Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Apakah yang paling penting untuk kita cari dalam pernikahan? Dialah barakah. Hadirnya barakah menjadikan pernikahan berlimpah kebaikan. Barakah itu pula yang perlu senantiasa kita jaga dalam pernikahan. Hilang barakah, hilanglah kebaikan atas apa yang ada dalam pernikahan.

Bagaimanakah kita menjaganya? Menjaga, menata dan memperbaiki niat yang darinya mempengaruhi tujuan pernikahan serta menjaga diri. Pada saat yang sama kita menjaga diri dari memimpikan hal yang tidak penting. Pergi ke luar negeri tak perlu jadi obsesi sehingga segala daya dikerahkan hanya untuk berkunjung ke negeri orang. Hanya tiga tempat yang layak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh untuk mendatanginya, yakni Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Di luar itu, jika memang ada rezeki atau memang ada keperluan, negeri seberang yang berbatasan ataupun yang berbeda benua, bukanlah tempat yang terlalu jauh.

Terlarang mengunjungi negeri-negeri yang berbeda? Tidak. Terlebih jika ada manfaatnya atau dalam rangka amal shalih. Tetapi janganlah ia menjadi obsesi dan hal paling membanggakan.
Sesungguhnya perusak agama itu cuma dua, yakni fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Maka, dua hal itu pula yang perlu kita jauhi. Apa hubungan fitnah syubhat dan syahwat dengan menjaga barakah dalam pernikahan? Fitnah syahwat melalaikan tujuan sehingga niat keruh.
Belasan atau puluhan tahun menikah pun, kita perlu senantiasa menjaga niat memperbaiki tujuan (O Allah, jaga pernikahan kami dan selamatkanlah dari fitnah).

Jika fitnah syahwat sudah menerpa, awalnya mungkin hanya soal harta atau kuasa, tapi ia dikejar karena tergila padanya, maka tak aneh jika ia berubah menjadi mudah tergoda oleh rupa. Awalnya nikah karena dakwah, lalu runtuh begitu saja (semoga kita terhindar darinya).

Sangat berbeda seseorang yang melangkah karena alasan agama (cerai, pisah sesaat atau pun menikah lagi) dengan yang disebabkan fitnah syahwat. Jika karena sebab syahwat dunia seseorang berpaling dari istri yang ia nikahi sungguh-sungguh karena alasan agama, maka bukan aneh keburukan mendekat kepadanya sementara kebaikan semakin sulit ia raih. Inilah yang perlu kita khawatiri dalam pernikahan.

Bagaimana dengan fitnah syubhat? Ia menghancurkan pemikiran, keyakinan, iman dan bahkan aqidah. Ini pun turut mempengaruhi pernikahan.
SHARE :
 
Top