Oleh: Sayed Muhammad Husen

@abulampanah


Pandemi covid-19 berdampak terjadinya krisis ekonomi di bebagai belahan bumi, yang berakibat  meningkatnya jumlah masyarakat miskin, pengangguran dan tidak tertutup peluang meningkat pula kriminalitas. Karena itu ajaran Islam yang menganjurkan ta’awun (tolong menolong) semakin penting dan aktual dalam kehidupan sehari-hari.      

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti,  mengatakan ta’awun adalah satu ajaran dasar dan akhlak Islam. “… Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan… (QS Al-Maidah: 2).

Ibnu Huwaiz, sebagaimana dikutip al-Qurthubi di dalam tafsirnya menjelaskan, ta’awun ala al-bir wa al-taqwa adalah akhlak Islam. Akhlak seorang Muslim yang saling memberi dan memperkuat sesuai kemampuannya.

“Orang berilmu menolong dengan ilmu serta mengamalkannya. Mereka yang berharta membantu dengan kekayaannya. Orang yang kuat melindungi dan memperkuat (perjuangan) di jalan Allah,” kata Mu’ti. (Republika.co.id, 2018) 

Ta’awun ala al-itsmi wa al-udwan berarti saling membantu dalam berbuat maksiat serta melanggar perintah agama dan perintah Allah untuk berbuat baik kepada manusia (al-udwan). Ta’awun mengandung pengertian luas, tidak terbatas saat terjadi musibah dan pandemi. Sebagai contoh implementasi konsep ta’awun, Muhammadiyah sejak kelahirannya, telah menunjukkan jati dirinya sebagai gerakan sosial-kemanusiaan. Berdasar surah al-Maun, Kiai Dahlan menanamkan jiwa tolong menolong dan kedermawanan.

Sebagaimana disebutkan Syuja (2009), salah seorang muridnya, Kiai Dahlan berulang kali mengajarkan surah al-Maun tidak sebatas pemahaman kognitif dan verbal-ritual, tetapi gerakan amal. Muhammadiyah kata Abdul Mu’ti, adalah perintis filantropi Islam, yang tidak sekadar menghimpun sedekah dan membagikannya sebagai charity yang karikatif.

Filantropi dibangun di atas fondasi dan spirit Alquran. Praksis filantropi dilaksanakan dengan pelayanan tulus dan manajemen profesional. Selain itu, sumbangan yang diberikan bersifat pemberdayaan: fresh mind (menyegarkan pola pikir), fresh money (bantuan yang dirasakan langsung manfaatnya), dan access for change (advokasi, pendampingan, dan membuka kesempatan).

“Sedekah tidak semata proses giving change (donasi recehan), tetapi giving chance (membuka peluang). Paradigma bantuan bukan karena belas kasihan, tetapi cinta kasih kepada sesama. Itulah hakikat filantropi sebagai transformasi nilai-nilai Qurani,” tambah Abdul Mu’ti.

Selain Muhammadiyah, Ormas Islam dan lembaga filantropi lain mempraktikkan ta’awun dalam bentuk penggalangan ZISWAF dan dana kemanusiaan untuk membantu meringankan beban ekonomi masyarakat di tengah pandemi sekarang ini. Dana yang dihimpun tersebut juga digunakan untuk pemberdayaan ekonomi, peningkatan penghasilan masyarakat miskin dan program lain yang sifatnya transformatif. 

Ta’awun dapat juga ditunjukkan dengan menyediakan fasilitas pinjaman bagi yang membutuhkan untuk pengembangan usaha atau kebutuhan mendesak. Islam menganjurkan pinjaman tanpa bunga dan menghindari riba. Pinjaman tersebut akan mendapat pahala yang besar dan setengah dari pinjaman dinilai sebagai sedekah oleh Allah SWT.   

Dalam konteksi ini, Rasulullah SAW mengatakan, "Pada waktu malam di-isra-kan, aku melihat tulisan pada pintu surga, 'Bersedekah dibalas sepuluh kali lipat, dan qardh (memberi pinjaman) dibalas delapan belas kali'. Aku bertanya, wahai Jibril, mengapa qardh lebih utama dari sedekah? Ia (Jibril) menjawab, karena peminta, meminta sesuatu padahal ia punya, sedangkan yang meminjam tidak akan meminjam kecuali karena sedang butuh". 

Karena itu, untuk mengoptimalkan ta’awun di tengah pandemi, selain meningkatkan filantropi Islam (ZISWAF) juga dilakukan melalui pengelolaan pinjaman dari kaum muslim yang kaya (aghnia) atau pemilik harta. Hal ini dapat dilakukan secara individual atau dilembagakan melalui BMT, BQ, KSPPS  atau Baitul Mal. Dengan ini konsep ta’awun benar-benar menjadi solusi di tengah pendemi, sekaligus ummat telah mengamalkan konsep ta’awun yang diajarkan Al-Quran.

Sumber: Gema Baiturrahman, 29/01/2021

SHARE :
 
Top