Oleh: M Syukur Hasbi

Sekretaris Umum Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Iran. 

Upaya Amerika Serikat, Israel dan Inggris ingin menggulingkan sistem pemerintahan revolusi Islam Iran, sejak 1979 hingga kini tidak berhasil. Berbagai cara telah dilakukan, mulai militer, peruncingan konflik sektarian sunni-syiah, pengucilan di kancah internasinal, penekanan maksimun melalui sanksi ekonomi, termasuk penciptaan anasir-anasir terorisme takfiri. Kondisi ini justru membuat negara mullah ini makin gigih berjuang sendirian dalam berbagai sektor, seperti militer, teknologi serta kemandirian ekonomi.

Barangkali surat At Taubah ayat 32 tepat menggambarkan bagaiamana kegagalan musuh untuk menggulingkan sistem revolusi Islam Iran ini. Dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka berkehendak untuk memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka. Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir tidak menyukai.  Walaupun karater bangsa Persia yang kaya akan budaya, sejarah dan tradisi keilmuan punya peran, namun yang paling ditonjolkan pada revolusi ini adalah iman dan Islamnya.

Hal ini tidak lepas faktor ajaran agama yang dianut serta sosok pimpinan revolusi, Ayatullah Imam Khomeini yang kini diteruskan oleh Ayatullah Imam Ali Khamenei. Dua sosok inilah yang berperan besar langgengnya revolusi. Dua ulama ini yang memperkenalkan musuh dan tipu daya-tipu dayanya kepada bangsa Iran dan dunia.  Musuh yang dimaksud adalah Amerika, Israel dan Inggris. Imam Khomeini pada 05 November 1979 setelah kemengan revolusi Iran mengatakan bahwa Amerika adalah setan besar.

 “Dalam revolusi ini, Setan Besar adalah Amerika, yang secara terang-terangan mengumpulkan setan-setan lainnya di sekelilingnya… Jika kita melihat Amerika Serikat, Setan Besar ini, mengangkat rantai dan mengumpulkan para setan di sekitarnya, itu karena cengkeraman Amerika atas negeri kita dan sumber daya kita telah terputus.” Ungkapan Imam Khomeni bahwa Amerika adalah setan besar ini sudah menjadi slogan umum masyarakat Iran. 


Ayat-ayat al Quran selalu memperingatkan bahwa setan adalah musuh yang nyata. Imam Khomeini langsung memperkenalkannya dengan sebutan Amerika dan sekutunya. Fakta ini menjadi pembeda dengan kita yang cenderung memaknai musuh sebagai sesuatu yang tidak berwujud fisik dan abstrak. Kita sering memaknai bahwa musuh kita adalah kebodohonan, kemiskinan dan kejahatan dan seterusnya. Ketidaktegasan kita dalam mendefenisikan musuh membuat musuh leluasa menguasai politik, ekonomi hingga kekayaan alam kita.  

Selain Imam Khomeini, pimpinan sptitual revolusi tertinggi Iran saat ini, Imam Ali Khamenei juga menekankan perlunya waspada terhadap musuh sebagai arogansi global (mustakbirin). Di hadapan ribuan pelajar dan mahasiswa di Tehran, Rabu (1/11/2023) Ia menekankan kewaspadaan umat Islam terhadap peristiwa di Gaza, yang sebenarnya merupakan medan konflik dan perang antara kebenaran dan kebatilan, dan antara iman dan arogansi. “Kekuatan arogan diwujudkan dengan bom, tekanan militer, tragedi dan kejahatan, namun kekuatan iman akan mengatasi dan mengalahkan semua ini dengan pertolongan dan taufik Ilahi,” tambahnya.

Dari berbagai upaya musuh, hal yang paling dirasakan pengaruhnya oleh masyarakat Iran adalah embargo dan sanksi ekonomi. Sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat telah sangat menghambat kemampuan Iran menjual minyak dan mengakses pasar global. Akibatnya, nilai rial melemah drastis terhadap dolar, yang secara otomatis mendorong harga barang impor naik. Memperbanyak cetak uang demi menutup defisit anggaran justru makan memperparah inflasi. Kurs mata uang Iran (rial) terjun ke rekor terendah, hampir 1,5 juta rial setara 1 dolar Amerika Serikat. 

Karena anjlojnya nilai mata uang rial terhadap dolar, bila dibandingkan dengan pengeluaran kita di Indonesia untuk kebutuhan pokok. Iran justru sangat murah. Bayangkan, pengeluaran bagi rumah sederhana yang menggunakan gas, listrik, air selama sebulan hanya sekitar Rp 50 ribu. Harga satu roti untuk porsi besar yang menjadi makanan pokok masyarakat tidak sampai Rp 500. Harga bensin juga tidak sampai Rp 500/ liter. Memang untuk membeli sesuatu yang tidak didukung oleh subsidi pemerintah, kita harus mengeluarkan uang yang sangat banyak. Saking susahnya membawa uang besar untuk belanja kecil, mayoritas masyarakat kemana-mana melakukan transaksi apapun melalui kartu Automated Teller Machine (ATM), walau hanya untuk membeli sepotong roti. 

Menyadari tingkat inflasi yang menggila ini, pemerintah Iran sebenarnya sudah memberikan subsudi di berbagai sisi. Secara umum, kebutuhan rakyat Iran yang disubsidi pemerintah mencakup kebutuhan pokok. Subsidi yang sudah berlangsung lama ini ada yang berbentuk barang seperti bahan bakar dan energi seperit obat-obatan, gas, bensin, solar, listrik, roti, beras, minyak goreng, tepung, susu dan gula. Ada juga subsidi uang tunai yang ditransfer langsung kepada masyarakat. 

Pun demikian, protses terhadap parahnya kondisi ekonomi  dalam negeri ini menjadi wajar. Namun, seringkali protes ini dimanfaatkan oleh agen-agen musuh untuk membuat kerusuhan dalam negeri. Demontrasi akhir-akhir ini secara umum hanya permainan dan tipuan media-media musuh Iran. Sayangnya, mayoritas sumber berita media-media nasional kita berasal dari media musuh tersebut.  Tujuan besarnya untuk menggulingkan atau menggantikan sistem revolusi Islam dengan sistem apapun asalkan tidak berseberangan dengan Amerika, Israel dan Inggris. Usaha musuh tersebut hingga kita sejak empat dekade lalu selalu gagal. Bagi masyarakat Iran, revolusi ini akan terus dijaga dengan persatuan dan pengorbanan sampai diserahkan nantinya kepada pemilik revolusi sejati, Imam Mahdi yang dinantikan.

SHARE :

0 facebook:

 
Top