Oleh: Dr. Tgk. H. A. Mufakhir Muhammad, MA

Penceramah Masjid Raya Baiturrahman 

Kita kembali menadabburi ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan akhlak, khususnya yang termaktub dalam Surah Al-Ankabut. Surah ini termasuk surah Makkiyah, diturunkan ketika Rasulullah saw masih berada di Makkah, pada masa di mana masyarakat Quraisy banyak yang belum beriman dan masih terjerumus dalam berbagai bentuk kemaksiatan.

Allah Swt menggambarkan kondisi Kota Makkah sebagai haraman amina, sebuah negeri yang dijadikan suci, aman, dan nyaman. Keamanan itu bukan hanya untuk penduduk, tetapi juga bagi para pedagang, musafir, dan siapa saja yang datang. Makkah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial yang relatif terbebas dari ancaman perampokan dan kekacauan. Ironisnya, banyak dari kaum Quraisy tidak mensyukuri nikmat besar tersebut. Mereka justru tetap mempercayai kebatilan dan kufur terhadap nikmat Allah.

Al-Qur’an menegaskan, “Apakah mereka beriman kepada yang batil dan kufur terhadap nikmat Allah?” Sikap ini menunjukkan, keamanan dan kesejahteraan yang diberikan Allah seharusnya melahirkan ketaatan dan akhlak mulia, bukan kesombongan dan pembangkangan.

Ada kesamaan perilaku antara kaum jahiliah dengan umat Nabi Luth ‘alaihissalam. Kaum Nabi Luth dikenal melakukan perbuatan keji yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni hubungan sesama jenis, selain kejahatan lain seperti membegal, merampok, membunuh, dan mempertontonkan kemaksiatan di tempat-tempat umum. Nabi Luth dengan penuh kesedihan menyeru kaumnya agar meninggalkan tiga kejahatan besar tersebut, namun mereka justru menantang dan meminta agar azab Allah disegerakan.

Kisah ini menjadi peringatan keras, bahwa penolakan terhadap dakwah dan normalisasi kemaksiatan akan berujung pada kehancuran. Allah kemudian menyelamatkan Nabi Luth dan orang-orang beriman, sementara kaum yang zalim dibinasakan, termasuk istri Nabi Luth yang berkhianat.

Pelajaran akhlak dari kisah ini sangat relevan dengan kondisi masa kini. Di tengah kemajuan zaman, berbagai bentuk kemaksiatan semakin terbuka dan dianggap biasa. Padahal Islam menuntun umatnya untuk menjaga kehormatan diri, menutup aurat, dan berperilaku sopan di ruang publik.

Dalam pengalaman menerima kunjungan wisatawan mancanegara ke Masjid Raya Baiturrahman, banyak di antara mereka -- meskipun non-Muslim -- menunjukkan sikap hormat terhadap adat dan syariat Aceh. Mereka berpakaian sopan, mengenakan celana panjang, dan menjaga adab ketika berada di area masjid. Hal ini menjadi cermin bagi umat Islam sendiri agar lebih konsisten dalam menjaga akhlak, khususnya di tempat-tempat ibadah.

Kita dapat ambil pelajaran: akhlak mulia adalah identitas utama seorang Muslim. Jika orang yang belum beriman saja mampu menghormati nilai-nilai Islam, maka sudah sepatutnya umat Islam lebih dahulu dan lebih sungguh-sungguh menampakkan keindahan ajaran agamanya.

Allah Swt mengingatkan,  “Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS Muhammad: 24). Ayat ini mendorong setiap Muslim membuka hati, merenungi petunjuk Al-Qur’an, dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan sehari-hari.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top