lamurionline.com, Aceh Besar -- Malam ini, Jumat, 16 Januari 2026, sebuah panggung permanen berdiri megah di tengah kompleks MTsN 2 Aceh Besar Tungkop, bangunan fisik itu bukan sekadar tempat pertunjukan; ia adalah simbol kebangkitan "Gezah" (wibawa) guru dan kawah candradimuka bagi prestasi nasional.

Acara bertajuk "Launching Panggung MTsN 2 Aceh Besar Sekaligus Doa Bersama" ini menjadi sangat prestisius dengan kehadiran tokoh-tokoh kunci pendidikan agama di Aceh Besar.

Tampak hadir Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Aceh Besar, H. Saifuddin, S.E., didampingi Ketua DWP Kankemenag, Kasi PAI, serta Kepala Penyelenggara Zakat dan Wakaf.

Turut memberikan dukungan penuh, para Kepala Madrasah di lingkungan Madrasah Terpadu Tungkop, termasuk Kepala MAN 3 dan MAN 2 Aceh Besar, serta jajaran Komite Madrasah.

Kepala MTsN 2 Aceh Besar, H. Sudirman M., S.Ag., dalam sambutannya menegaskan komitmen yang tidak main-main. Di hadapan para guru dan pimpinan Kemenag, ia mematok target tinggi Juara Nasional tahun ini.
"Panggung kreativitas ini adalah sarana pendukung vital. Kami ingin proses Belajar Mengajar (PBM) tidak lagi kaku di dalam kelas, tapi meluas hingga ke panggung ini. Ini adalah alat kami untuk menjemput kembali juara nasional tahun ini," ujar Sudirman dengan nada optimis, sembari mengharapkan dukungan penuh dari Kakankemenag Aceh Besar.



Kakankemenag Aceh Besar, H. Saifuddin, S.E., dalam arahan strategisnya setelah prosesi pemotongan pita, memberikan tantangan besar. Baginya, panggung fisik adalah hal mudah, namun mengelola potensi manusia di dalamnya adalah tantangan yang jauh lebih berat.
"Sebagai madrasah kompleks terpadu yang menjadi tumpuan harapan masyarakat, kita harus bekerja lebih keras. Siswa, guru, hingga kepala madrasah harus melahirkan prestasi yang nyata," tegas Saifuddin.

Ia menekankan bahwa madrasah harus tampil berbeda dan lebih unggul dari sekolah umum—baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun akhlakul karimah. "Alumni madrasah harus punya warna yang lebih kuat di tengah masyarakat," tambahnya.


Satu poin paling menggugah yang disampaikan Saifuddin adalah mengenai "Gezah" Guru. Ia menyoroti bagaimana guru-guru masa lalu memiliki karisma dan penghormatan yang begitu tinggi di mata masyarakat, yang kemudian berdampak langsung pada kualitas pendidikan dan moralitas bangsa.
"Kita harus mengembalikan gezah guru madrasah. Panggung ini harus menjadi titik awal di mana kreativitas lahir, wibawa guru terjaga, dan prestasi menjadi tradisi," pungkasnya sebelum memimpin prosesi peresmian.

Acara malam ini diiringi dengan doa bersama yang dipimpin oleh Yudha Bintoro, S.Si., M.Si, menciptakan atmosfer khidmat di tengah ambisi besar madrasah untuk terus berinovasi.(Cek Man/Is)

SHARE :

0 facebook:

 
Top