Oleh: Abu Aly


Di atas bumi yang satu ini, kita kerap menyaksikan dua kekuatan saling beradu. Yang bertabrakan bukan hanya peluru dan mesiu, melainkan juga ideologi, kepentingan, dan ambisi yang mengeras membatu. Satu mengatasnamakan kuasa, satu lagi mengatasnamakan perlawanan. Namun di tengah gemuruh itu, sering kali yang luput dari perhatian adalah tangis anak yatim, jerit para ibu, dan masa depan generasi yang terampas.

Peperangan selalu menyisakan debu, bukan hanya debu bangunan yang runtuh, tetapi juga debu kemanusiaan yang terkikis sedikit demi sedikit. Kita pun patut bertanya: apakah arti menjadi manusia, jika tangan hanya digunakan untuk menarik pelatuk senjata. Apa makna akal yang dianugerahkan Tuhan, jika ia hanya dipakai untuk merancang kehancuran sesama.

Jika demikian keadaannya, apa bedanya manusia dengan api yang melahap tanpa pandang bulu.

Sering kali kehancuran tidak datang dengan wajah menyeramkan. Ia hadir dengan jas rapi dan lencana kebesaran. Ia berbicara tentang kehormatan dan keamanan, namun menindas yang lemah seolah tak ada hari perhitungan. Itulah bisikan setan yang menyusup dalam kesombongan. Sebab setan tidak memerlukan tanduk untuk merusak dunia; cukup dengan hilangnya rasa iba dan padamnya cahaya cinta dalam dada manusia.

Setan bergerak atas dasar kesombongan (kibr) dan kehancuran. Manusia sejati bergerak atas dasar pengabdian dan pembangunan jiwa. Di situlah letak pembeda hakiki antara keduanya.

Ingatlah harga diri kita. Kemuliaan bukan terletak pada berapa banyak musuh yang mampu direbahkan, tetapi pada berapa banyak tangan yang dapat dirangkul dan diselamatkan. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak penakluk yang haus darah; dunia merindukan pendidik yang sabar, pemimpin yang adil, dan insan yang membawa hidayah.

Kekuatan sejati sebuah bangsa atau ideologi bukan pada kedahsyatan militernya, melainkan pada kemampuannya mencetak generasi yang berakhlak mulia. Pendidikan lebih abadi daripada penaklukan. Ilmu yang ditanamkan akan melahirkan peradaban, sedangkan kebencian yang dipupuk hanya akan mewariskan dendam.

Karena itu, cintailah Allah dengan mencintai ciptaan-Nya. Jangan biarkan kebencian mengaburkan cahaya di mata dan mengeraskan hati yang semestinya lembut. Kita semua hanyalah tamu di bumi ini, singgah sebentar sebelum kembali kepada Sang Khalik. Tidak perlu mengejar tepuk tangan manusia; cukup ridha-Nya yang menjadi tujuan.

Renungan ini bukan untuk mencari pujian, melainkan sebagai pengingat bahwa kita semua akan kembali kepada-Nya. Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah siapa yang menang atau siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang paling banyak menabur manfaat sebelum pulang.

Mari berhenti menjadi serigala bagi sesama. Kembalilah pada fitrah: pada kelembutan, pada kasih sayang, pada kemanusiaan yang suci. Semoga di tengah panasnya situasi dunia, hati kita tetap teduh, dan langkah kita tetap berpihak pada kedamaian.

Semoga tulisan sederhana ini mengetuk hati, menyalakan kembali cahaya nurani, dan menguatkan tekad kita untuk menjadi manusia, dalam arti yang sebenar-benarnya.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top