Oleh Juariah Anzib S. Ag

Bersumber pada sebuah buku "Shalat Sufistik", karangan Prof. Dr.K.H. Nasaruddin Umar, MA. Seorang Imam besar Masjid Istiqlal.  Saya mendapatkan banyak informasi berkenaan dengan ibadah shalat yang kita lakukan sehari-hari. Shalat tanpa ilmu tidak bermakna. Diantara informasi yang di peroleh adalah rahasia di balik Shalat.

Shalat merupakan ibadah pokok bagi umat Islam. Menurut ulama kalangan sufi, orang yang mengerjakan shalat berarti melakukan hubungan langsung dengan Allah Swt. Dengan demikian, shalat yang di kerjakan dengan kusyuk akan dibuktikan dengan munculnya rasa aman, tenang, damai, indah, sejuk, dan lapang dada dalam shalat, seperti yang lukiskan Allah Swt dalam Al-Qur'an surat Ar-Ra'd ayat 28. "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hatinya menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Melaksanakan shalat secara rutin sebagaimana waktu-waktu yang telah ditentukan Allah, diharapkan akan melahirkan hamba-hamba yang istimewa, yakini hamba yang selalu berada di "dunia atas." Orang-orang yang berada di dunia atas, selalu menggunakan Tuhan dalam setiap gerak dan  langkah kehidupannya. Tidak terfokus untuk urusan duniawi saja yang berada di "dunia  bawah." Bukan berarti mengabaikan dunia, akan tetapi melihat sesuatu dalam etalase Tuhannya yang jauh lebih menarik dari seluruh yang ada di dunia bawah.

Untuk mengorbitkan seseorang menuju dunia atas, sesuai firman Allah, "Bacalah kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan ketahuilah bahwa mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari pada ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-Ankabut ayat 45).

Kualitas shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar akan menjadikan seseorang menuju derajat tertinggi di sisi Allah. Siapa saja mendirikan shalat dengan baik yang  memenuhi syarat dan rukun, menunaikan dengan penuh keikhlasan, memaknainya dengan sepenuh jiwa, maka shalat seperti itulah yang dapat memeliharanya dari perbuatan keji dan mungkar. Untuk itu, kita senantiasa mempraktikkan kualitas shalat agar bermakna dan berkedudukan tinggi. Allah Swt berfirman dalam Al-quar'an surat Al-Baqarah ayat 238, "Peliharalah segala shalat (mu) dan  (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah (dalam shalatmu) dengan kusyuk."  

Banyak orang yang mengerjakan shalat, tetapi tidak memahami maknanya. Sebagian orang mengerjakan shalat hanyalah sekedar melepaskan kewajiban saja, tanpa memahami dengan baik. Hingga tidak sedikit orang shalat yang masih berbuat maksiat, karena shalat yang ia kerjakan tidak dapat menjaganya untuk  mencegah perbuatan keji dan mungkar. Shalat yang ditunaikan hanya sekedar formalitas keislaman tanpa mengandung makna dan tidak memiliki pengaruh baik terhadap dirinya.

Untuk mencapai shalat bermakna, maka shalat  harus dikerjakan dengan kusyuk. Untuk mencapai tingkat kusyuk, bukanlah suatu hal yang mudah. Menimbulkan konsentrasi kusyuk dengan sepenuhnya dalam shalat, itu suatu hal yang hampir mustahil. Namun demikian, kita harus selalu berusaha menunaikan shalat secara baik dan benar  tanpa mempermainkannya. Dalam hadits imam Ath-Thabrani Nabi Saw menggambarkan, orang yang mengerjakan shalat dan sujudnya bagaikan ayam yang mematuk makanan, maka shalatnya akan dilipat, lalu dilemparkan ke muka orang yang bersangkutan.

Untuk mendapatkan kekusyukan dalam shalat, harus diawali dengan niat yang tulus ikhlas tanpa adanya sifat riya. Mengerjakan tepat waktu dan tidak mengabaikannya. Jika waktu shalat tiba, berusahalah  meninggalkan semua kepentingan yang bersifat duniawi dan segera menuju tempat shalat. Berkonsentrasi penuh dalam beribadah dengan memalingkan keperluan duniawi sekejap dan fokus dalam menunaikan shalatnya.

Kedua, berwudhuk. Para ulama menasihati, untuk memperoleh kualitas kusyuk shalat, maka perbaiki pula kualitas wudhuknya. Dalam berwudhuk tidak dibenarkan berbicara, tidak banyak bergerak dan disunnahkan menghadap kiblat. Membasuh organ tubuh yang menjadi anggota wudhuk secara baik dan benar, disunnahkan membasuh sebanyak tiga kali serta membaca doa wudhuk. Jika sempat, dianjurkan mengerjakan shalat sunat wudhuk dua rakaat usai wudhuk. Selesai wudhuk, tidak mengeluarkan kata-kata yang berkenaan dengan duniawi, apalagi ucapan bohong, kotor atau memaki diantara wudhuk dan shalat. Hal ini  dikhawatirkan dapat mematikan fibrasi positif wudhuk. Dianjurkan banyak berzikir, tahlil, tasbih, tahmid dan takbir serta bershalawat kepada Rasulullah Saw antara wudhuk dan shalat.

Ketiga, sebelum shalat, dilaksanakan azan dan iqamah. Di samping sebagai panggilan kepada setiap muslim untuk menunaikan ibadah shalat, juga dapat mengusir setan yang berkeliaran di sekitar kita. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa setan akan berlalu saat azan berkomandang. "Apabila diserukan azan untuk shalat, setan pergi berlalu dalam keadaan terkentut-kentut hingga tidak terdengar azan. Bila muazzin selesai mengumandangkan azan, ia datang hingga ketika di serukan iqamah." (HR Bukhari).

Keempat, dalam shalat terdapat simpul-simpul khusus. Membacanya harus betul-betul penuh kekusyukan, berawal dari membaca takbiratul ihram yang disertai niat, membaca iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'im, dan ketika membaca dua tasyahud (Asyhaduan la ilahaillallah), serta membaca ayat-ayat, sedapat mungkin tetap berada di puncak kekusyukan.

Kelima, kostum shalat, berupa aksesoris shalat yang kita gunakan seperti sajadah dan pakaian. Harus dipastikan terjamin kebersihan dan kesuciannya. Mutu pakaian harus dijaga, baik dari segi bahan maupun harganya. Meskipun sederhana, tetapi dari hasil keringat sendiri yang tidak mengandung hukum subhat apalagi haram. Bahan kostum juga terbuat dari benda yang halal dan bukan berasal benda najis.

Inilah diantara hal-hal yang dianjurkan para ulama untuk menjaga kualitas ibadah shalat agar lebih kusyuk ketika beribadah. Melakukan shalat dengan bersahaja, tidak terburu-buru dan  tuma'ninah. Meninggalkan kepentingan dunia untuk berkomunikasi dengan sang Khaliq. Shalat yang kusyuk akan membawa kepada ketengan Jiwa dan kedamaian batin  selesai menunaikannya. Semoga ibadah kita mendapatkan makna dan memperoleh nilai dan derajat tinggi di sisi Allah Azzawazalla. Mari memperbaiki diri.

SHARE :
 
Top