Loading...

Oleh Dr. Sri Suyanta Harsa, MAg
Dosen FTK UIN Ar-Raniry

Sumber ilustrasi: imajirino.tumblr.com
Muhasabah 2 Safar 1442
Saudaraku, dalam keyakinan Islam, sejak ruh diciptakan oleh Allah di alam dzuriat apalagi saat sudah ditiupkanNya ke dalam janin saat di alam kandungan dalam rahim ibu, maka sejatinya hidup setiap ruh itu kekal abadi. Setidaknya ini mengikuti pendapat filosof muslim kenamaan Zakaria Al-Razi, bahwa ruh manusia sebagai bagian dari jiwa universal merupakan salah satu di antara yang kekal abadi setelah diciptakan Allah Yang Maha Kekal, di samping materi, ruang dan waktu. 

Hanya saja dalam perjalanan takdirnya, ruh setiap diri mengalami dinamika dan hidup di alam yang berbeda-beda, anggap saja singgah di terminal ke terminal berikutnya.  Pada mulanya manusia hidup di alam dzuriyat, lalu hidup di alam kandungan, kemudian hidup di alam dunia, dan selanjutnya hidup di alam barzah dan terakhir di alam akhirat sampai sesempurna nyata keabadiannya. Dengan demikian hidup itu panjang nan abadi, dalam artian bahwa ruh tidak pernah mati, yang ada hanya pindah alam saja, maka hidup itu sejatinya abadi. Adapun yang tidak abadi itu hidup di alam dzuriyat, hidup di alam kandungan dan hidup di alam dunia ini. Setelah meninggalkan dunia ini, maka ruh akan mengalami keabadian di akhirat.

Pertama, hidup di alam dzuriyat. Alam dzuriyat ini terminal pertama. Semua ruh manusia sejak ruhnya Nabi Adam as sampai ruhnya manusia akhir zaman diciptakan oleh Allah di alam dzuriyat. Sekarang sudah berapa ruh manusia yang diturunkan oleh Allah ke setiap diri dari masing-masing masa di kehidupan dunia ini, hanya Allah yang mengetahui jumlah persisnya. Dan sekarang masih tersisa berapa ruh lagi yang ngantri akan diturunkan ke dunia ini via kandungan ibunda, juga hanya Allah yang maha mengetahui.

Kedua, hidup di alam kandungan. Alam kandungan  merupakan terminal kedua dimana setiap ruh manusia dihembuskan oleh Allah kepada setiap janin selagi masih beberapa pekan di dalam kandungan seorang ibu dan hidup disini sekitar sembilan bulan.

Ketiga, alam dunia. Alam dunia merupakan terminal ketiga ditandai dengan lahir atau keluarnya setiap diri dari rahim sang ibunda. Terlahir ke dunia rasanya sudah berbebas dari alam kandungan yang telah meninabobokkan kita selama sekitar sembilan bulan sebelumnya. Dan berharap hal yang sama dialami setelah meninggalkan dunia yang fana ini menuju keabadian yang sempurna di akhirat nanti. Dengan demikian perpindahan dari alam satu ke alam lainnya idealnya dimaknai sebagai pembebasan diri dari keterkungkungan alam sebelumnya. Ibarat anak ayam saat menetas keluar dari kelopak kulit yang sebegitu kecil menghimpitnya, akan mengalami keterbebasan pasca menetas, kemudian anak ayam bisa merasakan hidup yang lebih luas dan leluasa daripada yang dialami di alam sebelumnya. Oleh karena itu, siapapun diri kita tidak ada yang berkeinginan masuk lagi ke rahim ibu kita, meskipun di sana sudah numpang makan minum dan bahagia bersama ibu yang mengandung kita. 

Keempat, alam barzah. Alam barzah ini merupakan terminal keempat, dijalani setelah ruh seseorang meninggal dunia, sehingga disebut alam kubur. Pada saatnya ruh menuggu dan akan dibangkitkan untuk menerima putusan balasannya di surga atau di neraka. 

Idealnya  setelah "kematian" atau meninggalkan dunia yang fana ini menuju alam barzah (awal alam akhirat), sama seperti saat setelah dilahirkan dari rahim ibunda. Yakni tidak ada yang berkeinginan dihidupkan lagi ke dunia. Tetapi ini bisa terjadi hanya ketika di alam dunia sudah mensyukuri hidup di sini, yakni menjadi  orang beriman yang senantiasa menanam kebaikan, dan telah banyak menyemai kebajikan, sehingga di akhirat tinggal memetik buahnya saja. Maka dunia itu sawah ladang atau mazra'atul akhirat, dan akhirat itu dunia cita cinta yang keabadiannya sempurna.

Bagi orang beriman yang senantiasa beramal shalih, saat meninggalkan dunia ini, ruhnya kemudian akan terbebas dari keterkungkungan pada fisik atau raganya yang sebegitunya saat di alam dunia ini.

Kelima, alam akhirat. Di sinilah terminal keabadian dimana seluruh perjalanan selesai ditunaikan. Seluruh ruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya untuk menerima pengadilan Ilahi. Mading-mading akan dibangkitkan dengan wajah dan kejadian sebagaimana "wajah" dan perilakunya saat di dunia. Ada yang dibangkit berwajah elok rupawan cerah sumringah bahkan bersinar bagai matahari dan menerima catatan amal dengan tangan kanannya. Tetapi juga ada yang sebaliknya, bahkan penyesalannya nampak sejak di alam kuburnya.

Adapun orang-orang kafir dan orang Islam yang lalai, saat di akhirat mereka menginginkan dapat dikembalikan ke dunia agar dapat beriman dan beramal shalih. Suatu keinginan yang sangat imposible, tak mungkin, jelas-jelas tak akan pernah terpenuhi. Allah berfirman yang artinya, Wahai Rabb kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Mukminun 107)

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin". (QS Al-Sajdah 12)

Sementara orang-orang beriman dan gemar beramal shalih diberitakan dalam banyak ayat dan riwayat akan menerima balasan surga yang sarat dengan kebahagiaan yang kekal abadi. Seperti Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya (Qs. Al-Bayinah 7-8)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya. (QS Al-Kahfi 107-108)

Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Editor: smh
SHARE :
 
Top