Oleh: Nurjannah, S.Ag.

Penyuluh Agama Islam Bireuen


Ada seorang warga yang hampir tiap pekan membantu tetangganya. Suatu hari sampai juga ke telinganya bisik-bisik: "Ah, dia itu cuma mau dipuji." Ia terdiam. Mungkin malam itu ia bertanya pada dirinya sendiri, masih perlukah kebaikan ini diteruskan? Jujur saja, pertanyaan itu pernah singgah juga di hati kita.

Saya menulis ini dengan satu keyakinan: prasangka orang tidak boleh membuat kita berhenti berbuat baik. Sedih karena disalahpahami itu wajar, tidak perlu dipungkiri. Tapi sedih bukan alasan untuk mundur.

Dari Mana Prasangka Datang

Orang sering menilai dari potongan yang ia lihat, lalu menyambungkannya dengan pengalaman dan kecurigaannya sendiri. Niat baik dibilang pencitraan, kerja keras dituduh cari muka, yang pendiam dikira sombong.

Akibatnya bisa panjang. Ada yang jadi ragu berbuat baik, menarik diri, bahkan kehilangan semangat melayani. Ketulusan memang kerap diuji, dan yang menguji sering bukan beratnya pekerjaan, tetapi komentar yang meragukan niat kita. Kalau kita berhenti, prasangka itu menang dua kali: perasaan kita terluka, kebaikan kita pun ikut padam.

Islam Menyikapi Prasangka

Islam menganggap buruk sangka sebagai perkara serius. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, Allah memerintahkan orang beriman menjauhi banyak prasangka, sebab sebagian prasangka itu dosa.

Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa prasangka adalah ucapan yang paling dusta (HR. Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563).

Al-Qur'an juga mengajarkan tabayyun. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, orang beriman diminta meneliti kabar yang sampai kepadanya agar tidak mencelakakan orang lain karena gegabah. Dan sejarah mencatat, orang semulia Aisyah radhiyallahu 'anha pun pernah difitnah dalam peristiwa haditsul ifk, sampai Allah menurunkan Surah An-Nur ayat 11-20 untuk membersihkan namanya. Kalau beliau saja diuji seperti itu, kita tak perlu kaget saat mengalaminya.

Lalu Bagaimana Kita Bersikap?

Yang pertama, jujurlah memeriksa diri, tapi jangan langsung membenarkan semua tuduhan. Tanyakan pelan-pelan: adakah yang benar dari kritik itu? Kalau ada, perbaiki. Kalau tidak, lepaskan. Kritik yang jujur membuat kita tumbuh, sedangkan prasangka hanya menambah beban tanpa arah.

Kedua, klarifikasi seperlunya saja. Bicara tenang kepada orang yang tepat lebih berguna daripada membela diri di depan semua orang. Ada ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi'i rahimahullah bahwa ridha seluruh manusia tidak mungkin diraih. Kita tidak bisa mengatur isi kepala orang lain, yang bisa kita jaga hanyalah isi hati sendiri.

Ketiga, sandarkan diri pada penilaian yang lebih tinggi. Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta kita, tetapi hati dan amal kita (HR. Muslim no. 2564). Apa yang tak sanggup kita jelaskan kepada manusia, bisa kita adukan kepada-Nya dengan tenang.

Sabar di sini bukan berarti pasrah dan diam. Sabar adalah tetap melangkah dengan kepala tegak, tetap ramah pada orang yang meragukan kita, dan membiarkan konsistensi yang menjawab.

Jangan-jangan Kita Sendiri Pelakunya

Orang yang pernah terluka oleh prasangka seharusnya paling hati-hati agar tidak menjadi pelakunya. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dalam tafsir ayat ini, menasihati agar kita jangan berburuk sangka pada ucapan saudara seiman selama masih ada jalan untuk memahaminya dengan baik.

Hari ini nasihat itu terasa makin dekat. Sepotong unggahan atau satu tangkapan layar tanpa konteks sudah cukup membuat ratusan orang menilai seseorang yang tak mereka kenal. Klarifikasi biasanya datang belakangan, saat tuduhan sudah ke mana-mana. Jadi tahan jempol sebelum membagikan, tahan hati sebelum menghakimi. Mulailah bertanya sebelum menuduh dan menyapa sebelum curiga, dari lingkaran terkecil: keluarga, tetangga, rekan kerja, jamaah.

Soal tetangga tadi, ia tidak perlu berhenti membantu hanya karena ada yang berbisik. Kata-kata yang menyakitkan akan lewat, amal yang tulus akan tinggal. Teruslah bekerja dengan jujur, jaga lisan, dan tetaplah berbuat baik walau tidak semua orang percaya. Kebaikan yang dilakukan karena Allah tidak butuh tepuk tangan siapa pun.

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top