Oleh: Abu Lampanah


Setelah Abu muhammad berpulang ke rahmatullah baru-baru ini, kami merasa kehilangan seorang jamaah masjid yang selalu mengisi shaf paling depan. Kehilangan seorang jamaah shalat lima waktu tak mudah tergantikan. Biasanya “orang masjid” itu-itu saja. Lama-lama dan bahkan secara alamiah bertambah dengan sendirinya. Bertambah satu dan satu orang. Belum ada target penambahan jumlah jamaah shalat lima waktu yang direncanakan dengan baik. 

Syukurlah masjid kami salah satu masjid yang sering disinggahi Jamaah Tabligh, yang biasanya menginap selama tiga malam. Kelebihan Jamaah Tabligh, yang berpusat Cot Goh, Aceh Besar, mereka mendatangi rumah-rumah penduduk untuk mengajak shalat berjamaah. Mereka petakan juga jamaah mana yang biasanya berjamaah, namun selama ini jarang datang ke masjid. Mereka menanyakan kabar selama ini, apa masalah yang dihadapi dan mendorong shalat kembali lima waktu di masjid (khusus laki-laki).

Setelah Abu Muhammad berpulang ke rahmatullah, saya tetap membiasakan “diskusi” singkat lepas shalat di Serambi Masjid dengan seorang atau beberapa jamaah inti. Kami mendiskusikan banyak hal terkait jamaah, dari upaya memakmurkan masjid, pelayanan jamaah hingga masalah-masalah sosial politik keummatan. Memang seringkali pilihan topiknya dipengaruhi oleh lawan bicara, misalnya Abu Muhammad yang lebih peduli dengan aqidah, pendidikan dan dakwah Islamiah. Tentu saya pun sekali-kali menggiring ke topik yang saya minati.     

Saya merasa bahagia, karena di masjid tetap ada orang shalih, yang dapat diajak berbicara apa saja terkait isu-isu keummatan, sehingga kepergian Abu Muhammad untuk selamanya, tak membuat suasana duka berkelanjutan. Saya mendapat “sahabat” ngobrol baru: Abu Sulaiman. Dia adalah jamaah tetap masjid kami yang sepuh. Lebih senior dari Abu Muhammad. Titik temu keduanya, sama-sama meminati dan aktif dalam dunia dakwah Islamiah. Perbedaannya, yang satu penganut paham Salafi,  sementara satu lagi lebih menyukai dunia Sufi. Mereka rukun dalam shaf shalat yang sama.

Saya bisa jelaskan perbedaan paham keislaman tentang Abu Muhammad dan Abu Sulaiman, namun bukan disini ruang yang tepat. Justru yang lebih penting, bagaimana bersatu di masjid dan senantiasa dapat silaturrahim fikrah (membahas masalah-masalah keummatan dan menemukan solusinya setelah shalat berjamaah). Abu Sulaiman adalah orang yang tepat dan responsif untuk saya ajak membahas topik apa saja, sebab memiliki pengalaman yang luas. Dia pembelajar Islam yang rajin membaca, praktisi politik dan cukup lama menekuni dunia jurnalistik. 

Dalam “diskusi” kali ini misalnya, Abu Sulaiman, mengaku mengikuti opini publik tentang keraguan sebagian elite politik dan pengusaha Aceh terhadap pemberlakuan Qanun LKS (Lembaga Keuangan Syariah). Dia mengatakan, “Saya tak heran, sebab sejak saya masih muda sebagai aktivis PII dan partai politik, saya tahu bahwa wawasan keislaman ummat belum cukup untuk memahami pengamalan ajaran Islam yang sempurna, mencakup semua aspek keidupan (kaffah).” Dia menambahkan, dari dulu banyak yang lebih suka bicara politik (umat Islam) dan sedikit yang paham tentang ekonomi Islam, termasuk tentang LKS ini.

Abu Sulaiman menyerahkan semua ini pada para pemimpin (muslim) di nanggroe ini, apakah mampu istiqamah dengan penerapan qanun LKS atau merasa dapat mempertanggungjawabkannya di hadapan Khaliq di yaumil akhir nanti. “Insya Allah, muslimin Aceh mendukung penerapan qanun LKS dan anti riba, Abu,” kata saya, diakhir diskusi kami, Shubuh itu.

Sumber: Gema Baiturrahman 18/12/2020

SHARE :
 
Top