Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Menjadi Guru Profesional

Islam menganjurkan umatnya hidup sederhana dan melarang hidup bermegah-megahan, karena itu kesombongan. Hidup dalam kemewahan membuat manusia lupa daratan, bahkan lupa kepada Sang yang Maha memberi kemewahan. Karena itu salah satu dari sifat manusia yang serakah dan suka lupa diri.

Dalam bukunya Biografi 35 Shahabiyah Nabi saw,  Syaikh Mahmud Al-Mishri menuturkan bahwa, Rasulullah saw memilih hidup sederhana untuk beliau sendiri dan ahli baitnya. Pilihan tersebut bukanlah karena Rasulullah tidak mampu hidup mewah. Akan tetapi Rasulullah saw  mengajak keluarganya untuk tidak bermegah-megahan agar dapat menikmati kemewahan hakiki diakhirat nanti. Andai saja Rasulullah bersedia, banyak kemewahan yang akan  beliau dapatkan. Namun Rasulullah tidak terpikat dengan gemerlapnya kemewahan dunia. 

Dalam sebuah kisah yang pernah saya dengar disebuah pengajian. Suatu ketika gunung Uhud pernah menawarkan dirinya kepada Rasulullah untuk berubah menjadi gunung emas. Hal tersebut semata-mata untuk kemewahan hidup beliau  agar memiliki harta yang berlimpah. Namun Rasulullah menolaknya. Beliau tidak berkeinginan dengan kewahan dan harta benda. Karena hidup sederhana merupakan salah satu dari kepribadiannya.

Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah saw menikahi seorang janda kaya raya bernama Khadijah binti Khuwailid. Akan tetapi, Khadijah sendiri setalah menjadi istri baginda nabi lebih memilih hidup sederhana sebagaimana anjuran Rasulullah. Khadijah menyumbangkan seluruh harta bendanya untuk dakwah Rasulullah, fakir miskin, anak-anak yatim, janda-janda dan kebutuhan umat lainnya. Hingga pada akhirnya, semua harta Khadijah habis tanpa sisa. Yang tinggal hanyalah kesederhanaan, keikhlasan serta kemuliaan hati. 

Dalam sebuah pertemuan keluarga, Rasulullah pernah dituntut oleh para istrinya tentang nafkah yang memadai. Mereka meminta haknya sebagaimana kebanyakan kaum wanita. Lalu Rasulullah menawarkan dua pilihan kepada mereka, hidup mewah atau diceraikan. Abu Bakar dan Umar ikut ambil andil dan memarahi anak-anak mereka yang menuntut hak kepada Rasulullah tidak sesuai dengan kemampuannya. Kemudian mereka menyadari dan memilih hidup sederhana dengan tetap menjadi istri-istri Rasulullah saw.

Menurut Syaikh Mahmud Al-Mishri walaupun hidup sederhana, namun beliau  tetap bersikap dermawan kepada siapa saja. Meskipun rumahnya  pernah tidak menyala dapur selama satu bulan lamanya karena kehabisan bahan makanan. Akan tetapi beliau tetap bermurah hati dan  memperbanyak sedekah serta berinfak. Pilihan hidup dengan apa adanya dalam kesederhanaan merupakan salah satu dari kepribadian beliau. Hal ini untuk menjauhi cinta kepada dunia demi mencapai kebahagiaan  di akhirat. 

Suatu ketika pernah Rasulullah pulang ke rumah dan bertanya kepada istrinya. Wahai Aisyah, adakah sedikit makanan untukku. Aisyah menjawab, tidak ada ya Rasul. Lalu Rasulullah berkata, kalau begitu hari ini aku berpuasa. Dirumah Rasulullah tidak pernah ada makanan yang tersimpan untuk esok hari. Karena persediaan makanan hanya untuk sehari makan, begitu seterusnya. 

Menurut Syaikh, secara syariat Rasulullah tidak dituntut menjalani kehidupan yang beliau terapkan untuk dirinya dan ahli bait. Beliau juga tidak mengharamkan takkala semua harta benda datang dihadapannya. Rasululullah saw juga tidak pernah mengejar dan menginginkan harta berlimpah. Apalagi sempat disibukkan dan hanyut dalam gelombang kemewahan harta.

Rasulullah saw tidak pernah memerintahkan umatnya menjalani kehidupan seperti yang beliau jalani, kecuali bagi mereka yang menginginkannya. Itu semua dilakukukan semata-mata demi menjauhkan diri dari berbagai kesenangan dan kenikmatan dunia yang sesaat untuk menuju kepada kesempurnaan dari segala kecenderungan jiwa. 

Suatu ketika, seseorang datang dan menghadiahkan sebuah tilam untuk tempat tidur Rasulullah kepada Aisyah. Akan tetapi ketika beliau melihatnya, beliau bertanya, apakah ini wahai Aisyah? Apakah engkau tidak ingin  mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan diakhirat nanti? Kemudian Rasulullah memerintahkan Aisyah untuk mengembalikan hadiah tersebut kepada pemiliknya. Beliau sendiri tidur di pelepah kurma yang sering  meninggalkan bekas pelepah di pipi dan badannya saat bangun dari tidur. 

Begitulah sekilas kehidupan Rasulullah dalam kesederhanaannya. Mari kita teladani agar terhindar dari sifat bermegah-megahan dunia yang menyebabkan lupa diri dan kesombongan.  Kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. 

SHARE :
 
Top