Oleh: Hj. Nursalmi, SAg

Da’iyah Kota Banda Aceh  

Dunia ini adalah panggung sandiwara, sudah pasti di dalamnya banyak tipe manusia, ada yang baik dan banyak juga yang jahat. Ada muslim dan mukmin, ada pula kafir. Ada yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ada pula yang maksiat. Oleh karena itu, dakwah diperlukan untuk mengajak orang kafir bertauhid kepada Allah, mengajak orang maksiat taat kepada-Nya. Melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. 

Bayangkan jika dakwah tidak ada dalam kondisi dunia begini hancur, kafir lebih banyak dari pada muslim, yang maksiat lebih banyak dari pada yang taat. Apakah tega kita melihat saudara-saudara kita jatuh dalam jurang kemaksiatan, sementara kita mengetahui bahwa itu termasuk perbuatan dosa yang akan menyeretnya ke dalam neraka jahannam. 

Allah perintahkan kita berdakwah, yaitu mengajak mereka kepada kebaikan, menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, agar bumi ini terpelihara dari perbuatan maksiat, sebagaimana firman-Nya:  

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS  Al-Baqarah: 104 ) 

Allah menghendaki kita menjadi golongan umat yang peduli terhadap kondisi umat, menyeru kepada kebajikan, menyuruh mereka berbuat makruf, untuk melaksanakan amalan yang diperintahkan Allah, amalan yang disukai Allah. Mungkin untuk mengajak kepada kebajikan lebih mudah dari pada mencegah kemungkaran, meskipun kadang susah juga, karena ketika kita mencegah perbuatan orang kebanyakan mereka marah. Disitulah Allah memberikan reword kepada kita menjadi orang yang muflihun (orang yang beruntung). Allah Maha Tahu perbuatan mencegah itu berat, makanya diberikan pahala yang banyak. Semakin berat medan dakwah yang kita tempuh, semakin banyak balasan yang Allah berikan. 

Rasulullah saw juga memerintahkan kita mencegah perbuatan mungkar semampu kita, artinya kemungkaran itu tidak boleh dibiarkan, harus dicegah, sebagaimana sabdanya:  "Siapa saja di antara kamu melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, dan jika kamu tidak mampu untuk melakukannya, maka gunakanlah lisan, namun jika kamu masih tidak mampu juga, maka ingkarilah dengan hatimu karena itu adalah selemah-lemahnya iman". (HR Muslim)

Dari hadits ini dapat dipahami, mencegah kemungkaran hukumnya wajib sesuai kemampuan. Yang pertama dianjurkan mengubah kemungkaran dengan tangan, yaitu dengan kekuasaan yang dimiliki. Seseorang yang mempunyai kekuasaan seperti pimpinan negara atau aparatur negara, tidak boleh membiarkan kemungkaran terjadi di wilayah kekuasaannya. Jika itu dibiarkan dan tidak dicegah, maka wilayahnya akan dipenuhi oleh kemaksiatan dan kemungkaran. Kelak akan diminta pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. 

Bagi orang yang tidak mempunyai kekuasaan, Rasulullah memberikan alternatif lain yaitu mengubahnya dengan lisan. Dalam artian, menegur, menasihati dan melarang orang yang melakukan kemungkaran, serta mengajaknya kepada yang makruf dengan cara yang baik. Menasihatinya dengan cara yang baik, tanpa menyakiti hatinya agar dakwah mudah diterima. 

Bagi orang yang tidak mempunyai kekuasaan dan tidak mampu mencegah dengan lisannya, maka alternatif terakhir hanya dengan mengingkari kemungkaran tersebut di dalam hati, membenci perbuatan mungkar itu, berdoa kepada Allah agar menghentikan kemungkaran, namun sikap demikian merupakan selemah-lemah iman. Kita yakin,  pastilah kita tidak mau disebut orang yang lemah iman, tetapi begitulah adanya. 

Dakwah diwajibkan kepada setiap muslim tanpa kecuali. Dalam hadits di atas disebutkan siapa saja di antara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah. Ini buktinya, bahwa siapa saja yang melihat kemungkran harus mencegahnya. Tidak hanya ustadz dan kiai, tetapi siapa saja yang merasa dirinya muslim harus mencegah kemungkaran di depan mata. 

Dakwah bukti cinta 

Kenapa kita harus berdakwah? Karena kita sayang kepada saudara kita. Dakwah itu bukti cinta agar nanti bisa bersama-sama menuju surga-Nya. Kita tidak tega membiarkan saudara kita terus bergelimang dalam kemaksiatan. Bukan hanya pelakunya yang rugi, tetapi orang di sekelilingnya juga tidak bisa hidup nyaman karena ulah mereka. 

Sekarang, mari kita renungkan, apakah kita bisa tidur nyenyak jika tetangga di sebelah rumah setiap malam bermain judi dan mabuk-mabukan, pasti tidak nyenyak kan. Apakah kita bisa hidup nyaman jika tetangga kita setiap malam membawa masuk pelacur ke dalam rumahnya, tentu tidak. Padahal mereka sedikitpun tidak mengganggu kehidupan kita, mereka berbuat itu di dalam rumahnya sendiri, suarapun tidak kedengaran ke rumah kita, karena rumahnya kedap suara, kenapa kita yang merasa tidak nyaman. 

Itulah cinta. Kita tidak nyaman bukan hanya karena merasa terganggu, tetapi karena rasa sayang dan cinta terhadap saudara kita yang jatuh dalam kobaran api kemaksiatan. Kalau kita cuek dan tidak peduli, karena itu urusan mereka, berarti kita tidak sayang terhadap mereka.  Dakwah itu cinta dan tanggung jawab. Cinta, sayang terhadap sesama saudara dan tanggung jawab kita terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. 

Perintah dakwah sama halnya dengan perintah shalat yang wajib kita laksanakan, seperti wasiat Luqman kepada anaknya dalam surah Luqman ayat  17:  “Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting”.

Ayat ini dapat kita pahami, setelah perintah shalat diiringi dengan perintah dakwah. Shalat wajib, dakwah juga wajib, yaitu menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Shalat adalah ibadah kita yang langsung berhungan dengan Allah, sementara dakwah adalah hubungan kita dengan sesama manusia. 

Allah menyuruh kita menjaga keseimbangan antara hablun minallah dan hamblun minannas, di antaranya adalah dakwah. Seberat apapun tugas dakwah itu, dengan berbagai tantangan dan rintangan yang kita hadapi tetap harus dilaksanakan, karena dakwah merupakan urusan yang sangat penting. Tidak kuat? Fashbir “ala ma ashabak”, harus bersabar dan mohon pertolongan kepada Allah. 

Bayangkan jika dakwah berhenti satu detik saja, maka akan muncul seribu maksiat. Dunia tidak akan aman, kehidupan akan seperti hewan, hukum yang berjalan adalah hukum rimba. Oleh karena itu, pastikan kita berada dalam barisan dakwah agar dunia ini aman dan tenteram. Kelak bisa kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah, bahwa kita telah menyampaikan risalah-Nya. 

Editor: smh

SHARE :
 
Top