa izin.
Kita tidak mau diserobot, tapi kita menyerobot. Kita marah kalau hak kita diambil, tapi mengambil hak orang lain. Sikap seperti ini sudah digambarkan Al-Qur'an tentang orang-orang yang curang: "(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi." (QS. Al-Muthaffifin: 2-3). Untuk diri sendiri minta penuh, untuk orang lain dikurangi. Begitu juga orang yang menerobos antrean: haknya dijaga, hak orang lain dipotong.
Obatnya ada pada sabda Rasulullah SAW, "Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini biasanya kita bacakan di mimbar dalam konteks yang besar-besar. Padahal ujiannya sering justru di tempat yang sangat sederhana, seperti antrean jembatan bailey di bawah terik matahari, saat kita punya kesempatan curang dan tidak ada yang melihat. Jadi yang bermasalah sebenarnya bukan jembatannya, tapi cara kita memandang orang lain.
Sabar Bukan Berarti Pasrah
Sebagian orang menganggap sabar itu sikap orang lemah. Padahal dalam Al-Qur'an, sabar disandingkan dengan pertolongan Allah: "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153).
Sabar di antrean bukan menyerah pada keadaan. Sabar berarti tetap memilih cara yang benar, meskipun cara yang salah tersedia dan menggoda.
Rasulullah SAW pernah dimintai wasiat oleh seorang sahabat. Beliau hanya menjawab, "Jangan marah." Sahabat itu mengulang permintaannya berkali-kali, dan jawabannya tetap sama: "Jangan marah." (HR. Bukhari). Nasihat ini terasa sekali kalau kita ingat cekcok di tepi jembatan berbulan-bulan kemarin.
Marah tidak pernah mempercepat antrean. Ia hanya memperpanjang masalah, dan kadang meninggalkan permusuhan antartetangga yang lebih awet daripada jembatan darurat itu sendiri.
Orang Aceh punya ungkapan yang pas untuk ini: hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut, hukum dan adat seperti zat dengan sifatnya, tidak bisa dipisahkan. Aturan buka tutup di jembatan itu sudah ada, yang sering kurang adalah kesediaan menjalankannya saat tidak ada yang mengawasi.
Jembatan Baru, Ujian Baru
Hari ini jembatan sudah tersambung kembali. Tidak ada lagi buka tutup, tidak ada lagi antrean panjang di bawah terik. Warga bisa lewat dengan lega, dan itu patut kita syukuri.
Tapi jembatan yang putus karena bencana bisa disambung dalam hitungan bulan, sedangkan kesabaran dan kejujuran yang sempat retak di antrean kemarin tidak semudah itu. Itu tugas kita masing-masing. Ujian yang sebenarnya justru mulai sekarang, ketika jalan sudah lancar dan tidak ada lagi yang memaksa kita antre. Antrean lain masih akan kita temui di loket pelayanan, kantor desa, dan pasar. Semoga kita tetap tertib di sana, bukan karena ada yang mengawasi, tapi karena sadar Allah melihat.
Jembatan ini juga amanah bersama. Rasulullah SAW menyebut menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai salah satu cabang iman (HR. Muslim). Menjaganya agar tidak rusak dan tidak jadi tempat yang membahayakan pengguna jalan termasuk di dalamnya.
Selamat atas dibukanya jembatan baru Kutablang. Semoga yang tersambung hari ini juga akhlak kita.*

0 facebook:
Post a Comment