LAMURIONLINE.COM I JAKARTA — Bencana banjir kembali menerjang sejumlah wilayah di Provinsi Aceh. Kejadian yang seolah telah menjadi agenda rutin tahunan ini memicu keprihatinan mendalam sekaligus kritik keras dari berbagai pihak, salah satunya Forum Reformis Muda Aceh.
Perwakilan Forum Reformis Muda Aceh, Sulthan Aminy, menyoroti tumpulnya peran Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam mengantisipasi serta menghentikan kehancuran lingkungan di Aceh. Ia menilai bencana ini bukan sekadar faktor alamiah semata, melainkan buah dari kesalahan tata kelola pemerintahan dan pengalihan fungsi hutan yang mengabaikan aspek ekologis.
"Melihat Indonesia sebagai negara demokrasi, kita sering berpikir bahwasanya masyarakat memiliki kendali atas negara ini. Namun faktanya, di tengah klaim demokrasi, kenapa yang terus dikorbankan ialah paru-paru dunia di Kalimantan, hutan-hutan di Papua, hingga hutan di Aceh, dan siapa yang merasakan nilai manfaat dan juga siapa yang mendapatkan musibah" tegas Sulthan Aminy dalam keterangannya di Jakarta.
Sulthan menekankan bahwa banjir yang melanda Aceh saat ini merupakan bentuk bencana ekologi.
"Secara religi, memang benar Tuhan memberi kita cobaan. Namun, kita harus membuka pikiran: kenapa cobaan ini terjadi? Cobaan ini pada hakikatnya adalah petunjuk bagi masyarakat bahwa alam kita telah dikeruk habis oleh para pemangku kepentingan yang kerap mengatasnamakan diri berpihak pada rakyat," ujarnya.
Hingga hari ini, banjir masih menggenangi berbagai titik di Aceh dan memaksa sebagian masyarakat untuk mengungsi ke lokasi yang aman. Berdasarkan catatan Forum Reformis Muda Aceh, titik banjir terparah tersebar di beberapa daerah, meliputi, Aceh Barat, Aceh Selatan, Pidie Jaya, Gayo Lues, Nagan Raya, Serta wilayah sekitarnya.
Forum Reformis Muda Aceh mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk tidak lagi bersembunyi di balik narasi "bencana alam", melainkan segera mengevaluasi izin pengelolaan lingkungan, menghentikan eksploitasi hutan secara masif, dan mengembalikan fungsi hutan Aceh sebagai penopang kehidupan serta pelindung ekologis bagi masyarakat.*

0 facebook:
Post a Comment