Oleh Juariah Anzib S. Ag

Sebuah kisah  mengharukan yang sempat saya simak dari Hadits TV secara online, pernah terjadi pada Rasulullah Saw. Seorang  Uwais Al Qarni, dia tidak pernah bertemu dengan Rasulullah, demikian sebaliknya, Rasulullah tidak pernah bertemu Uwais. Namun suatu ketika, Rasulullah Saw berkata kepada Umar bin Khathab dan Ali bin Abi Thalib. Pergilah kalian ke Yaman dan jumpai seorang pemuda  bernama  Uwais Al Qarni. Dia memiliki tanda di bagian punggungnya.  Sampaikan salamku  kepadanya dan mintalah doa kepadanya. Sesungguhnya Allah Swt mengabulkan doanya.

Sayidina Umar dan Ali merasa heran sambil berkata: "Wahai Rasulullah, mengapa kami harus meminta doa kepada Uwais Al-Qarni, yang hanya seorang pemuda biasa." Umar bertanya, ya Rasulullah, apakah kelebihan Uwais Al Qarni hingga Baginda  menyampaikan salam kepadanya dan meminta kami didoakan olehnya? Sesungguhnya kami  sahabatmu yang terdekat dan telah dijamin masuk syurga. Kemudian Rasulullah Saw menjelaskan tentang Uwais Al Qarni kepada kedua sahabat-Nya.

Uwais Al Qarni tinggal di negeri Yaman. Ketika itu di tempat tinggal mereka  tidak ada lagi orang yang belum mengerjakan ibadah haji, kecuali Uwais dan ibunya yang sudah uzur. Mereka tidak mengerjakan ibadah haji disebabkan karena faktor kemiskinannya. Suatu hari ibunya Uwais berkata. Wahai anakku, sesungguhnya ibu sangat berkeinginan melaksanakan ibadah haji, ibu ingin sekali  melihat Ka'bah Baitullah dan mencium Hajarul  aswad. Sepertinya ibu tidak lama lagi akan  meninggal dunia. Mendengar perkataan ibunya, Uwais menjawab,  wahai ibuku, kita akan pergi bersama-sama untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. 

Kemudian Uwais mulai berusaha  mengabulkan keinginan orang tuanya. Dengan bersusah payah ia bekerja keras mengumpulkan uang untuk membeli unta sebagai kendaraan agar dapat berjalan ke sana. Namun usaha yang dilakukan Uwais tidak terwujud. Ia tidak mampu membeli unta karena kemampuannya terbatas. Ia hanya sanggup membeli satu ekor domba kecil. Dengan domba kecil tersebut Uwais ingin  menjalankan sebuah misi. Ia beringinan menjadikan dirinya sebagai kendaraan untuk ibunya dalam menempuh perjalanan pergi haji . Uwais berlatih dengan menggendong anak domba naik turun bukit setiap hari sebelas kali. Waktu terus berlalu hingga hari demi hari anak domba tersebut berubah menjadi domba dewasa, tetapi Uwais masih sanggup menggendongnya hingga tidak terasa beratnya semakin bertambah. Latihan itu dilakukan Uwais agar ia sanggup  menggendong ibunya pergi ke tanah suci menjalankan ibadah haji. 

Ketika musim haji tiba, Uwais berkata kepada ibunya bahwa kita sudah siap untuk berangkat haji. Ibunya bertanya, kendaraan apa yang akan kita gunakan untuk pergi ke sana? Uwais menjawab, ibu naik ke punggungku, aku akan menjadi kendaraan buat ibu untuk menjalankan cita-cita muliamu. Mendengar jawaban Uwais, ibunya menangis, dengan penuh rasa haru dipeluknya Uwais. 

Pada waktu yang telah  ditentukan, maka berangkatlah Uwais bersama ibunya. Dengan membawa bekal makanan seadanya, Uwais pun menggendong ibunya. Mereka  berangkat dengan penuh harapan agar cita-cita mengerjakan ibadah haji   tercapai hendaknya. Banyak orang yang mengkhawatirkan  keadaan ini, namun mereka tetap bertekad meneruskan perjuangan yang mengandung resiko besar ini. Mereka berjalan melewati gurun pasir yang tandus. Jika  siang hari kepanasan dan malam hari kedinginan yang menusuk sampai ke tulang sum-sum. Meraka terus saja berjalan tanpa ada kata menyerah. Dalam kondisi yang begitu membahayakan dan memprihatinkan,   Uwais melayani ibunya dengan sangat  baik dan penuh ketulusan. Jika kelelahan mereka berhenti, ia memberikan makanan dan minuman kepada ibunya dengan penuh  kasih sayang.  

Di sepanjang perjalanan, Uwais tidak pernah mengeluh sedikitpun, bahkan selalu menampakkan senyum kebahagiaan kepada ibunya. Padahal punggung Uwais terluka karena menanggung beban berat saat menempuh perjalan yang sangat jauh.  Darah bercucuran, keringat membasahi tubuhnya, namun Uwais tetap bahagia. Karena kekuatan cinta Uwais terhadap ibunya  membuat ia menjadi kuat dengan pengorbanan yang tulus dan ikhlas.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang serta melelahkan, hingga  akhirnya tibalah Uwais dan ibunya di depan Ka'bah. Akan tetapi di saat itu, ibunya  sudah tidak bergerak lagi. Uwais berdoa kepada RabbNya dengan penuh harap disertai air mata kesedihan. Ya Allah, selamatkan orang  tuaku, sempatkan dia menjalankan ibadah haji sebagaimana yang di cita-citakan. Uwais berdoa dengan penuh harap.

Berkat kekuasaan Allah Swt melalui doa anak yang shalih, ibunya Uwais dapat diselamatkan. Ibunya kembali sehat dan kuat.  Uwais pun  melayani ibunya  mengerjakan rukun dan wajib haji hingga selesai. 

Ketulusan hati  Uwais merawat orang tuanya  begitu ikhlas hingga  akhirnya ibunya meninggal dunia setelah pelaksanaan ibadah haji usai. Sebelum meninggal ibunya berkata. Wahai anakku, andaikan ibu meninggal pada hari ini,  ibu telah meridhai dan  mengikhlaskan mu. Semoga engkau menjadi ahli syurga bersama Rasulullah Saw di hari kiamat nanti.

Itulah kelebihan dari seorang Uwais Al Qarni.  Rasulullah berkata, doa Uwais Al-Qarni diijabah oleh Allah karena ia seorang anak yang berbakti kepada ibunya dengan selalu memperlakukan orang tuanya secara baik, menghargai dan memuliakannya. 

Pesan yang dapat kita ambil dari kisah tersebut adalah, jika kita ingin bahagia dunia akhirat, maka muliakan kedua orang tua. Perlakukan mereka dengan baik sebagimana yang dianjurkan dalam Islam. Ridha Allah tergantung kepada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua. Kalau kita ingin dimuliakan oleh anak-anak kita nanti, maka muliakan kedua orang tua kita terlebih dahulu. Yakinlah anak-anak akan memuliakan kita sebagaimana kita memuliakan kedua orang tua kita. Demi Allah, yang kita lakukan untuk orang tua kita, maka hal itu pula yang akan dilakukan  anak-anak terhadap kita. Semua akan indah pada akhirnya. 

SHARE :
 
Top