Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)
Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia
Puasa sering kali dipahami sebagai upaya menahan lapar dan dahaga. Namun, dimensi puasa yang jauh lebih menantang di era modern adalah menjaga lisan, terutama dalam bentuk tulisan di ruang digital. Bagi para pelajar dan pendidik, media sosial dan grup percakapan telah menjadi ruang kelas kedua. Oleh karena itu, integritas seorang pembelajar diuji dari bagaimana ia berinteraksi, berkomentar, dan menyebarkan informasi di balik layar gawai mereka.Islam memberikan panduan yang sangat ketat mengenai ucapan. Allah SWT berfirman dalam Surah Qaf ayat 18: "Tidak ada suatu kata pun yang terucap melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." Ayat ini merupakan pengingat bahwa setiap komentar, setiap status, dan setiap pesan yang kita kirimkan di ruang digital tidak akan hilang begitu saja. Semuanya tercatat dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Dalam konteks pendidikan, lisan yang tidak terjaga dapat merusak reputasi akademik dan menghancurkan ukhuwah yang telah dibangun.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam" (HR. Bukhari dan Muslim). Prinsip "berkata baik atau diam" adalah standar emas dalam literasi digital. Sebelum kita membagikan sebuah informasi atau memberikan komentar, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Dan apakah ini disampaikan dengan cara yang baik? Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka diam adalah pilihan yang lebih mulia.
Di bulan Ramadhan ini, menjaga lisan di ruang digital juga berarti menjauhi praktik ghibah elektronik, fitnah, dan perdebatan yang tidak berujung. Bagi dunia pendidikan, perdebatan ilmiah haruslah didasari pada data dan fakta, bukan pada ejekan atau upaya merendahkan martabat orang lain. Etika berkomunikasi yang buruk hanya akan menjauhkan keberkahan ilmu yang sedang kita tuntut.
Salah satu tantangan besar literasi digital adalah penyebaran berita bohong atau hoaks. Islam mengajarkan konsep tabayyun atau verifikasi. Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 agar kita meneliti kembali setiap kabar yang datang agar tidak mencelakakan orang lain karena kebodohan kita. Sebagai penuntut ilmu, kita memikul tanggung jawab moral untuk menjadi penyaring informasi, bukan justru menjadi saluran penyebaran kesesatan.
Pendidikan yang sejati melahirkan pribadi yang lisannya menyejukkan dan tulisannya mendamaikan. Mari kita hiasi ruang digital kita dengan cahaya ilmu dan kebaikan, sebagaimana kita menghiasi malam-malam Ramadhan dengan doa dan tilawah. Allah SWT mengingatkan tentang larangan mengolok-olok orang lain dan berprasangka buruk (QS. Al-Hujurat: 11-12). Rasulullah SAW juga mengingatkan: "Seorang Muslim adalah seseorang yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya" (HR. Bukhari).
Mari kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai ajang latihan untuk "puasa kata-kata" yang tidak bermanfaat. Gunakan jempol kita untuk menyebarkan inspirasi, memberikan apresiasi pada karya orang lain, dan menyebarkan ilmu yang mencerahkan. Dengan menjaga lisan dan tulisan di ruang digital, kita menunjukkan bahwa kita adalah pembelajar yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kedewasaan karakter yang tinggi.

0 facebook:
Post a Comment