LAMURIONLINE.COM | BANDA ACEH - Dosen Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Aceh melaksanakan program pengembangan Desa Mitra (PPDM) di Gampong Lamteungoh, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Rabu (20/9) bulan lalu

Kedatangan dosen dari Poltekkes Kemenkes Aceh disambut oleh Sekretaris Desa mewakili Keuchik Lamteungoh yang sedang dinas luar, Akmal Maulana bersama masyarakat dan perangkat Gampong setempat.

Syahrizal, sebagai ketua tim pengabdian masyarakat dan dosen dari Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Aceh mengatakan, program pengembangan  desa mitra yang dilaksanakan merupakan kewajiban dosen dalam melaksanakan tri darma perguruan tinggi salah satunya adalah pengabdian masyarakat. 

“Salah satu fokus kami adalah memberikan edukasi tentang mitigasi bencana wilayah pesisir, dimana dengan adanya program ini masyarakat kita harapkan memiliki kemampuan untuk merespon dan meminimalkan resiko terhadap peristiwa yang mungkin timbul terhadap lingkungan sekitarnya dengan cara rasional, terkontrol pada situasi sedang tidak terjadi bencana," katanya. 

Kata dia, Mitigasi bencana  dapat dilakukan dengan memanfaatkan penanaman pohon mangrove di wilayah pesisir. Di dalam undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulang bencana,  migitasi didefinisikan sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pengenalan dan pemantauan risiko bencana, perencanaan partisipatif penanggulangan bencana, pengembangan budaya sadar bencana, peningkatan komitmen terhadap pelaku penanggulangan bencana dan penerapan upaya fisik, nonfisik, maupun penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan baik secara konvensional atau modern. 

Pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak secara mutlak dipengaruhi oleh pendidikan karena pengetahuan juga dapat diperoleh dari pengalaman masa lalu. Sembilan belas tahun pasca tsunami  Aceh tahun 2004 menjadi pengalaman dalam mengembangkan budaya sadar bencana  dengan menanam pohon mangrove di wilayahnya.

Sementara itu, Sekdes Lamteungoh, Akmal Maulana dalam sambutannya menyambut baik kedatangan dosen dari Poltekkes Kemenkes Aceh dalam rangka melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui program pengembangan desa mitra.  “Salah satu persoalan di Gampong Lamteungoh meliputi masalah abrasi, gelompang pasang  dan pendapatan masyarakat yang berkurang dibandingkan sebelum tsunami disebabkan hutan manggrove banyak yang tergerus air laut,” kata Akmal.

Sekdes Akmal Maulana juga berharap, program pengembangan desa mitra  yang dilaksanakan oleh tim dosen dari Poltekkes Kemenkes Aceh bermanfaat bagi masyarakat Gampong Lamteungoh, sehingga gerakan sadar dalam penanaman manggrove bisa dibudayakan dalam  kehidupan sehari-hari.

Setelah memberikan edukasi, dosen Poltekkes Aceh langsung melaksanakan penanaman 1000 pohon manggrove di Gampong Lamteungoh, pada zonasi yang telah ditentukan bersama  warga.


Sementara Syahrizal selaku Ketua Pengabdian Masyarakat menyampaikan prosesi penanaman, perlu ditentukan jalur yang tepat. Selain mempertimbangkan jarak dengan batas pantai juga Jarak tanam ideal pohon mangrove 1 meter kali  1 meter dan  untuk mengantisipasi pohon mangrove dari hempasan ombak bisa digunakan tiang pancang yang terbuat dari bambu atau kayu panjang 1 meter.  hutan manggrove juga berguna untuk bertelur ikan, kepiting, dan biota laut serta ekowisata bisa menambah ekonomi masyarakat yang rata rata bermata pencaharian sebagai nelayan.

Kegiatan itu telah mendapat izin dari pihak Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh besar, dilaksanakan bersama masyarakat dan mahasiswa/i Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Aceh juga dihadiri dari Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (YAKOPI) sebagai perwakilan pengawasan  lingkungan hidup.



Sekedar informasi, Lamteungoh merupakan salah satu Gampong yang ada di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar merupakan wilayah pesisir terparah terkena dampak tsunami pada 2004 lalu. Menurut Sanusi, mantan Keuchik saat ini sebagai tuha peut katanya sebagai warga sangat mendukung program penanaman manggrove didesa kami,  dimana Lamteungoh terus berbenah menuju Gampong siaga bencana untuk menambah taraf ekonomi masyarakat

Program rehabilitasi manggrove nasional target Indonesia sampai tahun 2030 pemerintah Indonesia mengumunkan dengan penanaman 600 hektar pohon manggrove mulai dari aceh sampai papua. Hal ini sesuai dengan kesepakatan dunia internasional terhadap paris agreement dan G20 di bali dimana indonesia sebagai paru paru dunia 23 % hutan manggrove terbesar didunia, dalam amanat presiden Indonesia Joko Widodo menyampaikan pohon manggrove bisa  menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar 4- 5 kali lipat hutan tropis daratan, sehingga berkontrubusi besar pada penyerapan karbon, perubahan ilkim dunia , melindungi dan memulihkan ekosistem yang terdegradasi dan meningkatkan ketahanan pangan,  menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati, dan mengurangi resiko bencana bagi masyarakat pesisir pantai.

Editor: Abrar

SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top