Oleh: Syahrati, S. HI., M. Si. 

Penyuluh Agama Islam Aceh

Kita sering mendengar ungkapan be yourself: jadilah dirimu sendiri. Pesannya baik, yaitu jangan berpura-pura menjadi orang lain. Namun ada pertanyaan yang jarang kita ajukan: bagaimana jika "diri sendiri" yang kita pertahankan itu masih penuh kekurangan?

K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, memberi sudut pandang lain dalam pidatonya pada peringatan 100 tahun Gontor: "To be good is not good enough. Why not the best? Be the best, even the best can be improved." Perhatikan kalimat terakhirnya. Bahkan yang terbaik pun masih bisa diperbaiki. Artinya, tidak ada titik di mana kita boleh berhenti bertumbuh.

Dari gagasan itulah saya mengolah be your best. Maksudnya bukan menjadi orang lain. Kita diminta mengenali diri sendiri, lengkap dengan potensi dan kekurangannya, lalu mengusahakan agar semuanya berkembang ke arah yang lebih baik.

Orang yang mudah marah tidak harus berpura-pura tenang, tetapi ia bisa belajar mengendalikan amarahnya. Orang yang pemalu tidak harus menjadi pandai bicara, tetapi ia bisa belajar berani menyampaikan kebaikan. Orang yang pernah gagal tidak perlu menghapus masa lalunya; cukup menjadikannya bagian dari proses bertumbuh.

Semakin besar amanah yang dipegang, semakin mahal harga kalimat "memang saya begini". Kekurangan seorang pemimpin, entah mudah marah atau terburu-buru memutuskan tanpa klarifikasi, tidak berhenti pada dirinya, tetapi menjalar kepada orang-orang yang dipimpinnya. Karena itu Al-Qur'an memerintahkan kita memeriksa kabar terlebih dahulu agar tidak mencelakakan orang karena ketidaktahuan (QS. Al-Hujurat: 6). Bagi pemegang amanah, menjadi diri sendiri saja tidak cukup; ia wajib terus memperbaiki diri demi orang-orang yang bergantung padanya.

Kabar baiknya, karakter bisa dibentuk. Imam al-Ghazali dalam lIhya' Ulumiddin menegaskan bahwa akhlak dapat diperbaiki melalui latihan dan perjuangan melawan hawa nafsu. Rasulullah saw. bersabda bahwa orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah (HR. Bukhari dan Muslim). Psikologi modern sejalan: Carol Dweck dalam Mindset menunjukkan bahwa keyakinan bahwa sifat dan kemampuan bisa dikembangkan mendorong orang terus belajar, sementara Daniel Goleman menempatkan kesadaran diri dan pengendalian emosi sebagai fondasi kepemimpinan yang efektif.

Karena itu pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang pintar atau memiliki banyak sertifikat. Pendidikan semestinya membantu seseorang menjadi manusia yang berilmu, berkarakter, berintegritas, dan bermanfaat.

Rumusan Kiai Hasan pun tidak berhenti pada be the best. Beliau melanjutkannya dengan do the best, you have the best. Pribadi yang baik melahirkan tindakan yang baik, dan tindakan yang baik membuahkan hasil yang baik. Kita tidak bisa menuntut hasil terbaik dari proses yang asal-asalan.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan "Sudahkah aku menjadi diriku sendiri?", melainkan: "Apakah hari ini aku sudah menjadi versi terbaik dari diriku?"

Ada hal dalam diri yang perlu diterima, dan ada yang perlu diperbaiki. Ada karakter yang layak dipertahankan, dan ada kebiasaan yang harus ditinggalkan. Kita tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi hebat. Kita hanya perlu terus bertumbuh dari siapa diri kita hari ini.

Kenali dirimu. Terima dirimu. Perbaiki dirimu. Karena "apa adanya" bukan berarti "selamanya begini."

SHARE :

0 facebook:

 
Top