Oleh Hamdani Mulya


Dalam hidup bermasyarakat manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak terlepas dari berbagai problema. Telah menjadi kodrat manusia yang selalu dihinggapi oleh masalah. Namun, manusia sebagai hayawan natiq (bahasa Arab): hewan yang memiliki daya pikir. Tentu ingin bebas dari bermacam persoalan. Seperti persoalan karier yang gagal, keharmonisan dalam lingkungan kerja, maupun masalah yang dihadapi dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Masalah yang menggerogoti sering membuat sebagian orang jenuh dan berputus asa. Kekecewaan membuat manusia stres karena frustasi. Sebagian orang kadang kala mengungkapkannya dengan kata-kata yang tidak santun. Bahasa dijadikan sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa ketidakpuasannya.

Namun tidak demikian halnya bagi manusia yang beriman kepada Allah. Setiap musibah dapat menjadi bahan introspeksi diri dan dapat menjadi pengalaman yang sangat berguna dalam menjalani kehidupan ini. Sehingga dapat menjadi manusia yang lebih baik, arif, dan bijaksana. 

Sebagai contoh Pak Hananan (bukan nama sebenarnya) setelah di Putuskan Hubungan Kerja (PHK) 2 tahun yang lalu, karena ada pengurangan karyawan di sebuah perusahaan. Lalu mendirikan usaha perdagangan tekstil, tetapi mengalami kebangkrutan dan terpaksa gulung tikar. Kemudian dengan tidak putus asa Pak Hananan membuka usaha warung nasi, namun tidak laris juga. Hanya mencukupi kebutuhan hidup keluarga secara pas-pasan. Pak Hananan semakin frustasi, ditambah dengan permintaan isteri yang sering ikut trend model tidak dapat dikabulkannya. Bahkan istrinya sering membandingkan penghasilannya dengan penghasilan suami tetangganya yang legeslatif, tentu memiliki gaji puluhan juta. Lama kelamaan Pak Hananan semakin frustasi. Akhirnya Pak Hananan menjadi seorang laki-laki yang pemarah dan suka berbicara dengan kata-kata tidak sopan.

Dari ilustrasi cerita di atas mengingatkan kita bahwa banyak persoalan yang dihadapi oleh seseorang yang akhirnya bahasa dijadikan sebagai sarana pelampiasan. Tidak demikian bagi kita manusia yang sabar, berakhlak, dan santun berbahasa.

Berikut ini ada beberapa kiat seni berbicara. Jika anda ingin berbicara dengan istri atau suami, dengan atasan, dengan kawan sejawat, atau dengan siapapun. Maka yang pertama anda sepakati adalah ajaklah lawan bicara anda dengan bahasa yang santun. Seperti debat ilmiah, orasi mahasiswa dengan tidak menghujat oknum tertentu, debat kandidat partai politik, dll. Semua itu pastikan anda lakukan dengan bahasa yang sopan, tidak menyinggung perasaan orang lain. Buat suatu kejutan agar lawan bicara anda tersenyum. Sehingga suasana pun akan terasa hangat dan dengan lawan bicara anda juga akan terasa akrab.

Jika dalam sebuah bus yang berdesak-desakan seseorang menginjak kaki anda. Lalu anda boleh menegurnya dengan bahasa yang santun. “Maaf mas kaki saya terinjak”. Insya Allah pertengkaran tidak akan terjadi. Tetapi jika anda memaki dengan kalimat: “Dasar keparat kakiku kau injak!”, kita khawatir jika beberapa detik lagi akan terjadi adu tinju ala “ring bus” antara pemaki dengan penginjak kaki. Biarkan anda menjadi manusia yang santun dan berbudi luhur. Selain mendapat pahala kita juga akan menjadi manusia bijak dan luhur.

Demikian juga jika kita mengalami masalah dengan istri jangan pernah memarahi istri anda. Berilah siraman rohani yang menyentuh perasaan. Bila sebagai atasan janganlah meremehkan bawahan. Berikan dukungan demi kemajuan karir bawahan. Kalau ada masalah nasihati dengan kalimat yang luhur. Berikan senyum dan semangat atau gunakan bahasa kias (majas ironi).

Ironi adalah bahasa kias yang menyatakan sesuatu secara kebalikan atau disebut juga dengan sindiran halus. Sehingga membuat seseorang memutar haluan. Misalnya: Bagus sekali baju anda seperti baju artis. Padahal kita tidak menyenangi pakaian seperti artis yang mengumbar aurat, karena bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Contoh lain: Cepat sekali anda datang ke kantor hari ini sudah jam 10 WIB. Kalimat itu digunakan untuk menegur karyawan atau PNS yang terlambat masuk kantor. Ironis bukan?


Hamdani, S.Pd. dengan nama pena Hamdani Mulya adalah Guru SMAN 1 Lhokseumawe, Pemerhati Bahasa dan Sastra Indonesia, penulis buku Sajak Secangkir Air Mata.

SHARE :
 
Top