LAMURIONLINE COM | ACEH BESAR - Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Prof Ilham Maulana menyampaikan, salah satu nikmat terbesar bagi seorang mukmin adalah merasakan kelezatan dalam beribadah karena selalu berada dalam bimbingan dan perlindungan Allah Swt. 

Ia menyampaikan hal itu dalam agenda Tarhib Ramadhan di Masjid Jamik Baitul Jannah, Kemukiman Tungkop, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Ahad (5 Sya’ban 1447 H/25 Januari 2026).

Menurut Prof Ilham, seorang mukmin senantiasa dijaga oleh Allah dalam setiap langkah, perkataan dan perbuatannya agar tetap berada di jalan agama. Karena itu, umat Islam mesti selalu bersyukur atas karunia iman yang menjadi penuntun hidup.

Ia menjelaskan, dalam menjalani ibadah, manusia dihadapkan pada berbagai tantangan, salah satunya adalah nafsu. Nafsu, harus dikendalikan agar menjadi positif dan tidak sampai menguasai kehidupan manusia.

“Jangan sampai hidup kita dikendalikan oleh nafsu. Sebaliknya, kita yang harus mengendalikan nafsu agar hidup menjadi indah dan bermakna,” ujarnya.

Prof Ilham mencontohkan kisah Nabi Yusuf AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Ketika Nabi Yusuf dirayu berbuat maksiat dalam keadaan sepi, sebagai manusia ia memiliki kecenderungan nafsu. Namun dengan kekuatan iman, Nabi Yusuf mampu mengendalikan dirinya dan tetap taat kepada Allah.

“Ini menjadi pelajaran bagi kita agar tidak larut mengikuti kecenderungan nafsu, tetapi mengendalikannya dengan iman,” jelasnya.

Ia juga menekankan, dalam beribadah, umat Islam tidak boleh dipengaruhi oleh nafsu, melainkan harus berlandaskan ilmu. Caranya, dengan mengikuti petunjuk Allah dalam Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah saw melalui perkataan dan perbuatan yang telah dicontohkan.

“Mukmin yang baik, mereka yang mampu mengendalikan diri dari pengaruh negatif nafsu dan beribadah berdasarkan ilmu sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya,” katanya.

Lebih lanjut, Prof Ilham menyampaikan, bulan Ramadhan merupakan momentum pendidikan bagi kaum mukmin melatih dan mengendalikan nafsu. Oleh karena itu, menjelang Ramadhan, umat Islam dianjurkan membiasakan diri dengan berbagai kebaikan.

Namun demikian, ia juga mengingatkan agar tidak terlalu mengedepankan akal dalam ibadah. Meskipun Al-Qur’an banyak mendorong penggunaan akal, akal berfungsi menguatkan iman, memperkokoh kepercayaan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mendorong ketaatan kepada perintah-Nya.

“Akal manusia kemampuannya terbatas, tetapi menjadi sempurna jika diarahkan dalam petunjuk Allah dan tuntunan Rasul-Nya,” pungkasnya.

Ia menambahkan, akal merupakan salah satu faktor pembeda antara manusia dan hewan. Karena itu, manusia tidak boleh terjerumus dalam perilaku yang mengabaikan akal dan memperturutkan nafsu, melainkan menundukkan keduanya dengan iman. (Sayed M. Husen/Saifuddin A. Rasyid)

SHARE :

0 facebook:

 
Top