Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan

Ramadhan telah berlalu bulan yang kehadirannya selalu dinanti, kepergiannya selalu dirindui. Tiada bulan sehangat Ramadhan, penghulu bulan yang di dalamnya tersimpan kemuliaan tiada banding, termasuk malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang dipertemukan dengannya, Allah angkat derajatnya dan limpahkan keberkahan dalam hidupnya.

Ramadhan menghadirkan suasana yang tak tergantikan. Bulan ampunan, saat doa-doa diijabah, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu, memberi ruang bagi manusia menundukkan hawa nafsu dan kembali ke jalan ketaatan. Ini momentum penyucian jiwa, saat Allah memberi kesempatan luas bagi hamba-Nya untuk memperbaiki diri dan menata kembali kehidupan dengan iman.

Semua itu menjadi tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dia membuka jalan taubat dan menjanjikan balasan yang pasti—surga bagi yang taat, dan peringatan bagi yang ingkar.

Dalam khutbah Idul Fitri di Masjid Baitul Qiran Darul Kamal, Teungku H. Edy Fitriadi, Sabtu (21/3/2026) menyampaikan  peringatan: ketika Ramadhan pergi, para malaikat dan langit bersedih. Kesedihan itu bukan tanpa sebab, tetapi karena manusia sering terjerumus dalam kelalaian setelahnya. Kesibukan yang tidak bernilai, perayaan yang berlebihan, hingga melalaikan ibadah yang seharusnya tetap dijaga.

Hari raya semestinya diisi dengan syukur, silaturahmi, dan penguatan iman. Namun, tidak sedikit yang justru menjadikannya ajang kelalaian. Shalat terabaikan, tilawah ditinggalkan, dan pergaulan yang melampaui batas mulai marak. Padahal, kebaikan tidak berhenti bersama berakhirnya Ramadhan. Ia harus terus hidup dalam setiap waktu dan keadaan.

Teungku Edy juga mengingatkan, di penghujung Ramadhan iblis pun “menangis”. Mereka kehilangan kesempatan menyesatkan orang-orang yang berhasil melewati madrasah Ramadhan. Dosa-dosa telah diampuni, terutama bagi yang menyempurnakannya dengan zakat fitrah, hingga jiwa kembali suci seperti bayi yang baru lahir.

Namun, kebahagiaan itu tidak membuat iblis berhenti. Mereka terus berusaha merusak dengan berbagai cara menanamkan iri, merusak silaturahmi, dan mengembalikan manusia pada dosa. Karena itu, kewaspadaan harus terus dijaga. Iman perlu dipelihara agar tidak memberi celah bagi godaan yang tak pernah berhenti.

Salah satu bentuk godaan yang nyata tampak dalam kehidupan sehari-hari, termasuk penggunaan media sosial tanpa kendali. Tidak sedikit yang terjebak dalam konten yang merendahkan martabat diri, mengabaikan tanggung jawab, dan menjauh dari nilai-nilai moral. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa menjaga kehormatan diri  bagian dari iman yang harus terus kita rawat.

Di hari yang fitri, Teungku Edy juga berpesan agar silaturahmi diperkuat, terutama kepada kedua orang tua. Kepedulian sosial harus ditumbuhkan dengan menyantuni anak yatim dan membantu fakir miskin. Mereka membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan uluran tangan. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan peduli.

Kepergian Ramadhan bukan akhir dari giatnya beribadah, melainkan awal dari keistiqamahan. Apakah nilai-nilai yang telah kita amalkan selama sebulan mampu kita jaga dalam sebelas bulan berikutnya.

Karena itu, mari tetap waspada terhadap bisikan setan dan terus memohon hidayah. Semoga kita termasuk hamba yang istiqamah dalam kebaikan, hingga Allah pertemukan kembali dengan Ramadhan dalam keadaan yang lebih baik.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top