Oleh: Ustazah Nursami SAg



Alhamdulillah wa syukurillah. Segala puji kepada Allah Swt. yang masih memberikan kita kesempatan hidup dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. 

Salawat dan salam kepada junjungan alam Rasulullah Muhammada Saw. yang tidak pernah lelah berjuang mendakwahkan Islam meski tantangan dan rintangan begitu berat. 

Rasulullah Saw. berdakwah selama 23 tahun. Beliau berdakwah sejak beliau dilantik oleh Allah Swt menjadi Rasul setelah menerima yang kedua. Allah memerintahkan beliau untuk membuka selimutnya, perintah bangun untuk memberi peringatan kepada manusia (berdakwah), Allah perintahkan beliau untuk mengagungkan Allah dan bersihkan lingkungan (Mekah) dari dosa kemusyrikan. 

Melihat perjalanan dakwah Rasulullah Saw. tidaklah mulus. Beliau menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, sehingga beliau harus berdakwah secara sembunyi-sembunyi sebelum Allah perintahkannya berdakwah secara terang-terangan. 

Masyarakat Quraisy sangat anti terhadap dakwah Rasulullah Saw. Karena beliau berusaha menghentikan mereka dari penyembahan berhala. Menantang ekonomi ribawi yang mereka terapkan. Mempersatukan umat dari berbagai suku dan strata sosial. Mengangkat derajat wanita yang selama ini mereka hinakan, bahkan anak perempuan mereka bunuh hidup-hidup. 

Kaum Quraisy tidak bisa menerima dakwah Rasulullah karena banyak menantang kebiasaan mereka. Kaum kapitalis merasa dirugikan jika ekonomi ribawi dihentikan. Kaum bangsawan merasa hina jika strata sosialnya disamakan dan anak perempuannya dibiarkan hidup. Apalagi mereka dilarang menyembah tuhannya yang sudah dilakukan secara turun temurun sejak dari nenek moyangnya. 

Oleh karena itu kaum Quraisy sangat menantang dakwah Rasulullah. Bukan hanya tidak mau menerima akan tetapi mereka juga melakukan penganiayaan sampai pembikotan terhadap Rasulullah dan para sahabatnya. Namun demikian beliau dan para sahabat tidak pernah gentar dalam menyampaikan dakwah dan sama sekali tidak ada niat untuk mundur selangkahpun, demi syari’at Allah tegak di muka bumi. 

Problema yang kita rasakan dalam tantangan dakwah belumlah seberapa berbanding dengan apa yang dirasakan rasulullah Saw. Tantangan yang kita hadapi masih berkisar pada kondisi keluarga yang kurang mendukung, kondisi ekonomi yang masih sulit. Yang lebih tidak logis lagi adalah ketika hendak menyampaikan kebenaran, masih berpikir tidak enak dengan orang-orang terdekat yang selama ini melakukan hal-hal yang berbeda dengan kebenaran yang kita sampaikan. Masih merasa khawatir kalau-kalau mereka tersinggung atau tidak terima, padahal apa yang kita pikir belum tentu begitu dalam pemikiran mereka. 

Keluarga yang kurang mendukung, kondisi ekonomi yang sulit serta ujian lainnya yang Allah berikan biasanya membuat seseorang futur dalam berdakwah. Hilang semangat dalam dakwah untuk menyampaikan kebenaran, bahkan tidak sedikit yang berhenti dari aktivitas dakwahnya.  

Untuk aktifis dakwah, apapun yang terjadi tetap tidak boleh futur dalam dakwah, karena futur bukanlah sifat seorang da’i (pendakwah). Bagaimanapun kondisinya semangat dakwah tidak boleh kendur. Rizki tidak bisa kita ukur namun ghirah dakwah tetap tidak boleh luntur. 

Jika hati dan pikiran dalam aktivitas dakwah sudah mulai futur, ingatlah betapa sulitnya Rasulullah dalam berdakwah memperjuangkan Islam, agar umat manusia bisa hidup dalam Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Mengajarkan ketaatan kepada Sang Khaliq agar bisa hidup dalam keberkahan dan kasih sayang-Nya. Menghentikan kemusyrikan dan memberantas kezaliman agar umat manusia bisa hidup aman, damai dan sejahtera. Andai dakwah tidak ada maka kehidupan manusia tidak ada bedanya dengan hewan. Hukum yang diterapkan adalah hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa, tetapi dalam kehidupan manusia harus ditegakkan keadilan, rasa kasih sayang antara sesama. Jika dakwah berhenti meski sekejap maka akan lahir ribuan maksiat di muka bumi. 

Di samping itu, jika futur sudah mulai menyerang hati,  ingatlah janji Allah kepada orang-orang yang menyeru kepada kebaikan, mengajak kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran, mereka mendapatkan muflihun ( beruntung ). Seperti firman-Nya : 

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran/3: 104).

Allah Swt menegaskan bahwa orang yang beruntung itu adalah yang memberi nasehat dalam kebenaran dan dengan kesabaran, mereka tidak pernah rugi. 

Allah Swt. berfirman : 

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. al-Ashr/103: 2-3).

Rasulullah juga pernah memberikan motivasi kepada Ali bin Abi Thalib agar semangat untuk berdakwah. 

“Demi Allah, sesungguhnya Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan (dakwah) mu, maka itu lebih baik bagimu dari pada unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Unta merah saat itu adalah unta yag tinggi besar dan harganya sangat mahal. 

Penghuni langit dan bumi juga mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan. Rasulullah Saw bersabda, 

“Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Turmudzi).

Tidak hanya itu, bagi para pengemban dakwah juga akan mendapatkan pahala jariah yang tidak pernah putus dan terus mengalir sampai hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasululah saw, 

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka bagi mendapat pahala seperti pahala pelakunya”. ( HR. Muslim ). 

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tidak sedikitpun mengurangi pahala mereka”. ( HR. Muslim ). 

Untuk menghilangkan rasa futur, maka perlu diingat, tantangan dan rintangan yang kita hadapi belum seberapa berbanding yang dihadapi Rasulullah dan para sahabat. Untuk meningkatkan semangat harus diingat alangkah banyaknya pahala dan keberuntungan yang Allah berikan kepada para pengemban dakwah. Oleh karena itu, buanglah jauh-jauh rasa futur itu. Bagaimanapun kondisi, dakwah tidak boleh berhenti. Fisik boleh lentur, namun semangat dakwah tidak boleh kendur.

SHARE :
 
Top