Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Menjadi Guru Profesional


Berbicara itu mudah, tetapi menjadi juru bicara tidak semua orang mampu, karena menjadi juru bicara itu menyampaikan ide, pandangan dan pendapat yang dapat menemukan titik terang dalam menyelesaikan sebuah perkara. Juru bicara membuka rajut permasalahan yang rumit, mencari jalan keluar tanpa menyakiti suatu pihak. 

Itulah di antara kelebihan yang dimiliki Ummu Salamah, istri keenam Rasulullah saw. Menurut Prof Abdul Malik Asy-Syaibani dalam Sirah Nabawiyyah Tafsir Fi Zhilalil Quran Sayyid Qutbh, sebelum dipersunting Rasulullah, Ummu Salamah seorang janda dari sahabatnya Abu Salamah yang syahid dalam perang Uhud. Rasulullah memperistrikan Ummu Salamah dan menggabungkan keluarganya dengan keluarga Abu Salamah.

Dalam novelnya Aisyah, Sibel Eraslan menulis, Ummu Salamah perempuan cantik jelita, yang menyebabkan Aisyah cemburu berat kepadanya. Ternyata Ummu Salamah tidak hanya sekadar cantik dan anggun,  tetapi juga lemah lembut, yang membuat Fatimah putri Rasulullah sangat dekat denganya. Sifat keibuan dan kelembutannya menjadikan Fatimah teladan yang baik. Itu berkat didikan Ummu Salamah sebagai seorang ibu.

Sibel menulis, Ummu Salamah istri Rasulullah yang paling unggul dalam pengetahuan fikih dan ilmu hadits di antara para istri Rasulullah. Selain itu, ia juga seorang yang cerdas dan pandai berbicara. Tak jarang  Rasulullah melibatkannya menjadi pembicara dalam membahas perkara-perkara tertentu. Ia selalu mengeluarkan ide-ide cemerlang yang dapat  menimbulkan keadilan bagi umat. 

Ummu Salamah seorang juru bicara terhebat dalam menengahi perkara, baik dikalangan ahli bait  Rasulullah maupun dalam majelis umat. Bahkan, terkadang Rasulullah sendiri sering menanyakan pendapatnya dalam menyelesaikan masalah umat. Setiap ide Ummu Salamah selalu membawa kepada kedamaian.

Menurut Muhammad Hafil, nama lengkap Ummu Salamah adalah Hind binti Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum. Ia seorang istri Rasulullah yang pertama kali masuk Madinah (Republika.co.id). 

Ummul mukminin keenam ini memiliki kemuliaan yang tinggi, berakhlak mulia dan salihah. Ia memiliki kedudukan yang tinggi, dengan kecerdasan dan keteladan yang luar biasa. 

Menurut Muhammad Hafil, wanita cantik ini sebelum dinikahi Rasulullah, pernah menikah dengan sepupunya sendiri, Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Makhzum Al Qurasyi, tetapi ia lebih dikenal dengan sebutan Abu Salamah. Ia anak paman Ummu Salamah dan tergolong orang-orang yang pertama masuk Islam. Abu Salamah  juga putra dari bibi Rasulullah, Barrah binti Abdul Muthalib.

Ummu Salamah sebaik-baik istri. Ia perempuan setia dan taat menunaikan kewajibannya selaku istri. Kesetiaan dan ketaatannya terhadap suami tertanam sejak ia mendampingi suaminya yang pertama, Abu Salamah. Kesetiaan dan ketaatannya bertambah setelah dipersunting baginda Rasulullah.

Dengan kecerdasan, kecantikan dan bahasanya yang sopan, lemah lembut dan salihah, beberapa sahabat menaruh hati kepadanya, termasuk Abu Bakar Assiddiq, tetapi Ummu Salamah menolak lamaran mereka. Ia tidak punya keinginan untuk menikah lagi setelah suaminya syahid. Namun, tatkala Rasulullah saw mengirim utusan untuk melamarnya, Ummu Salamah menerimanya dengan senang hati, seraya  mengucapkan selamat datang kepada Rasulullah dalam kehidupannya yang baru.

Sebagai ummul mukminin, tentu banyak keteladanan yang ditunjukinya. Selain sebagai istri Rasulullah, juga seorang ibu bagi Fatimah dan ibunda orang-orang mukmin. Ia memiliki sifat-sifat terpuji. Tidak hanya cantik parasnya, tetapi juga cantik hatinya. Ikut membantu dakwah Rasulullah dengan pengetahuan yang milikinya, baik berupa ilmu hadits maupun Fikih. Ummu Salamah selalu membagikan pengetahuan dalam majelis-mejelis ilmu. 

Semoga kita dapat mencontoh kepribadian mulia ini dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: smh

SHARE :
 
Top