Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan menyerahkan cinderamata kepada Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbudristek, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., usai membuka kegiatan Rakor PPG se-Aceh di Hotel Oasis, Banda Aceh, Selasa (29/8/2023)

lamurionline.com -- Banda Aceh -- Universitas Syiah Kuala (USK) menjadi lokomotif utama bagi pembangunan pendidikan di Aceh. Bersama lima kampus lainnya di Aceh, USK melaksanakan rapat koordinasi (rakor) Pelaksanaan Pendidikan Guru (PPG) se-Aceh tahun 2023 di Hotel Oasis, Banda Aceh, Selasa (29/8/2023).

Ketua panitia pelaksana rakor, Dr. Syamsulrizal, M.Kes mengatakan, rakor ini diharapkan bisa menghimpun informasi akurat terkait PPG, sehingga menghasilkan persepsi yang sama dalam sinergitas, untuk kebijakan setiap stakeholder terkait, dalam rangka percepatan sertifikasi guru di Aceh.

"Kiranya rakor ini menjadi solusi terhadap masalah pendidikan di masing-masing kabupaten/kota di Aceh, dengan menentukan pola dan konsep. Sebab, menurut data yang ada, tahun 2025 ada 4700 orang guru pensiun di Aceh," ungkap Dekan FKIP USK itu.

Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan memberikan sambutan pada kegiatan Rakor PPG se-Aceh di Hotel Oasis, Banda Aceh, Selasa (29/8/2023)


Sejauh ini, USK bersama pihak terkait, seperti Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) telah melatih seribu orang guru, melalui jalur prajabatan.

Ia menyebutkan, rakor tersebut diikuti lebih kurang 90 peserta, yang terdiri dari rektor atau yang mewakili dari enam kampus, yaitu  USK, UIN Ar-Raniry, Unima, Unsam, Unimus, dan UBBG. Diikuti para dekan penyelenggara PPG dan SKPA terkait.

"Maka dari itu, melalui rakor ini, kiranya dapat  mengoptimalisasi lulusan PPG yang ada, untuk memenuhi kebutuhan guru di Aceh," ucap Syamsulrizal.

Senada dengan itu, Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan menyatakan bahwa USK telah menyiapkan sejumlah langkah. Bekerjasama dengan BPSDM Aceh, USK dengan calon guru melaksanakan pra PPG.

Foto bersama usai pembukaan Rakor PPG se-Aceh di Hotel Oasis, Banda Aceh, Selasa (29/8/2023)

"Dengan dukungan Dirjen GTK, misalnya memberikan kuota yang lebih banyak, Aceh siap melaksanakan PPG secara mandiri. Ini langkah antisipasi bersama untuk mengatasi kondisi guru di Aceh," tutur Prof. Marwan.

Lebih jauh, Prof Marwan menerangkan, di luar masalah mutu, salah satu persoalan yang belum terpecahkan di Aceh terkait dengan pemetaan guru. Masih adanya ketimpangan guru antara wilayah kota dengan pedesaan, ditambah lagi belum terpenuhinya guru bidang secara maksimal.

"Untuk itu, sinergisitas semua pihak, dari level paling tinggi hingga ke akar rumput, menjadi modal berarti dalam menyiapkan para guru yang mantap secara kuantitas, hebat secara kualitas," ajar Prof. Marwan.

Asisten II Sekda Aceh, Ir. Mawardi yang hadir mewakili Pj Gubernur Aceh menyampaikan, persoalan kekurangan guru bukan sekadar angka statistik, tetapi menjadi tantangan.

"PPG tidak hanya solusi bagi kekurangan guru, tapi harapan bagi masa depan pendidikan Aceh. Guru berkualitas adalah aset Aceh, yang mampu membangun karakter dan mental generasi Aceh," sebut Mawardi.

Selama ini, pra PPG dan PPG dalam jabatan dinilai telah terbukti mampu menciptakan guru muda yang semangat dalam mengabdi, yang tidak hanya mengajar, tapi cakap dalam membangun karakter bangsa menjadi warga negara yang produktif.

"PPG menjadi solusi yang sangat strategis dalam merancang guru yang kompeten. Dengan bekal teoritis dan praktik yang komprehensif. Lulusan PPG juga mampu menjadi guru inspiratif," jelasnya.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd angkat salut atas keseriusan Pemerintah Aceh bersama USK dan sejumlah kampus di sana, mengadakan rakor PPG yang langsung dihadiri para bupati dan walikota se-Aceh.

Menurutnya, Aceh telah menunjukkan keseriusan dalam tata kelola pendidikan, meskipun infrastruktur dan kesejahteraan pendidikan di beberapa wilayah di Aceh perlu lebih diperhatikan. (Sayed M. Husen) 

SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top