Oleh: Sayed Muhammad Husen

Cita-cita kebangkitan BMT (Baitul Mal Wattamwil) atau di Aceh dikenal Baitul Qiradh (BQ) tahun 1990-an awalnya untuk melengkapi pengajian dan pengamalan ajaran Islam. Masyarakat muslim yang telah tumbuh kesadaran belajar agama dan mengikuti pengajian berkelanjutan, diwadahi untuk saling membantu dan meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Fakta ketika itu, sebagian besar peserta pengajian mengalami kesulitan mendapatkan akses modal usaha atau pinjaman dari perorangan, lembaga keuangan atau perbankan.  

Dilihat dari segi spritualitas, peserta pengajian adalah orang Islam yang memiliki kesadaran untuk lebih taat dan taqwa kepada Allah SWT. Mereka disiplin menjalan ibadah, jujur dan memiliki komitmen untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam transaksi bisnis dan ekonomi. Mereka memiliki semangat untuk bermuamalah (bermasyarakat) sesuai dengan ketentuan syariat Islam, mempelajari transaksi syariah, dan menunaikan zakat, atau infak, sedekah dan wakaf. 

Selain mencapai kesempurnaan ibadah secara individual, seorang muslim yang rutin menghadiri pengajian atau majelis taklim, membutuhkan lembaga yang dapat saling membantu dalam kebaikan (ta’awun). Maka tercetuslah lembaga sosial dan ekonomi khas Indonesia yaitu BMT. Lembaga ini memadukan fungsi Baitul Mal (pengelolaan ZISWAF) dan bisnis (simpan pinjam). Kondisi ketika itu didukung iklim sosial ekonomi yang kondusif, sebagai dampak pembentukan Bank Muamalat (1992) yang mendapat dukungan penuh dari Presiden Soeharto. 

BMT adalah lembaga keuangan mikro syariah yang memadukan dua fungsi: sosial dan finansial. Secara sosial, BMT membangun kesadaran anggota menunaikan zakat (bagi muzakki) atau membayar infak, sedekah dan wakaf (uang) yang didayagunakan untuk kesejahteraan anggota dan penyediaan fasilitas pinjaman tanpa bunga. Bagi anggota BMT yang baru memulai usaha atau usahanya gagal disediakan modal usaha tanpa bunga dari sumber ZISWAF. Pinjaman kebajikan (qardhul hasan) ini diberikan juga untuk anggota yang membutuhkan pinjaman mendesak, misalnya untuk berobat atau biaya pendidikan anak. 

Dalam menjalankan fungsi komersial, BMT mengelola simpanan anggota dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Bagi hasil diperoleh dari bagi hasil (mudharabah), musyarakah (kemitraan) atau marabahah (margin jual beli) dari anggota lainnya yang meminjam dana yang dikelola BMT. Dengan pola simpan pinjam ini, terbangun interaksi saling membantu antara pemilik dana, peminjam dana dan pengelola dana.   

Kekuatan BMT generasi pertama (perintis) sebenarnya adalah energi spritualitas anggota yang tumbuh dari pengajian anggota yang berlangsung sejak BMT belum bangkit. Pengajian berlangsung berkelanjutan sebagai bentuk pembinaan terhadap anggota dan masyarakat di lingkungan BMT. Pembinaan juga dimaksudkan untuk memahami lebih dalam lagi tentang muamalah, keuangan, ekonomi, dan bisnis yang sesuai syariah.        

Ribuan BMT telah berkembang di Indonesia dan menjadi harapan baru dalam memajukan ekonomi ummat, terutama di lapisan bawah. Banyak pihak memberi perhatian dan berinisiatif mendirikan dan mengembangkan BMT. Organisasi Islam dan lembaga dakwah misalnya menjadikan BMT sebagai satu program yang diyakini dapat memfasilitasi anggotanya untuk mengembangkan potensi ZISWAF dan melakukan pemberdayaan ekonomi dan bisnis. Dampaknya, gerakan BMT semakin berkembang dengan legalitas koperasi syariah, inovasi produk, integrasi dengan sektor riil, serta peningkatan program pengelolaan ZISWAF. 

Berkembangnya BMT secara nasional juga beriringan dengan tumbuhnya BQ di Aceh yang diinisiasi oleh ICMI dan Pinbuk (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil) sejak 1995. Data terakhir sekitar 40 BQ masih aktif di seluruh Aceh dengan total aset lebih kurang Rp 80 miliar. Satu peluang baru bagi BQ di Aceh adalah memperkuat peran sosial dengan menjadi nazir wakaf uang, yang baru saja dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, 25 Januari 2021 yang lalu. Peran ini sangat penting di tengah krisis sosial dan ekonomi akibat pandemi Covid-19. 

SHARE :
 
Top