Bagi IPPEMINDRA, LTI bukan sekadar kegiatan tahunan. Ia adalah ruang pembentukan karakter, tempat generasi muda ditempa agar siap memimpin dan siap mengabdi. Namun bagi masyarakat Indrapuri, khususnya para keuchik, LTI memiliki makna yang lebih dalam. Ini adalah bukti bahwa mereka tidak pernah melepas anak-anak mudanya berjalan sendiri.
Di situlah Nasi Umat, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bu Kulah, mengambil peran penting. Bu Kulah bukan tradisi baru. Ia sudah ada sejak LTI masih dikenal sebagai pesantren kilat atau training IPPEMINDRA. Sejak dulu, setiap kali kaderisasi digelar, Bu Kulah selalu hadir. Seakan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan. Kalau ada LTI, pasti ada Bu Kulah. Dan kalau ada Bu Kulah, pasti ada kebersamaan.
Selama 7 hari 6 malam pelaksanaan LTI 2026, dukungan itu kembali terasa nyata. Sebanyak 52 gampong ikut terlibat. Setiap hari, tujuh gampong bergiliran mengisi jadwal sahur dan berbuka. Para keuchik saling berkoordinasi, memastikan tidak ada jadwal yang kosong dan tidak ada peserta yang kekurangan.
Bagi peserta, mungkin yang terlihat hanya nasi, lauk, dan kue. Tapi di balik itu ada cerita yang tidak sederhana. Ada ibu-ibu yang bangun sebelum subuh untuk memasak. Ada perangkat gampong yang membantu membungkus. Ada keuchik yang menghubungi panitia untuk memastikan jumlahnya cukup. Hal-hal kecil seperti itu yang membuat suasana LTI terasa hangat.
Koordinator Nasi Umat, Mursalin, mengatakan bahwa komunikasi dengan para keuchik berjalan sangat baik sejak awal kegiatan.
“Setiap kami kirim jadwal, responnya cepat. Bahkan ada yang menawarkan tambahan kalau dirasa kurang. Ini bukan sekadar kewajiban, tapi memang karena mereka peduli,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bukan para keuchik yang mengantar nasi ke lokasi LTI, melainkan panitia dan tim koordinator Bu Kulah yang menjemput langsung ke setiap gampong sesuai jadwal. Titik kumpulnya beragam ada di bale gampong, meunasah, hingga masjid.
Suasana subuh menjadi salah satu momen yang paling membekas. Ketika langit masih gelap dan udara masih dingin, panitia sudah bergerak. Sesampainya di bale gampong, lampu sudah menyala. Beberapa warga menunggu dengan nasi yang tersusun rapi di atas meja.
Kadang ada ibu-ibu yang berkata pelan, “Maaf kalau sederhana ya, Nak.” Padahal bagi panitia, itu bukan hal sederhana. Itu perhatian. Itu doa.
Menjelang magrib, suasananya tak kalah hangat. Panitia datang ke meunasah atau masjid, disambut dengan senyum. Ada yang bertanya bagaimana kondisi peserta. Ada yang menitip pesan agar anak-anak muda bersungguh-sungguh belajar. Bahkan ada keuchik yang memastikan langsung semuanya siap sebelum diambil.
“Setiap kami jemput, rasanya bukan cuma ambil nasi. Kami merasa seperti anak yang pulang ke kampung sendiri. Ada perhatian, ada nasihat, ada doa. Itu yang bikin kami semangat,” kata Mursalin.
Ia juga mengenang momen ketika hujan deras turun menjelang berbuka. Panitia tetap datang sesuai jadwal, dan nasi sudah disiapkan serta ditutup rapi agar tidak terkena air. “Di situ kami benar-benar merasa diperhatikan,” tambahnya.
Menurutnya, sejak dulu pola ini tidak pernah berubah: panitia menjemput, masyarakat menyiapkan. Dari situlah silaturahmi tumbuh dan terus dirawat.
Ketua Panitia LTI 2026, Irhmana, mengaku para peserta dan pantia sangat merasakan hangatnya dukungan tersebut.
“Di saat kami lelah, ketika waktu berbuka tiba dan nasi datang, rasanya seperti ada energi baru. Kami merasa tidak sendiri. Ada orang tua kami di gampong yang ikut mendukung,” katanya.
Ia menegaskan, Bu Kulah bukan hanya soal makan. Ini tentang rasa memiliki. Para keuchik melihat LTI sebagai proses membina generasi Indrapuri yang suatu hari akan kembali mengabdi di gampong masing-masing.
Ketua Umum IPPEMINDRA, Ichza Zurrifqi, menyampaikan bahwa sinergi ini harus dijaga.
“Sejak dulu Bu Kulah selalu ada dalam setiap kaderisasi. Itu artinya hubungan ini sudah terbangun lama. LTI tanpa Bu Kulah rasanya tidak lengkap. Di situlah letak kekuatannya,” ungkapnya.
Menurutnya, dukungan 52 gampong adalah bentuk kepercayaan yang besar.
“Anak-anak yang hari ini ikut LTI, besok bisa jadi pemimpin gampong atau penggerak pembangunan. Ketika para keuchik mendukung melalui Bu Kulah, itu artinya mereka sedang menyiapkan masa depan Indrapuri,” tambahnya.
Ia pun menutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat indrapuri
“Atas nama IPPEMINDRA, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada 52 keuchik dan seluruh masyarakat gampong. Bu Kulah bukan hanya membantu kegiatan kami, tapi menguatkan hati kami. Dukungan ini adalah kepercayaan, dan kepercayaan itu adalah amanah yang akan kami jaga.”
Selama Bu Kulah dan LTI terus berjalan bersama, silaturahmi antara IPPEMINDRA dan para keuchik akan tetap hidup.
Karena kepemimpinan tidak hanya ditempa di ruang pelatihan. Ia tumbuh dari kebersamaan, dari kepedulian, dan dari nasi sederhana yang dibungkus dengan doa. ujarnya.
Penulis Azimul Fata

0 facebook:
Post a Comment