Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan


Ramadhan bulan mulia yang senantiasa dinanti oleh setiap umat Islam. Ramadhan bulan penuh keberkahan dan ampunan, bahkan lebih utama dari seribu bulan, karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar sebagai puncak keistimewaan. Bulan ini menjadi momen istimewa bagi orang-orang beriman, dengan keutamaan yang tidak dijumpai pada bulan-bulan lainnya.

Kedatangan bulan suci ini selalu disambut dengan penuh suka cita. Berbagai bentuk persiapan dilakukan sebagai wujud kecintaan terhadap Ramadhan, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Umat Islam berkomitmen menjadikan Ramadhan sebagai waktu terbaik untuk meraih kemuliaan, ampunan, dan keberkahan dari Allah Swt.

Dalam Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (24/1/2026), narasumber Sayed Muhammad Husen (SMH) menyampaikan, salah satu bentuk persiapan penting menyambut Ramadhan adalah mempersiapkan aspek finansial. Hal ini karena pada bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan lebih fokus pada ibadah dan tidak terlalu disibukkan oleh aktivitas duniawi. 

Selain itu, kesiapan fisik dan mental juga sangat diperlukan agar mampu melaksanakan puasa dengan baik dan mengintensifkan berbagai aktivitas keislaman sepanjang bulan suci.

Persiapan lainnya adalah menata dan memakmurkan tempat-tempat ibadah seperti masjid, meunasah, dan mushalla. Masyarakat dapat bergotong royong membersihkan lingkungan, tempat wudhu dan ruang ibadah, sehingga tercipta suasana nyaman bagi jamaah. Di samping itu, perlu disusun berbagai program Ramadhan, seperti jadwal imam tarawih, tadarus Al-Qur’an, penceramah, serta kegiatan keagamaan lainnya.

Tidak sedikit masjid yang bahkan membentuk panitia khusus Ramadhan. Panitia ini bertugas merancang, mengelola, dan melaksanakan seluruh kegiatan selama bulan suci, termasuk mencari calon donatur sejak jauh hari guna mendukung pembiayaan program. Persiapan yang matang akan menghasilkan pelaksanaan kegiatan yang lebih terarah dan berdampak luas.

Sayed yang juga Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Aceh ini menekankan pentingnya menyiapkan penceramah yang kompeten. Pada bulan Ramadhan, minat masyarakat mendengar ceramah biasanya meningkat. Oleh karena itu, materi dakwah hendaknya disampaikan secara menarik, menyentuh, dan relevan, dengan durasi yang proporsional agar jamaah tetap antusias.

Ia juga mengingatkan, pada era 1980-an, organisasi Islam seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) menjadikan Ramadhan sebagai momentum pembinaan kader. Berbagai pelatihan dan pembekalan bagi remaja dan pelajar dilaksanakan, mengisi waktu libur sekolah dengan kegiatan yang membangun karakter Islami. Semua itu diprogramkan jauh hari sebelum Ramadhan tiba, melalui pembentukan panitia dan penentuan lokasi kegiatan.

Syiar tarawih, tadarus Al-Qur’an, perlombaan keagamaan, dan peningkatan sedekah semakin menyemarakkan suasana Ramadhan. Dinamika inilah yang menumbuhkan kebahagiaan spiritual, hingga akhirnya ditutup dengan pelaksanaan zakat fitrah sebagai bentuk kepedulian sosial.

Tanpa persiapan sejak awal, berbagai aktivitas tersebut sulit terlaksana optimal. Ramadhan pun berisiko berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan dan makna yang mendalam. Sebaliknya, persiapan yang baik akan menjadikan Ramadhan sebagai bulan penuh warna, sarat nilai, dan berbekas dalam kehidupan.

Hal ini juga penting diperhatikan bagi daerah-daerah yang terdampak bencana. Diperlukan perencanaan membangun tempat ibadah darurat dan menghadirkan dai dan relawan yang kompeten, termasuk yang memiliki kemampuan psikologis. Kehadiran mereka diharapkan mampu membangkitkan semangat para penyintas agar tetap kuat, optimis, dan istiqamah beribadah, meskipun berada dalam berbagai keterbatasan.

Semoga Ramadhan yang akan segera tiba menjadi momen yang lebih bahagia dan bermakna bagi kita semua. Mari mempersiapkan diri sebaik mungkin, sesuai kemampuan, untuk menyambut tamu agung yang penuh kemuliaan ini.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top